Analisis Niat Pelaku Usaha Furnitur Kayu di Kabupaten Jepara untuk Memiliki Sertifikasi Sistem Verifikasi Legalitas dan Kelestarian (SVLK)
Saffana Sajjadiya, Prof. Drs. B.M. Purwanto, M.B.A., Ph.D
2026 | Tesis | S2 Manajemen
Industri furnitur kayu di Indonesia memiliki potensi pasar yang terus tumbuh signifikan dengan nilai yang diestimasikan naik dari USD 9,1 miliar pada 2025 menuju USD 15,2 miliar pada 2034. Di tengah potensi tersebut, tuntutan legalitas dan keberlanjutan bahan baku kayu semakin ketat, sehingga pemerintah Indonesia menerbitkan Sistem Verifikasi Legalitas dan Kelestarian (SVLK) sebagai jaminan legalitas kayu yang diperdagangkan. Namun, tingkat kepemilikan sertifikasi SVLK di Kabupaten Jepara masih tergolong rendah, sedangkan wilayah ini merupakan salah satu sentra furnitur kayu terbesar di Indonesia. Penelitian ini disusun untuk mengkaji sejauh mana sikap, norma subjektif, dan Kontrol Perilaku yang Dipersepsikan memengaruhi niat pelaku usaha furnitur kayu di Kabupaten Jepara untuk memiliki sertifikasi SVLK, sekaligus menyusun prioritas kebijakan atas dasar temuan tersebut dengan kerangka Theory of Planned Behavior (TPB). Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dan desain penelitian bersifat eksplanatif. Data dikumpulkan melalui survei terhadap 110 responden pelaku usaha furnitur kayu di Kabupaten Jepara yang dipilih melalui teknik purposive sampling, kemudian dianalisis menggunakan Partial Least Squares Structural Equation Modeling (PLS-SEM) dengan bantuan perangkat lunak SmartPLS 4. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sikap tidak berpengaruh signifikan terhadap niat (? = 0,155; p = 0,116), sedangkan norma subjektif (? = 0,298; p = 0,003) dan Kontrol Perilaku yang Dipersepsikan (? = 0,485; p = 0,000) berpengaruh signifikan terhadap niat, dengan Kontrol Perilaku yang Dipersepsikan sebagai prediktor terkuat namun memiliki tingkat kinerja terendah berdasarkan temuan Importance Performance Map Analysis (IPMA). Hal tersebut menjadi prioritas utama dalam upaya mendorong kepemilikan SVLK di Kabupaten Jepara.
The wooden furniture industry in Indonesia has significant and continuously growing market potential, with market value expected to climb from USD 9.1 billion in 2025 to USD 15.2 billion by 2034. Amid this potential, demands for the legality and sustainability of wood raw materials have become increasingly stringent, prompting the Indonesian government to issue the Timber Legality and Sustainability Assurance System (Sistem Verifikasi Legalitas dan Kelestarian/SVLK) to certify the legal origin of traded wood. Even so, the level of SVLK certification ownership in Jepara Regency remains relatively low, despite the region being one of the largest wooden furniture centers in Indonesia. This research examines how attitude, subjective norm, and perceived behavioral control shape the intention of wooden furniture business actors in Jepara Regency to pursue SVLK certification, and establishes intervention priorities from those findings within a Theory of Planned Behavior (TPB) framework. A quantitative approach with an explanatory design was adopted, drawing on survey from 110 wooden furniture business actors in Jepara Regency chosen through purposive sampling, then analyzed via Partial Least Squares Structural Equation Modeling (PLS-SEM) using SmartPLS 4 software. Findings indicate that attitude has no significant bearing on intention (? = 0.155; p = 0.116), while subjective norm (? = 0.298; p = 0.003) and perceived behavioral (? = 0.485; p = 0.000) both exert significant effects on intention, with the latter emerging as the strongest predictor despite recording the weakest performance score in the Importance-Performance Map Analysis (IPMA), positioning it as the foremost priority for efforts to encourage SVLK ownership in Jepara Regency.
Kata Kunci : SVLK, Theory of Planned Behavior, niat, industri furnitur, Jepara