Laporkan Masalah

Model Mobilitas Penduduk Di Kawasan Destinasi Pariwisata Super Prioritas (Dpsp) Labuan Bajo Kabupaten Manggarai Barat Provinsi Nusa Tenggara Timur

Natalia Adel Hando Nderu Mari, Prof. Dr. Sri Giyarsih, S.Si., M.Si.

2026 | Disertasi | S3 Kependudukan

Kajian mobilitas penduduk di kawasan pariwisata umumnya mengacu pada model migrasi konvensional untuk konteks daratan kontinental, seperti push-pull klasik, center-periphery (Friedmann, 1966), dan mobility transition (Zelinsky, 1971), dengan motif ekonomi sebagai determinan utama. Model-model tersebut belum memadai menjelaskan mobilitas penduduk di destinasi pariwisata superprioritas berciri kepulauan, yang dibentuk oleh fragmentasi ruang laut, keterbatasan aksesibilitas antarpulau, dan keragaman etnis dengan strategi penghidupan maritim. Kesenjangan pengetahuan inilah yang menjadi titik tolak penelitian ini Tujuan penelitian ini terdiri atas empat, yaitu mengkaji dinamika mobilitas penduduk di Kabupaten Manggarai Barat, menganalisis motif mobilitas penduduk di kawasan DPSP Labuan Bajo, mengkaji pola mobilitas penduduk, dan menyusun

model mobilitas penduduk di kawasan DPSP Labuan Bajo. Untuk menjawab tujuan tersebut, penelitian menggunakan pendekatan kombinasi (mixed method) antara desain kuantitatif dan kualitatif. Analisis data dilakukan secara spasial, kuantitatif, dan kualitatif.

Hasil penelitian menunjukkan: 1) mobilitas penduduk Manggarai Barat telah berlangsung jauh sebelum penetapan DPSP dengan tujuan terbatas pada urusan sosial-budaya dan intensitas rendah, lalu meningkat signifikan dengan tujuan lebih variatif setelah penetapan DPSP; 2) faktor individu menjadi penentu utama motif mobilitas, disusul faktor penghambat dan penarik ketenagakerjaan; 3) pola mobilitas terdiferensiasi antarwaktu dan antarzona, dari berbasis etnis dan ekonomi primer sebelum DPSP menjadi berintensitas tinggi dengan tujuan pariwisataekonomi sesudah DPSP; 4) berdasarkan sintesis pola-pola tersebut, disusun model mobilitas yang mengarahkan peningkatan keterlibatan penduduk lokal di Kawasan daratan dan kepulauan agar perkembangan pariwisata Labuan bajo dinikmati oleh penduduk lokal. Kebaruan penelitian ini mencakup tiga hal. Pertama, mengisi kesenjangan literatur global mobilitas penduduk yang selama ini didominasi kasus kontinental, dengan bukti empiris dari kawasan kepulauan berstatus destinasi pariwisata superprioritas yang multietnis. Kedua, membuktikan motif mobilitas bersifat multifactor dan saling berinteraksi, melampaui model motif ekonomi tunggal pada studi

kependudukan klasik. Ketiga, kontribusi teoritis utama penelitian ini adalah model mobilitas adaptif yang mengintegrasikan center-periphery model (Friedmann, 1966) dan mobility transition model (Zelinsky, 1971) dengan menambahkan dimensi fragmentasi spasial maritim dan diferensiasi etnis, sebagai penyesuaian konseptual untuk konteks kepulauan yang belum diakomodasi sebelumnya. Penelitian ini berkontribusi pada pengembangan ilmu kependudukan, khususnya kajian mobilitas berbasis kepulauan dan pariwisata premium.

Studies of population mobility in tourism areas have generally drawn on conventional migration models developed for continental mainland contexts, such as the classical push-pull framework, the center-periphery model. These models are inadequate to explain population mobility in archipelagic super-priority tourism destinations, which are shaped by the fragmentation of maritime space, limited inter-island accessibility, and ethnic diversity coupled with maritime livelihood strategies. This knowledge gap constitutes the point of departure for the present study. This study pursues four objectives: to examine the dynamics of population mobility in West Manggarai Regency, to analyze the motives underlying population mobility in the Labuan Bajo Super-Priority Tourism Destination (DPSP) area, to examine patterns of population mobility, and to develop a model of population mobility in the Labuan Bajo DPSP area. To address these objectives, the study employed a mixed-methods approach combining quantitative and qualitative designs, with data analyzed spatially, quantitatively, and qualitatively.

The results show that: (1) population mobility in West Manggarai had already been occurring long before the designation of the DPSP, with purposes limited to sociocultural affairs and low intensity, and increased significantly with more varied purposes following the DPSP designation; (2) individual factors were the primary determinants of mobility motives, followed by employment-related push and pull factors; (3) mobility patterns were differentiated across time and zones, shifting from ethnicity- and primaryeconomy-based patterns before the DPSP to high-intensity patterns driven by tourismeconomic purposes afterward; and (4) based on a synthesis of these patterns, a mobility model was developed to direct increased involvement of the local population in both mainland and island areas, so that the development of tourism in Labuan Bajo may be enjoyed by the local population. The novelty of this study lies in three contributions. First, it fills a gap in the global population mobility literature, which has thus far been dominated by continental cases, by providing empirical evidence from a multi-ethnic, archipelagic, super-priority tourism destination. Second, it demonstrates that mobility motives are multifactorial and interactive, extending beyond the single-economic-motive model found in classical demographic studies. Third, the study's principal theoretical contribution is an adaptive mobility model that integrates the center-periphery model (Friedmann, 1966) and the mobility transition model (Zelinsky, 1971) by incorporating the dimensions of maritime spatial fragmentation and ethnic differentiation, as a conceptual adjustment for archipelagic contexts not previously accommodated. This study contributes to the development of population studies, particularly island-based mobility research within the context of premium tourism.

Kata Kunci : mobilitas penduduk, kawasan kepulauan, pariwisata premium, model mobilitas adaptif, DPSP Labuan Bajo,population mobility, archipelagic region, premium tourism, adaptive mobility model, Labuan Bajo DPSP

  1. S3-2026-501252-abstract.pdf  
  2. S3-2026-501252-bibliography.pdf  
  3. S3-2026-501252-tableofcontent.pdf  
  4. S3-2026-501252-title.pdf