Analisis Stabilitas Lereng Berdasarkan Tinjauan Infiltrasi Air Hujan dan Faktor Geologi Lokal (Studi Kasus : Preservasi Ruas Jalan Nasional Penghubung Kabupaten Enrekang dan Kabupaten Tana Toraja)
Deyva Anggita, Dr. Eng. Fikri Faris, S.T., M.Eng
2026 | Tesis | S2 Teknik Sipil
Longsor
pada lereng jalan merupakan salah satu permasalahan geoteknik yang dipengaruhi
oleh interaksi antara kondisi geologi lokal, karakteristik tanah, topografi,
dan infiltrasi air hujan. Pada daerah beriklim tropis dengan curah hujan
tinggi, infiltrasi air hujan meningkatkan tekanan air pori sehingga menurunkan
tegangan efektif dan kuat geser tanah yang berdampak pada penurunan stabilitas
lereng. Kondisi tersebut terjadi pada ruas Jalan Nasional penghubung Kabupaten
Enrekang dan Kabupaten Tana Toraja yang mengalami longsor berulang dan
mengganggu fungsi pelayanan jalan. Penelitian ini bertujuan menganalisis
stabilitas lereng berdasarkan infiltrasi air hujan dan faktor geologi lokal serta
memvalidasi mekanisme longsoran yang telah terjadi melalui pendekatan geologi,
geoteknik, dan pemodelan numerik.
Penelitian
dilakukan melalui observasi lapangan, investigasi geologi dan geoteknik, serta
pengumpulan data sekunder berupa data curah hujan, data pengeboran tanah, hasil
uji Standard Penetration Test (SPT), survei geolistrik, dan pengujian
laboratorium. Karakteristik tanah tak jenuh dianalisis menggunakan Soil
Water Characteristic Curve (SWCC), sedangkan infiltrasi air hujan dihitung
dengan metode Green-Ampt pada tiga skenario curah hujan, yaitu hujan ringan,
hujan normal, dan hujan sangat lebat. Selanjutnya dilakukan pemodelan rembesan
menggunakan SEEP/W dan analisis stabilitas lereng menggunakan SLOPE/W
dengan pendekatan Limit Equilibrium Method (LEM). Rekahan dan kondisi
tanah lempung digunakan sebagai interpretasi kondisi lapangan dan tidak
dimodelkan secara eksplisit.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa lokasi penelitian didominasi oleh tanah lempung plastisitas tinggi dengan permeabilitas rendah yang berkembang di atas batuan lapuk sehingga rentan terhadap perubahan kondisi hidrologi. Analisis SWCC dan Green-Ampt menunjukkan bahwa karakteristik hidraulik tanah memengaruhi kapasitas infiltrasi, sedangkan pemodelan SEEP/W memperlihatkan peningkatan tekanan air pori yang menyebabkan penurunan tegangan efektif tanah. Analisis SLOPE/W menghasilkan nilai faktor keamanan minimum sebesar 1,08 yang menunjukkan lereng berada pada kondisi kritis. Variasi intensitas hujan menghasilkan perubahan faktor keamanan dan kedalaman bidang gelincir yang relatif kecil, sedangkan karakteristik geologi lokal, permeabilitas tanah, dan kemiringan lereng memberikan pengaruh yang lebih dominan terhadap ketidakstabilan lereng. Berdasarkan hasil observasi lapangan dan analisis numerik, mekanisme longsoran pada lokasi penelitian cenderung berupa longsoran translasional. Penelitian ini menunjukkan bahwa ketidakstabilan lereng merupakan hasil interaksi antara infiltrasi air hujan, karakteristik hidraulik tanah tak jenuh, kondisi geologi lokal, dan geometri lereng. Integrasi analisis SWCC, Green-Ampt, SEEP/W, dan SLOPE/W mampu memberikan pemahaman yang lebih menyeluruh mengenai mekanisme longsoran serta menjadi dasar dalam perencanaan sistem drainase, perkuatan lereng, dan upaya mitigasi pada ruas jalan dengan karakteristik geologi yang serupa.
