Islam Wetu Telu dalam pembentukan masyarakat Sasak :: Tinjauan filsafat sosial
ANSHORI, Zakaria, Prof.Dr. H. Lasiyo, MA.,MM
2005 | Tesis | S2 Ilmu FilsafatIslam Wetu Telu pada masyarakat Sasak Lombok adalah bentuk penghayatan khas lokalitas masyarakat Sasak tentang Islam. Penelitian tentang Islam Wetu Telu ini merupakan suatu upaya untuk menggali hazanah pemikiran lokalitas budaya bangsa. Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini, yakni pertama, mencari apa landasan filosofis Islam Wetu Telu? kedua, bagaimana pemikiran filsafat sosial Islam Wetu Telu? ketiga, bagaimana peran masing-masing individu dan masyarakat dalam filsafat sosial Islam Wetu Telu dikonsepsikan sehingga dapat menjaga keberlangsungan hidup komunitasnya? Penelitian ini merupakan penelitian pustaka dengan menggunakan pendekatan filsafat sosial sebagai objek formal, dan objek material, yakni semua pemikiran, pemahaman dan pemaknaan tentang Islam Wetu Telu yang pernah ditulis oleh para peneliti yang pernah melakukan penelitian tentang Islam Wetu Telu sebelumnya. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah hermeneutika filsafati dengan unsur-unsur metodis, deskriptif, komparasi dan refleksi. Hasil yang diperoleh dalam penelitian ini adalah pertama, Islam Wetu Telu memiliki falsafah hidup yang serba tiga dalam menafsirkan gejala alam dan kehidupan, seperti dalam menafsirkan semua makhluk hidup berkembang biak melalui tiga macam sistem reproduksi, yakni melahirkan (menganak), bertelur (menteluk/beteluk), dan dari benih dan buah (mentiuk/tewuk). Jadi dengan memilki falsafah hidup yang serba tiga, sehingga mereka disebut dengan Islam Wetu Telu. Kedua, pemikiran filsafat sosial Islam Wetu Telu tidak berpangkal pada paham individualisme melainkan pada paham kekeluargaan, karena Islam Wetu Telu adalah sebuah komunitas yang tumbuh dan berkembang di negara Indonesia yang memiliki pancasila sebagai asas negara. Ketiga, individu dan masyarakat dalam filsafat sosial Islam Wetu Telu dikonsepsikan sebagai satu kesatuan yang tidak terpisahkan. Masing-masing individu dan masyarakat dalam Islam Wetu Telu menjalankan perannya yakni dengan cara interaksi vertikal dan horizontal. Kedua bentuk interaksi ini berkembang secara dialektis dan dengan itu mereka mempola hubungan sosialnya dalam menjaga keberlangsungan hidup komunitas tetap terjaga. Dengan demikian, eksisnya Islam Wetu Telu pada masyarakat Sasak hingga sekarang, menjadikan dan membentuk masyarakat Sasak Lombok memiliki bentuk Islam yang bervarian.
Islam Wetu Telu in the Lombok’s Sasak society was form of the specificitylocality internalization of Sasak society of Islam. This research of the Islam Wetu Telu was an effort to revealed the thinking treasures of the nation culture locality. The aims of the research was, first, to discovered the basic of philosophy of the Islam Wetu Telu. Second, to pointed out the structure of social philosophy of the Islam Wetu Telu. Third, to showed the position of each individual and society in the Islam Wetu Telu that made possible the life continuity of community. The research was the library research in which used the social philosophy approach as formal object, and used all of the thinking, understanding, and explanation of the Islam Wetu Telu in which written by previously researchers as material object. The research used the philosophy of hermeneutics with description, comparison, and reflection as its elements. The result of the research was first, the Islam Wetu Telu had the life philosophy of the wholly three in giving interpretation of the nature and life phenomena, such as in giving interpretation of the growth of living being that insist of the three kinds of reproduction system, i.e. to bear (menganak), to lay (menteluk/beteluk), and to bear fruit (mentiuk/tewuk). Named the Islam Wetu Telu because they had the life philosophy of the wholly three. Second, the thought of social philosophy of the Islam Wetu Telu did not root in the individualism thought but rooted in the family thought, because the Islam Wetu Telu was a community that grew and moved in Indonesia in which had Pancasila as Nation principle. Third, individual and society in the social philosophy of the Islam Wetu Telu understood as unity. Each of the individual and society in the Islam Wetu Telu played their roles based on the vertically and horizontally interaction. Both of those interaction moved in dialectically and constituted the social relation in order to prevented the life continuity of community. In short, existence of the Islam Wetu Telu in the Sasak society up to now, created and constituted the pluralism of Islam in the society.
Kata Kunci : Filsafat Sosial,Islam Wetu Telu,Masyarakat Sasak Lombok, Islam Wetu Telu, social philosophy, familiarity, togetherness, vertical and horizontal interaction.