Laporkan Masalah

Evaluasi Implementasi Outbreak Response Difteri di Kabupaten Sleman Tahun 2025

Yulianty Febrina Leda Malo, dr. Vicka Oktaria,MPH,Ph.D ; dr. Risalia Reni Arisanti, MPH

2026 | Tesis | S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat

Latar Belakang: Difteri masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di Indonesia dengan Kejadian Luar Biasa (KLB) yang terus terjadi. Keberhasilan penanggulangan outbreak respons tidak hanya bergantung pada sistem surveilans, tetapi juga pada implementasi program dan komunikasi risiko. Penelitian ini mengintegrasikan ketiga aspek tersebut untuk memberikan pemahaman yang komprehensif mengenai penanggulangan outbreak difteri.
Metode: Penelitian ini menggunakan desain evaluatif dengan pendekatan mixed methods yang terdiri atas tiga substudi. Sub-studi pertama mengevaluasi implementasi program penanggulangan KLB difteri menggunakan desain mixed-method convergent. Sub-studi kedua mengevaluasi sistem surveilans difteri berdasarkan kerangka evaluasi WHO. Sub-studi ketiga menggunakan desain descriptive qualitative case series untuk menganalisis komunikasi risiko di Kota Yogyakarta, Kabupaten Sleman, dan Kabupaten Bantul menggunakan Risk Communication Evaluation (RICE) Framework
Hasil: Sistem surveilans telah mendukung deteksi dini, notifikasi, investigasi epidemiologi, dan respons kasus, namun analisis data, umpan balik, dan monitoring masih memerlukan penguatan. Implementasi program secara umum telah sesuai pedoman nasional, tetapi efektivitasnya dipengaruhi oleh kesiapan sumber daya, koordinasi lintas sektor, dan kemampuan adaptasi operasional. Komunikasi risiko dimulai sejak notifikasi kasus dengan strategi yang disesuaikan terhadap konteks lokal. Kepercayaan kepada petugas kesehatan, keterlibatan pemangku kepentingan, dan komunikasi yang adaptif meningkatkan penerimaan masyarakat terhadap intervensi, sedangkan rumor, stigma, dan keraguan terhadap imunisasi tetap menjadi tantangan.
Kesimpulan: Keberhasilan penanggulangan outbreak difteri merupakan hasil integrasi antara sistem surveilans yang menghasilkan informasi epidemiologi, implementasi program yang adaptif, dan komunikasi risiko yang membangun kepercayaan serta penerimaan masyarakat. Penguatan ketiga komponen tersebut perlu dilakukan secara terpadu untuk meningkatkan kesiapsiagaan dan respons terhadap penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi.

Background: Diphtheria remains a public health concern in Indonesia, with recurrent outbreaks reported across several regions. Effective outbreak response depends not only on surveillance capacity but also on program implementation and risk communication. This study integrated these three components to provide a comprehensive understanding of diphtheria outbreak response.

Methods: This study employed an evaluative design using a mixed-methods approach consisting of three substudies. The first substudy evaluated the implementation of the diphtheria response program using a convergent mixed-methods. The second substudy evaluated the diphtheria surveillance system using a quantitative descriptive. The third substudy used a descriptive qualitative case series design to explore risk communication in three diphtheria outbreak areas: Yogyakarta City, Sleman Regency, and Bantul Regency.

Results: The surveillance system effectively supported early detection, notification, epidemiological investigation, and case response, although data analysis, feedback, and monitoring require further strengthening. Program implementation generally followed national guidelines, but its effectiveness was influenced by resource readiness, multisectoral coordination, and operational adaptability. Risk communication was initiated immediately after case notification, with strategies tailored to local contexts. Trust in health workers, stakeholder engagement, and adaptive communication enhanced community acceptance of interventions, whereas rumors, social stigma, and vaccine hesitancy remained key challenges.

Conclusion: Effective diphtheria outbreak response requires the integration of surveillance, adaptive program implementation, and risk communication that strengthens public trust and community acceptance. Strengthening these interconnected components is essential to improve preparedness and response to vaccine-preventable disease outbreaks.


Kata Kunci : diphtheria, outbreak, surveillance, program evaluation, risk communication, outbreak response immunization.

  1. S2-2026-540759-abstract.pdf  
  2. S2-2026-540759-bibliography.pdf  
  3. S2-2026-540759-tableofcontent.pdf  
  4. S2-2026-540759-title.pdf