Laporkan Masalah

Hubungan Tingkat Pemberdayaan Perempuan dengan Kejadian BBLR di Kapanewon Berbah Kabupaten Sleman

FAKHRI ANANTA NUGRAHA, Mutiara T P L Kusuma, Ph.D.; Digna Niken Purwaningrum, MPH., Ph.D.

2026 | Skripsi | GIZI KESEHATAN

Latar Belakang: Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) merupakan tantangan kesehatan global dan indikator kualitas sumber daya manusia yang berkontribusi terhadap morbiditas serta mortalitas neonatal, dengan prevalensi di Kapanewon Berbah mencapai 12,3% pada tahun 2023. Rendahnya pemberdayaan perempuan diidentifikasi sebagai faktor yang berkaitan dengan malnutrisi maternal dan keterbatasan akses pelayanan kesehatan. Penelitian ini menjawab apakah tingkat pemberdayaan perempuan berhubungan dengan kejadian BBLR. 

Tujuan: Mengetahui hubungan tingkat pemberdayaan perempuan dengan kejadian BBLR di Kapanewon Berbah, Kabupaten Sleman.

Metode: Penelitian kuantitatif observasional analitik dengan rancangan cross-sectional ini dilaksanakan di wilayah kerja Puskesmas Berbah pada Februari–Juni 2026. Sampel sebanyak 92 ibu melahirkan periode 2023–2025 dipilih menggunakan teknik convenience sampling dengan menerapkan kriteria inklusi kepemilikan Buku KIA lengkap, serta mengeksklusi kehamilan kembar, kelahiran prematur, kelainan kongenital, dan penyakit penyerta kronis. Pengumpulan data primer dilakukan menggunakan kuesioner Women’s Empowerment Index (WEI) dan data sekunder dari Buku KIA. Analisis data bivariat diuji menggunakan Fisher's Exact dan Chi-Square (?=0,05).

Hasil: Mayoritas responden berada pada kategori tingkat pemberdayaan tinggi (91,3%). Proporsi kejadian BBLR pada kategori tingkat pemberdayaan rendah-sedang sebesar 37,5% (n=3) dan pada kategori tinggi sebesar 23,8% (n=20). Uji statistik menunjukkan tidak terdapat hubungan yang bermakna secara statistik antara tingkat pemberdayaan perempuan (nilai-p=0,408), usia ibu (nilai-p=0,341), status anemia (nilai-p=0,506), status KEK (nilai-p=0,730), riwayat kunjungan ANC (nilai-p=0,206), kepatuhan TTD (nilai-p=1,000), status pekerjaan (nilai-p=0,398), dan urutan kelahiran anak (nilai-p=0,390) dengan kejadian BBLR.

Kesimpulan: Tidak terdapat hubungan yang bermakna secara statistik antara tingkat pemberdayaan perempuan maupun variabel lainnya dengan kejadian BBLR pada responden penelitian.

Background: Low Birth Weight (LBW) is a global health challenge and an indicator of human resource quality that significantly contributes to neonatal morbidity and mortality, with the prevalence in Berbah District reaching 12.3% in 2023. Low levels of women's empowerment have been identified as a contributing factor to maternal malnutrition and limited access to healthcare services. This study examines whether women's empowerment levels are correlated with the incidence of LBW.

Objective: To determine the correlation between women's empowerment levels and the incidence of LBW in Berbah District, Sleman Regency.

Methods: This analytical observational quantitative study with a cross-sectional design was conducted in the working area of Puskesmas Berbah from February to June 2026. A sample of 92 postpartum mothers from the 2023–2025 period was selected using a convenience sampling technique. Inclusion criteria required complete KIA handbook records, while multiple gestations, preterm births, congenital anomalies, and chronic comorbidities were excluded. Primary data were collected using the Women’s Empowerment Index (WEI) questionnaire, supplemented by secondary data from the KIA handbook. Bivariate data analysis was performed using Fisher's Exact and Chi-Square tests (?=0,05).

Results: The majority of respondents were categorized as having a high level of empowerment (91.3%). The proportion of LBW incidence among the low to moderate empowerment category was 37.5% (n=3), compared to 23.8% (n=20) in the high empowerment category. Statistical analysis demonstrated no statistically significant association between the incidence of LBW and women's empowerment levels (p-value=0.408), maternal age (p-value=0.341), anemia status (p-value=0.506), chronic energy deficiency status (p-value=0.730), ANC visit history (p-value=0.206), iron supplement adherence (p-value=1.000), employment status (p-value=0.398), or birth order (p-value=0.390).

Conclusion: There is no statistically significant correlation between women's empowerment levels or other examined variables and the incidence of LBW among the study respondents.

Kata Kunci : BBLR, Kesehatan Ibu dan Anak, Pemberdayaan Perempuan

  1. S1-2026-458801-abstract.pdf  
  2. S1-2026-458801-bibliography.pdf  
  3. S1-2026-458801-tableofcontent.pdf  
  4. S1-2026-458801-title.pdf