Analisis Produksi Air Irigasi pada Sawah Tanpa Perkolasi di Kalurahan Grogol Kapanewon Paliyan Kabupaten Gunungkidul Yogyakarta
FRESHIA PUSPA SARI DEWI, Prof. Dr. Ir. Fatchan Nurrochmad, M.Agr. ; Ir. Rachmad Jayadi, M.Eng. Ph.D.
2026 | Tesis | S2 Teknik Sipil
Kabupaten
Gunungkidul merupakan wilayah dengan ketersediaan air yang terbatas dan
karakteristik tanah yang menyebabkan kehilangan air akibat perkolasi tinggi.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui produktivitas air dan produktivitas sawah
pada sistem sawah tanpa perkolasi. Penelitian dilaksanakan selama satu musim
tanam menggunakan dua petak sawah dengan jenis tanah berbeda, yaitu lempung
hitam pada Petak A dan lempung merah pada Petak B. Tanah lempung hitam mengandung mineral montmorillonit dan kemampuan menyimpan air yang
tinggi, sedangkan tanah lempung merah mengandung mineral kaolin yang kurang
mampu menyimpan air sehingga lebih cepat kehilangan kelembabannya. Kehilangan air akibat perkolasi diminimalkan dengan
memasang geomembran sebagai lapisan kedap air di bawah zona perakaran tanaman.
Data yang diukur meliputi curah hujan, evaporasi, gabah kering panen dan gabah
kering giling. Analisis dilakukan melalui perhitungan neraca air, produktivitas
air, dan produktivitas sawah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa produktivitas air pada Petak A sebesar
1,36 kg/m³ dan pada Petak B sebesar 1,72 kg/m³. Produktivitas sawah pada Petak
A sebesar 0,71 kg/m² dan pada Petak B sebesar 0,77 kg/m². Tanah lempung merah
menghasilkan produktivitas air dan produktivitas sawah yang lebih tinggi
dibandingkan tanah lempung hitam. Temuan ini menunjukkan bahwa pada sistem
sawah tanpa perkolasi, kemampuan tanah menyimpan air dan unsur hara yang lebih baik
tidak selalu menghasilkan produktivitas yang lebih besar. Sistem sawah tanpa
perkolasi mampu mendukung budidaya padi secara efisien pada lahan dengan
karakteristik tanah yang berbeda dan berpotensi menjadi alternatif pengelolaan
air untuk wilayah dengan keterbatasan sumber daya air, seperti Kabupaten
Gunungkidul.
Kata kunci: Kehilangan Air, Geomembran, Produktivitas Sawah, Tanah Lempung
Merah, Tanah Lempung Hitam.
Gunungkidul Regency is
characterized by limited water availability and soil conditions that contribute
to high water losses through percolation. This study aimed to evaluate water
productivity and paddy field productivity under a no-percolation paddy field
system. The study was conducted over one growing season using two experimental
plots with different soil types: black clay in Plot A and red clay in Plot B.
Black clay is generally dominated by montmorillonite minerals with a high
water-holding capacity, whereas red clay is commonly dominated by kaolinite
minerals with a lower water-holding capacity, resulting in faster moisture
loss. Water loss through percolation was minimized by installing a geomembrane
as an impermeable barrier beneath the root zone. The observed variables
included rainfall, evaporation, harvested dry grain yield (GKP), and milled dry
grain yield (GKG). Data were analyzed using water balance, water productivity,
and paddy field productivity calculations. The results showed that water productivity
was 1.36 kg/m³ in Plot A and 1.72 kg/m³ in Plot B. Paddy field productivity was
0.71 kg/m² in Plot A and 0.77 kg/m² in Plot B. Red clay produced higher water
productivity and paddy field productivity than black clay. These findings
indicate that under a no-percolation paddy field system, higher water
productivity and paddy field productivity can be achieved on red clay than on
black clay. The no-percolation paddy field system demonstrates the potential to
support efficient rice cultivation on soils with different characteristics and
may serve as an alternative water management strategy for areas with limited
water resources, such as Gunungkidul Regency.
Keywords: Water
Loss, Geomembrane, Paddy Field Productivity, Red Clay Soil, Black Clay Soil.
Kata Kunci : Kata kunci: Kehilangan Air, Geomembran, Produktivitas Sawah, Tanah Lempung Merah, Tanah Lempung Hitam.