Laporkan Masalah

Pendekatan kehutanan masyarakat :: Studi tentang pengelolaan hutan tanaman Kayu Putih di Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

PASKALIS, Laak, Dr. Suharko

2005 | Tesis | S2 Sosiologi

Luas hutan tanaman kayu putih di Propinsi Daerah IstimewaYogyakarta adalah 5.812,64 ha dan tersebar di tiga Kabupaten, yaitu di Kabupaten Kulon Progo seluas 269 ha, Kabupaten Bantul seluas 496 ha dan Kabupaten Gunung Kidul seluas 5.052,64 ha. Semua hutan tanaman kayu putih di Propinsi ini dikelola oleh Dinas Kehutanan dan Perkebunan. Pertanyaan pokok yang timbul dari pengelolaan hutan tanaman kayu putih semacam itu ialah bagaimana penerapan kehutanan masyarakat di dalam pengelolaan hutan tanaman kayu putih di Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta tersebut?, bagaimana proses pergeseran pendekatan dari kehutanan negara ke kehutanan masyarakat di dalam pengelolaan hutan tanaman kayu putih?, seberapa jauh keterlibatan masyarakat sekitar hutan (petani pesanggem) dalam pengelolaan hutan tanaman kayu putih itu?, dan sejauh mana petani pesanggem memperoleh manfaat dari pengelolaan hutan tanaman kayu putih tersebut?. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui penerapan kehutanan masyarakat di dalam pengelolaan hutan tanaman kayu putih di Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, untuk mengetahui keterlibatan masyarakat sekitar hutan (petani pesanggem) dalam pengelolaan hutan tanaman kayu putih, dan untuk mengetahui manfaat yang diperoleh petani pesanggem dari model pengelolaan hutan tanaman kayu putih terebut. Metode yang digunakan di dalam penelitian ini adalah metode kualitatif. Data primer diperoleh lewat wawancara, baik yang terstruktur maupun yang tidak terstruktur. Data sekunder diperoleh lewat studi pustaka. Hasil yang diperoleh dari pembahasan penelitian ini adalah pengelolaan hutan tanaman kayu putih yang dilakukan oleh Dinas Kehutanan dan Perkebunan bersama dengan masyarakat petani pesanggem di Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta masih mempergunakan pola pendekatan kehutanan negara, dan belum mengarah sama sekali kepada pola pendekatan kehutanan masyarakat. Keterlibatan masyarakat sekitar hutan (petani pesanggem) dalam pengelolaan hutan tanaman kayu putih ini hanya sekadar sebagai tenaga buruh kontrak yang menjalankan tugasnya seperti apa yang diinstruksikan oleh Dinas Kehutanan dan Perkebunan. Hasil yang diperoleh petani pesanggem dari pengelolaan hutan tanaman kayu itu adalah upah per hari per orang sekitar Rp.6000,- dan tanaman tumpangsari. Pengelolaan hutan tanaman kayu putih semacam ini masih belum berpihak kepada mensejahterakan masyarakat petani pesanggem, sehingga harapan bahwa hutan tanaman kayu putih untuk masyarakat petani pesanggem sebagaimana diamanatkan oleh pola pendekatan kehutanan masyarakatat masih semu belaka.

This research is designed and aimed to know the evolvement of the community of petani pesanggem around the "kayu putih" or it is known as melaleuca leucadendrum forestry. This research is olso aimed to know the model used to run this activity and the utility gains from this effort. Based on the secondary data, it is described that the population of the kayu putih forest in DIY province is 5.812,64 ha, scattered in 3 districts where as : Kulon Progo (269 ha), Bantul (496ha), and GunungKidul (5.052,64ha). This research is characterized as a "case study" with the descriptive qualitative and quantitative data, adopted the natural resources and sociology theories, etc. The research is conducted through the way of observation, as; in depth interview, involved 30 respondents, and used interview to fill out the questionnaire. The methods of the data analysis include percentage, and finally to find out the social correlation between the decision maker and the "petani pesanggem"in their activities. The result of this research indicates that the effort of kayu putih forest in DIY province adopted the model of the government approach, which is not referred to the community of "petani pesanggem kayu putih" forest approach. By this research it is hope that the skill of the community of petani pesanggem be achieved based on the model of the Community Based Resource Management (CBRM), in orde to capture the welfare of society and to upgrade the dignity of human right.

Kata Kunci : Kehutanan Masyarakat,Pengelolaan,Hutan Kayu Putih, Forest for People, Community based


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.