Constructing Gender in Gender-Based Violence Response: A Case Study of Men's Involvement at Rifka Annisa Women's Crisis Center
Nusaibah Edi Nugraha, Prof. Dr.-Phil. Janianton Damanik, M.Si.
2026 | Tesis | S2 PEMBANGUNAN SOSIAL DAN KESEJAHTERAAN
Kekerasan berbasis gender (KBG) masih menjadi persoalan di Indonesia sehingga diperlukan strategi pencegahan yang mengatasi norma gender, relasi kuasa, dan konstruksi maskulinitas yang berkaitan dengan kekerasan. Penelitian ini mengkaji bagaimana laki-laki yang pernah bekerja atau menjadi relawan di Rifka Annisa Women’s Crisis Center memaknai pelibatan laki-laki dalam pencegahan KBG dan perubahan persepsi dan perilaku terkait keterlibatan tersebut. Menggunakan desain studi kasus kualitatif, penelitian ini menggunakan wawancara mendalam semi-terstruktur dengan delapan informan: enam laki-laki berpengalaman sebagai staf atau relawan dan dua praktisi perempuan dengan perspektif organisasional dan historis. Data dianalisis manual menggunakan analisis tematik refleksif dan diinterpretasikan melalui kerangka terpadu gabungan Kerangka Ekologis, teori maskulinitas, dan Teori Strukturasi. Temuan menunjukkan bahwa pelibatan laki-laki dipahami sebagai strategi komplementer yang berpusat pada penyintas, bukan sebagai pengganti pemberdayaan perempuan atau layanan bagi penyintas. Pelibatan menuntut laki-laki untuk memeriksa posisi sosialnya kritis, mempertanyakan norma maskulinitas dominan, menentang sikap diam terhadap kekerasan, dan bertanggung jawab mengubah relasi gender timpang. Rifka Annisa mendukung proses ini melalui pembelajaran reflektif, konseling, pelibatan komunitas, advokasi, dan praktik organisasional. Informan melaporkan perubahan dalam pemahaman mengenai maskulinitas, komunikasi, ekspresi emosi, pengelolaan konflik, pengasuhan, hubungan intim, dan praktik profesional. Meskipun demikian, perubahan tersebut berlangsung secara bertahap, tidak merata, dan belum selesai. Penelitian ini menyimpulkan bahwa pelibatan laki-laki yang bermakna terbentuk melalui interaksi berkelanjutan antara refleksi personal, praktik sehari-hari, hubungan yang mendukung, lingkungan organisasi, dan struktur sosial. Oleh karena itu, inisiatif pelibatan laki-laki harus tetap akuntabel kepada perempuan, menempatkan keselamatan dan hak penyintas sebagai pusat, serta menyediakan ruang berkelanjutan untuk mempraktikkan relasi yang adil gender dan nir-kekerasan.
Gender-based violence (GBV) remains a persistent problem in Indonesia, requiring prevention strategies that address gender norms, power relations, and constructions of masculinity associated with violence. This study examines how men with prior experience as staff members or volunteers at Rifka Annisa Women’s Crisis Center perceive men’s involvement in GBV prevention and explores the perceptual and behavioral changes associated with their participation. Employing a qualitative case-study design, the study draws on semi-structured, in-depth interviews with eight informants: six men experienced as staff members or volunteers and two female practitioners who provided organizational perspectives. Data were manually analyzed using reflexive thematic analysis and interpreted through an integrated framework combining the Ecological Framework, masculinities theory, and Structuration Theory. Findings show that men’s involvement was understood as a complementary, survivor-centered strategy rather than a replacement for women’s empowerment or survivor services. It requires men to examine their social positions, question dominant masculine norms, challenge men’s silence regarding violence, and assume responsibility for transforming unequal gender relations. Rifka Annisa supported this process through reflective learning, counseling, community engagement, advocacy, and organizational practices. Informants reported changes in their understandings of masculinity, communication, emotional expression, conflict management, caregiving, intimate relationships, parenting, and professional practices. Nevertheless, these changes were gradual, uneven, and unfinished. The study concludes that meaningful male involvement develops through continuing interaction among personal reflection, practice, supportive relationships, organizational environments, and broader social structures. Male-engagement initiatives must therefore remain accountable to women, center survivors’ safety and rights, and provide sustained opportunities for men to practice gender-equitable and non-violent relationships.
Kata Kunci : gender-based violence; gender-based violence prevention; male involvement; masculinities; Rifka Annisa