Implementasi Higiene Sanitasi pada Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Kuningan Jawa Barat
Diajeng Maulany Shobiroh, Prof. Dr. Ir. Nurliyani, MS., IPM; Dr. Daniel, M.Sc
2026 | Tesis | S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat
Latar Belakang: Program Makan Bergizi Gratis (MBG) merupakan program
strategis nasional yang memerlukan penerapan higiene sanitasi untuk menjamin
keamanan pangan bagi kelompok rentan. Meskipun Badan Gizi Nasional telah
menetapkan standar higiene sanitasi melalui persyaratan Sertifikat Laik Higiene
Sanitasi (SLHS), implementasinya pada Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG)
belum banyak dievaluasi. Tujuan: Penelitian ini bertujuan menganalisis
tingkat implementasi higiene sanitasi pada SPPG Program MBG di Kabupaten
Kuningan, mengeksplorasi perilaku pengelola dalam penerapannya, serta
mengidentifikasi faktor yang memengaruhi pemenuhan standar higiene sanitasi
tersebut. Metode: Penelitian menggunakan metode mixed methods
dengan desain sequential explanatory. Tahap kuantitatif menggunakan
desain deskriptif evaluatif melalui observasi terhadap 98 SPPG menggunakan
Instrumen IKL Jasa Boga Kemenkes RI. Tahap kualitatif menggunakan pendekatan
studi kasus melalui wawancara mendalam terhadap enam Kepala SPPG yang dipilih
secara purposive berdasarkan tiga skor IKL tertinggi dan tiga skor IKL
terendah. Data kualitatif dianalisis menggunakan analisis tematik berdasarkan
kerangka Knowledge, Attitude, and Practice (KAP), kemudian
diintegrasikan dengan hasil kuantitatif pada tahap pembahasan. Hasil:
Sebagian besar SPPG telah memenuhi persyaratan higiene sanitasi, dengan 95 dari
98 unit (96,9%) berstatus memenuhi syarat dan skor rata-rata 88,97%. Meskipun
demikian, 82 unit (83,7%) masih memiliki minimal satu skor kritis, menunjukkan
bahwa skor total belum sepenuhnya mencerminkan risiko keamanan pangan pada
titik-titik yang paling menentukan. Pengelola pada kelompok IKL tinggi maupun
rendah menunjukkan pengetahuan yang memadai dan sikap yang positif terhadap
higiene sanitasi, namun praktik menjadi dimensi yang paling membedakan capaian
keduanya, terutama pada konsistensi penggunaan alat pelindung diri dan
pengawasan internal. Implementasi higiene sanitasi lebih banyak dipengaruhi
oleh ketersediaan fasilitas, dukungan mitra penyelenggara, dinamika regulasi
pusat, dan fungsi pengawasan sanitasi yang belum merata, dibandingkan oleh
kapasitas pengetahuan dan sikap pengelola. Kesimpulan: Implementasi
higiene sanitasi pada SPPG di Kabupaten Kuningan secara umum telah memenuhi
standar, tetapi keberadaan skor kritis pada mayoritas unit menunjukkan perlunya
penguatan sistem pemantauan berbasis risiko, bukan hanya penilaian skor
kumulatif. Perbedaan implementasi antar-SPPG lebih dipengaruhi oleh faktor
sistem pendukung dibandingkan faktor individu, sehingga penguatan higiene
sanitasi Program MBG perlu diarahkan pada penyediaan fasilitas, penguatan
pengawasan sanitasi, koordinasi kebijakan antara Badan Gizi Nasional dan mitra
penyelenggara, serta pengembangan sistem pemantauan dini berbasis titik kritis.
Background: The Free Nutritious Meals Program (Program Makan
Bergizi Gratis [MBG]) is a national strategic initiative that requires proper
hygiene and sanitation practices to ensure food safety for vulnerable
populations. Although the National Nutrition Agency has established hygiene and
sanitation standards through the Hygiene and Sanitation Eligibility Certificate
(Sertifikat Laik Higiene Sanitasi [SLHS]), their implementation in Nutrition
Fulfillment Service Units (Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi [SPPG]) has received
limited evaluation. Objective: This study aimed to analyze the level of
hygiene and sanitation implementation in MBG SPPGs in Kuningan Regency, explore
managers' behaviour in its implementation, and identify factors influencing
compliance with hygiene and sanitation standards. Methods: This study
employed a mixed methods approach using a sequential explanatory design. The
quantitative phase applied a descriptive evaluative design through observation
of 98 SPPGs using the Environmental Health Inspection (EHI) Instrument for
Catering Services developed by the Indonesian Ministry of Health. The
qualitative phase adopted a case study approach through in-depth interviews
with six SPPG managers selected purposively based on the three highest and
three lowest EHI scores. Qualitative data were analyzed thematically using the
Knowledge, Attitude, and Practice (KAP) framework and subsequently integrated
with the quantitative findings during the discussion stage. Results: Most SPPGs met the required hygiene and sanitation
standards, with 95 of 98 SPPGs (96.9%) classified as compliant and a mean EHI
score of 88.97%. However, 82 units (83.7%) still had at least one critical
point, indicating that the total score did not fully reflect food safety risk
at the most determining points. Managers in both high- and low-scoring SPPGs
demonstrated adequate knowledge and positive attitudes toward hygiene and
sanitation; however, practice was the dimension that most distinguished the two
groups, particularly in the consistent use of personal protective equipment and
internal supervision. Implementation was more strongly influenced by facility
availability, partner support, central regulatory dynamics, and uneven
sanitation supervision than by managers' knowledge or attitudes. Conclusion:
Overall, hygiene and sanitation implementation in SPPGs in Kuningan Regency met
the established standards; however, the presence of critical points in most
units indicates the need to strengthen risk-based monitoring rather than
relying solely on cumulative scoring. Differences in implementation across
SPPGs were influenced more by supporting system factors than by individual
factors. Strengthening hygiene and sanitation implementation in the MBG Program
should therefore focus on ensuring adequate facilities, enhancing sanitation
supervision, strengthening policy coordination between the National Nutrition
Agency and implementing partners, and developing a critical-point-based early
monitoring system.
Kata Kunci : higiene sanitasi, keamanan pangan, Program Makan Bergizi Gratis, Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi, mixed methods.