Kolaborasi Antaraktor dalam Penyelenggaraan Paket Wisata di Kawasan Kotagede, Yogyakarta
LEFI SARI, Prof. Drs. Heddy Shri Ahimsa-Putra, M.A. M.Phil., Ph.D.; Dr. rer. pol. Dyah Widiyastuti, S.T., M.CP.
2026 | Tesis | S2 Magister Kajian Pariwisata
Kawasan Kotagede merupakan kawasan living heritage yang menjadikan ruang hidup masyarakat sebagai bagian dari daya tarik wisata sekaligus warisan budaya yang harus dijaga. Kondisi tersebut mendorong berkembangnya paket wisata walking tour yang diselenggarakan oleh berbagai aktor dengan memanfaatkan sumber daya wisata yang relatif sama, tetapi berada di bawah kewenangan yang tersebar, sehingga kolaborasi antaraktor menjadi kebutuhan. Penelitian ini bertujuan menganalisis proses kolaborasi antaraktor, permasalahan yang muncul dalam kolaborasi, serta upaya para aktor mempertahankan kolaborasi dalam penyelenggaraan paket wisata walking tour di Kawasan Kotagede. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi, studi pustaka, dan dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan model proses kolaborasi Selin dan Chavez (1995). Hasil penelitian menunjukkan bahwa kolaborasi berkembang melalui pembentukan tujuan bersama, pembentukan struktur kolaborasi, dan pelaksanaan kolaborasi yang bersifat selektif sesuai daya tarik wisata, kewenangan, dan posisi spasial aktor. Kolaborasi yang terbentuk bersifat informal dan situasional, sehingga memungkinkan para aktor tetap berkolaborasi meskipun memiliki kepentingan dan kapasitas yang berbeda. Permasalahan yang muncul meliputi perbedaan kepentingan, persaingan antaraktor, keterbatasan sumber daya, serta keterbatasan komunikasi dan koordinasi, yang menunjukkan bahwa mekanisme kolaborasi yang berkembang belum mampu menjangkau seluruh aktor pada tingkat kawasan. Meskipun demikian, para aktor mempertahankan kolaborasi melalui dialog, negosiasi, pemanfaatan jaringan antaraktor, dan berbagi sumber daya, sehingga permasalahan yang muncul tetap dapat dikelola tanpa menghentikan penyelenggaraan paket wisata walking tour.
Kotagede is a living heritage area where the community's living space functions both as a tourist attraction and as cultural heritage that must be preserved. This condition has encouraged the development of walking tour packages organized by multiple actors using similar tourism resources that are dispersed under different authorities, making collaboration among actors essential. This study aims to analyze the process of inter-actor collaboration, the problems arising during collaboration, and the actors' efforts to sustain collaboration in organizing walking tour packages in the Kotagede Area. The study employs a qualitative approach using a case study method. Data were collected through in-depth interviews, observation, literature review, and documentation, and were analyzed using the collaboration process model developed by Selin and Chavez (1995). The findings indicate that collaboration develops through direction setting, structuring, and implementation, with implementation occurring selectively based on each actor's attractions, authority, and spatial position. The problems identified include differences in interests, competition among actors, resource limitations, and limitations in communication and coordination, indicating that the existing collaboration mechanisms have not yet encompassed all actors operating within the area. The study further finds that collaboration is sustained not by eliminating these problems, but by managing them through dialogue, negotiation, and the use of inter-actor networks.
Kata Kunci : kolaborasi antaraktor, Kotagede, living heritage, paket wisata, walking tour