Longsor pada lereng jalan merupakan salah satu permasalahan geoteknik yang dipengaruhi oleh interaksi antara kondisi geologi lokal, karakteristik tanah, topografi, dan infiltrasi air hujan. Pada daerah beriklim tropis dengan curah hujan tinggi, infiltrasi air hujan meningkatkan tekanan air pori sehingga menurunkan tegangan efektif dan kuat geser tanah yang berdampak pada penurunan stabilitas lereng. Kondisi tersebut terjadi pada ruas Jalan Nasional penghubung Kabupaten Enrekang dan Kabupaten Tana Toraja yang mengalami longsor berulang dan mengganggu fungsi pelayanan jalan. Penelitian ini bertujuan menganalisis stabilitas lereng berdasarkan infiltrasi air hujan dan faktor geologi lokal serta memvalidasi mekanisme longsoran yang telah terjadi melalui pendekatan geologi, geoteknik, dan pemodelan numerik.
Penelitian dilakukan melalui observasi lapangan, investigasi geologi dan geoteknik, serta pengumpulan data sekunder berupa data curah hujan, data pengeboran tanah, hasil uji Standard Penetration Test (SPT), survei geolistrik, dan pengujian laboratorium. Karakteristik tanah tak jenuh dianalisis menggunakan Soil Water Characteristic Curve (SWCC), sedangkan infiltrasi air hujan dihitung dengan metode Green-Ampt pada tiga skenario curah hujan, yaitu hujan ringan, hujan normal, dan hujan sangat lebat. Selanjutnya dilakukan pemodelan rembesan menggunakan SEEP/W dan analisis stabilitas lereng menggunakan SLOPE/W dengan pendekatan Limit Equilibrium Method (LEM). Rekahan dan kondisi tanah lempung digunakan sebagai interpretasi kondisi lapangan dan tidak dimodelkan secara eksplisit.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa lokasi penelitian didominasi oleh tanah lempung plastisitas tinggi dengan permeabilitas rendah yang berkembang di atas batuan lapuk sehingga rentan terhadap perubahan kondisi hidrologi. Analisis SWCC dan Green-Ampt menunjukkan bahwa karakteristik hidraulik tanah memengaruhi kapasitas infiltrasi, sedangkan pemodelan SEEP/W memperlihatkan peningkatan tekanan air pori yang menyebabkan penurunan tegangan efektif tanah. Analisis SLOPE/W menghasilkan nilai faktor keamanan minimum sebesar 1,08 yang menunjukkan lereng berada pada kondisi kritis. Variasi intensitas hujan menghasilkan perubahan faktor keamanan dan kedalaman bidang gelincir yang relatif kecil, sedangkan karakteristik geologi lokal, permeabilitas tanah, dan kemiringan lereng memberikan pengaruh yang lebih dominan terhadap ketidakstabilan lereng. Berdasarkan hasil observasi lapangan dan analisis numerik, mekanisme longsoran pada lokasi penelitian cenderung berupa longsoran translasional. Penelitian ini menunjukkan bahwa ketidakstabilan lereng merupakan hasil interaksi antara infiltrasi air hujan, karakteristik hidraulik tanah tak jenuh, kondisi geologi lokal, dan geometri lereng. Integrasi analisis SWCC, Green-Ampt, SEEP/W, dan SLOPE/W mampu memberikan pemahaman yang lebih menyeluruh mengenai mekanisme longsoran serta menjadi dasar dalam perencanaan sistem drainase, perkuatan lereng, dan upaya mitigasi pada ruas jalan dengan karakteristik geologi yang serupa.
Kata Kunci : stabilitas lereng, infiltrasi air hujan, geologi lokal, tanah tak jenuh, SWCC, Green-Ampt, SEEP/W, SLOPE/W, faktor keamanan