Studi Komparatif Pemubaziran Pangan Rumah Tangga Wilayah Perkotaan dan Pedesaan di Kabupaten Bantul
Dwi Febriani, Prof. Dr. Ir. Irham, M.Sc.
2026 | Tesis | S2 Ekonomi Pertanian
Pemubaziran pangan rumah tangga merupakan salah satu penyumbang terbesar timbulan sampah yang berdampak pada aspek lingkungan, ekonomi, dan sosial. Penelitian ini bertujuan untuk: 1) membandingkan jumlah pemubaziran pangan rumah tangga wilayah perkotaan dan pedesaan di Kabupaten Bantul; 2) mengetahui tingkat kesadaran rumah tangga wilayah perkotaan dan pedesaan terhadap dampak pemubaziran pangan; dan 3) mengetahui pengaruh kesadaran dan faktor lainnya terhadap jumlah pemubaziran pangan rumah tangga wilayah perkotaan dan pedesaan di Kabupaten Bantul. Penelitian dilakukan di Kapanewon Banguntapan dan Kasihan sebagai representasi wilayah perkotaan, serta Kapanewon Srandakan dan Kretek sebagai representasi wilayah pedesaan yang dipilih secara sengaja. Survei dilakukan terhadap 120 rumah tangga menggunakan metode pelaporan mandiri dengan instrumen Household Food Waste Questionnaire (HFWQ) pada delapan jenis makanan yang paling dominan dikonsumsi. Pendekatan Social Practice Theory (SPT) digunakan sebagai kerangka konseptual dalam memahami faktor-faktor yang memengaruhi perilaku pemubaziran pangan rumah tangga. Analisis data meliputi uji beda Mann-Whitney U pada jumlah pemubaziran pangan dan tingkat kesadaran, serta regresi logistik biner yang diestimasi pada model perkotaan, pedesaan, dan gabungan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata jumlah pemubaziran pangan rumah tangga sebesar 8,33 kg/kapita/tahun, dengan wilayah pedesaan (9,43 kg/kapita/tahun) lebih tinggi dibandingkan perkotaan (7,29 kg/kapita/tahun), meskipun tidak berbeda signifikan secara statistik. Nasi merupakan jenis makanan yang paling banyak terbuang dengan sisa makanan sebagai kategori pembuangan paling dominan. Tingkat kesadaran rumah tangga perkotaan lebih tinggi (skor 4,42; kategori tinggi) dibandingkan pedesaan (skor 3,83; kategori sedang). Hasil regresi logistik biner menunjukkan bahwa di perkotaan, usia dan pendapatan per bulan meningkatkan peluang pemubaziran pangan di atas rata-rata, sedangkan keberadaan anak atau lansia, perilaku penyimpanan, dan kepemilikan kulkas menurunkannya. Di pedesaan, kepemilikan hewan ternak meningkatkan peluang tersebut, sedangkan perilaku penyimpanan menurunkannya. Temuan ini diharapkan menjadi dasar perumusan strategi intervensi pengurangan pemubaziran pangan yang tepat sasaran di tingkat rumah tangga Kabupaten Bantul.
Household food waste is a major contributor to solid waste generation, with significant environmental, economic, and social implications. This study aims to: 1) compare household food waste between urban and rural areas in Bantul Regency; 2) examine household awareness of food waste impacts in both areas; and 3) determine the influence of awareness and other factors on household food waste in urban and rural areas of Bantul Regency. The research was conducted in Banguntapan and Kasihan Districts (urban) and Srandakan and Kretek Districts (rural), selected purposively. A survey of 120 households was conducted using a self-reporting method with the Household Food Waste Questionnaire (HFWQ), covering eight commonly consumed food types. Social Practice Theory (SPT) served as the conceptual framework for understanding household food waste behavior. Data were analyzed using the Mann-Whitney U test for differences in food waste amount and awareness levels, and binary logistic regression for urban, rural, and combined models. Results show an average household food waste of 8.33 kg/capita/year, with rural areas (9.43 kg/capita/year) exceeding urban areas (7.29 kg/capita/year), though not statistically significant. Rice was the most wasted food type, with leftovers as the dominant disposal category. Urban households showed higher awareness (score 4.42; high) than rural households (score 3.83; moderate). Regression results indicate that in urban areas, age and income increased the likelihood of above-average food waste, while children/elderly presence, storage behavior, and refrigerator ownership decreased it. In rural areas, livestock ownership increased this likelihood, while storage behavior decreased it. These findings are expected to inform targeted intervention strategies to reduce household food waste in Bantul Regency.
Kata Kunci : Logistik Biner, Pedesaan, Pemubaziran Pangan, Perkotaan, Rumah Tangga