Analisis Determinan Kepatuhan Odhiv Terhadap Terapi Antiretroviral Di Kabupaten Sukoharjo Tahun 2025
Nyai Harifah Akbar, Bayu Satria Wiratama, S.Ked, MPH, Ph.D; Prof. dr. Yanri Wijayanti Subronto, Ph.D., Sp.PD-KPTI
2026 | Tesis | S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat
Latar Belakang: Kabupaten Sukoharjo masih menghadapi kesenjangan pada keberlanjutan terapi antiretroviral (ARV). Keberhasilan terapi dipengaruhi oleh kepatuhan ODHIV, pelaksanaan Program Perawatan, Dukungan, dan Pengobatan (PDP) HIV/AIDS, serta sistem surveilans dalam memantau kesinambungan layanan. Penelitian ini bertujuan menganalisis determinan kepatuhan ODHIV terhadap terapi ARV, mengevaluasi pelaksanaan Program PDP HIV/AIDS, dan menilai kualitas surveilans HIV/AIDS di Kabupaten Sukoharjo tahun 2025.
Metode: Penelitian menggunakan pendekatan terintegrasi yang terdiri dari tiga sub-studi. Sub-studi analitik menggunakan desain potong lintang pada 168 ODHIV yang menjalani terapi ARV, dengan analisis regresi logistik ordinal. Sub-studi evaluasi Program PDP dan evaluasi surveilans HIV/AIDS menggunakan mixed methods convergent pada pengelola program HIV di puskesmas dan rumah sakit, dinas kesehatan, LSM, KPA, dan petugas RR. Sub-studi evaluasi surveilans menilai fungsi dan kualitas surveilans HIV melalui SIHA. Penelitian ini dilaksanakan pada Maret- Juni 2026.
Hasil: Pada sub-studi analitik, efek samping merupakan variabel yang berhubungan signifikan dengan tingkat kepatuhan setalah dikontrol dengan variabel lain (AOR = 0,97). Stigma, kepuasan pelayanan, jenis kelamin, stadium klinis, dan jenis obat tidak menunjukkan hubungan signifikan pada model multivariat. Evaluasi program PDP menunjukkan fasilitas telah memiliki pedoman, petugas, pendanaan, sarana-prasarana, dan obat ARV, tetapi masih terdapat tugas rangkap, pelatihan belum merata, keterbatasan privasi, serta pemeriksaan viral load yang bergantung pada laboratorium rujukan. Pemantauan efek samping dilakukan, tetapi masih bersifat reaktif, belum terstruktur dan belum seragam. Akses terapi ARV lebih dari 95 persen dicapai oleh 83,3 persen puskesmas dan 100 persen rumah sakit, sedangkan supresi viral load ARV lebih dari 95 persen dicapai oleh 16,7 persen puskesmas dan 14,3 persen rumah sakit. Evaluasi surveilans menunjukkan seluruh fasilitas menggunakan SIHA dan mengirimkan laporan rutin, tetapi analisis kaskade belum rutin dilakukan. Kelengkapan seluruh variabel SIHA tercapai pada 33,3 persen puskesmas dan 100 persen rumah sakit; pelaporan tepat waktu dilakukan oleh seluruh puskesmas dan 42,9 persen rumah sakit. Pemanfaatan data masih dominan untuk kebutuhan administratif.
Kesimpulan: Keberhasilan terapi ARV masih menghadapi tantangan pada kepatuhan, pelaksanaan layanan, dan pemanfaatan surveilans. Penguatan pemantauan efek samping dan konseling kepatuhan, perbaikan pemeriksaan viral load, serta pemanfaatan SIHA untuk pemantauan pasien dan tindak lanjut diperlukan untuk mendukung keberlanjutan terapi ARV dan pencapaian target supresi viral load sesuai indikator program.
Background: Sukoharjo District continues to face gaps in continuity of antiretroviral therapy (ART). Treatment success is influenced by ART adherence, implementation of the HIV/AIDS Care, Support, and Treatment (PDP) Program, and the surveillance system’s ability to monitor continuity of care. This study aimed to analyze determinants of ART adherence, evaluate implementation of the HIV/AIDS PDP Program, and assess HIV/AIDS surveillance in Sukoharjo District in 2025.
Methods: This study comprised three sub-studies. The analytical sub-study used a cross-sectional design among 168 PLHIV receiving ART, with an ordinal logistic regression. The PDP program evaluation used a mixed-methods design among program managers from primary health centers and hospitals. The surveillance evaluation used a convergent mixed-methods design to assess surveillance functions and quality through SIHA. This study was conducted from March to June 2026.
Results: In the analytical sub-study, side effects were the only variable significantly associated with adherence in multivariable analysis (AOR = 0.97). Stigma, service satisfaction, sex, clinical stage, and ART regimen were not significantly associated with adherence. The PDP evaluation showed facilities had guidelines, staff, infrastructure, and ART supplies, but challenges include multiple job responsibilities, uneven training, limited privacy, and reliance on referral laboratories for viral load testing. Side effect monitoring was conducted but was not structured or standardized. ART access of more than 95 percent was achieved by 83.3 percent of primary health centers and 100 percent of hospitals, whereas the more than 95 percent viral load suppression target was achieved by 16.7 percent of primary health centers and 14.3 percent of hospitals. The surveillance evaluation showed that all facilities used and submitted reports, but cascade analysis was not routinely conducted. Complete SIHA variables were reported by 33.3 percent of primary health centers and 100 percent of hospitals; timely reporting was achieved by all primary health centers and 42.9 percent of hospitals. Data utilization remained predominantly administrative.
Conclusions: ART outcomes face challenges in adherence, service implementation, and surveillance utilization. Strengthening side-effect monitoring and adherence counseling, improving viral load testing, and using SIHA for patient monitoring, and follow-up are needed to support ART continuity and achievement of viral load suppression targets.
Kata Kunci : HIV/AIDS, Terapi Antiretroviral, Kepatuhan Pengobatan, Efek Samping, Program PDP HIV/AIDS, Surveilans HIV/AIDS, SIHA