Laporkan Masalah

Apakah Pergerakan Harga Saham Perbankan Indonesia Bersifat Rasional? Analisis Tren Harga Saham Perbankan Berbasis Fundamental Periode (2016-2025)

Windy Jufri Febrita, Kusdhianto Setiawan, Sivilokonom.,Ph.D.

2026 | Tesis | S2 Manajemen

Penelitian ini menginvestigasi apakah kenaikan harga saham sektor perbankan Indonesia selama periode 2016-2025 masih dapat dijelaskan oleh kondisi fundamental bank, atau justru mengindikasikan adanya pemisah (decoupling) antara valuasi pasar dan fundamental yang berpotensi mencerminkan komponen spekulatif. Isu ini relevan karena lonjakan valuasi saham bank-bank besar yang bersifat super-eksponensial tidak sejalan dengan pertumbuhan fundamental yang cenderung moderat. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif eksplanatori dengan data sekunder dari 21 bank yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia, mencakup harga saham harian dan fundamental kuartalan (ROE, NIM, CAR, dan NPL Net) periode Januari 2016 hingga Desember 2025. Analisis dilakukan dalam dua tahap, yaitu pembentukan variabel tren harga saham kuartalan melalui estimasi koefisien tren model Augmented Dickey-Fuller (ADF) berbasis data harian, kemudian pengujian keterkaitannya dengan fundamental melalui uji beda Satterthwaite-Welch dan regresi data panel dengan Period Fixed Effect. Uji stasioneritas menunjukkan bahwa harga saham konsisten dengan pola random walk. Uji beda menemukan hanya NIM yang berbeda signifkan antar kelompok tren positif dan negatif, sedangkan ROE, CAR, dan NPL Net tidak. Regresi panel menunjukkan perubahan fundamental tidak berpengaruh signifikan terhadap tren harga, dengan daya jelas fundamental hanya sekitar 0,4%. Temuan ini mengindikasikan bahwa kenaikan harga saham perbankan Indonesia tidak berpijak pada fundamental dan terindikasi mengandung komponen gelembung, sehingga tidak mendukung teori Efficient Market Hypothesis serta memperkuat relevansi kerangka Behavioral Finance dalam menjelaskan dinamika harga saham perbankan di pasar negara berkembang.

This study investigates whether the appreciation of Indonesian banking stock Prices over the 2016-2025 periode can still be expanded by bank fundamentals, org whether  it instead indicates a decoupling between market valuation and fundamentals that may reflect a speculative component. The issues is pertinent because the super-exponential surge in the valuations of  their fundamentals. This research employs a quantitative explanatory approach using secondary data from 21 banks listed on the Indonesia Stock Exchange, comprising daily stock prices and quarterly fundamentals (ROE, NIM, CAR, Net NPL) from January 2016- Desember 2025. The analysis is conducted in two stages, constructing a quarterly stock-price tren variable through the tren coefficient of an Augmented Dickey-Fuller (ADF) model estimate from daily data, and then examining its relationships with fundamentals using the Satterthwaite-Welch  mean-difference test and panel data regression with Periode Fixed Effect. The stationary test indicate that stock price are consistent with a random walk. The mean-difference test finds that only NIM differs significantly between the positive and negative tren groups, whereas ROE, CAR, Net NPL do not. The panel regression shows that changes in fundamentals have no significant effect on the price tren, with an explanatory power of only about 0,4%. These findings indicate that the appreciation of Indonesian banking stocks is not grounded in fundamentals and is indicated to contain a bubble component, thereby failing to support the Efficient Market Hypothesis while reinforcing the relevance of behavioral finance framework in explaining banking stock price dynamics in an emerging market. 


Kata Kunci : tren harga saham, fundamental perbankan, gelembung spekulatif, random walk, decoupling, regresi data panel, behavioral finance

  1. S2-2026-551896-abstract.pdf  
  2. S2-2026-551896-bibliography.pdf  
  3. S2-2026-551896-tableofcontent.pdf  
  4. S2-2026-551896-title.pdf