Evalusi Efektivitas Penanda Molekuler Sequence-Related AMplified Polymorphism (SRAP) dan Analisis Keragaman Genetik 32 Aksesi Hoya (Hoya spp.) di Yogyakarta
Rizkya Nurrohma, Prof. Dr. Ir. Aziz Purwantoro, M.Sc ; Rani Agustina Wulandari, S.P., M.P., Ph.D
2026 | Tesis | S2 Ilmu Pemuliaan Tanaman
Hoya spp. merupakan
tanaman hias epifit dan liana yang memiliki keanekaragaman spesies tinggi dan
berpotensi sebagai sumber daya genetik penting untuk konservasi dan pemuliaan
tanaman, Informasi keragaman genetik diperlukan untuk mendukung upaya
konservasi dan pengembangan tanaman hias. Penelitian ini bertujuan untuk
menganalisis keragaman genetik dan hubungan kekerabatan 32 aksesi Hoya
menggunakan marka molekuler Sequence-Related Amplified Polymorphism
(SRAP). DNA genom diamplifikasi menggunakan 10 kombinasi
primer SRAP, kemudian hasil amplifikasi dianalisis berdasarkan profil pita DNA
polimorfik. Data biner hasil skoring digunakan untuk menganalisis efektivitas
primer, parameter keragaman genetik, hubungan kekerabatan melalui dendrogram
dan Principal Coordinate Analysis (PCoA), serta distribusi variasi
genetik menggunakan Analysis of Molecular Variance (AMOVA). Hasil
penelitian menunjukkan bahwa
primer SRAP yang digunakan menghasillkan lokus polimorfik 100% yang menunjuukan
efektivitas marka dalam mendeteksi variasi genetik antar aksesi. Nilai Polymorphic Information Content (PIC) yang didapatkan berkisar 0,12 – 0,19
dengan primer Me4+Em6 dan Me9+Em7 memiliki nilai PIC 0,19.
Primer Me6+Em7 menunjukkan nilai resolving power (Rp) tertinggi sebesar
12,44 dan indeks diskriminasi (D) 0,99. Analisis dendrogram dan PCoA menujukkan
pengelompokan aksesi berdasarkan hubungan genetik antar aksesi. Parameter
keragaman genetik menunjukkan nilai rata-rata jumlah alel teramati (Na) sebesar
0,297, jumlah alel efektif (Ne) sebesar 1,103, indeks Shannon (I) sebesar
0,082, dan heterozigositas harapan (He) sebesar 0,057, yang mengindikasikan
tingkat keragaman genetik relatif rendah. Analisis AMOVA menunjukkan bahwa
variasi genetik lebih besar terdapat dalam aksesi (56%) dibandingkan antar
aksesi (44%). Nilai diferensiasi genetik (PhiPT) sebesar 0,44 tergolong tinggi,
sedangkan nilai aliran gen (Nm) sebesar 0,32 menunjukkan rendahnya pertukaran
gen antar aksesi. Secara
keseluruhan, aksesi Hoya menunjukkan diferensiasi genetik yang tinggi meskipun
tingkat keragaman genetik dalam aksesi relatif rendah. Marka SRAP terbukti
efektif untuk mengungkap variasi genetik pada Hoya dan hasil penelitian ini
dapat menjadi dasar dalam upaya konservasi sumber daya genetik serta
pengembangan program pemuliaan tanaman Hoya.
Hoya spp. are epiphytic
and climbing ornamental plants with high species diversity and potential as
important genetic resources for conservation and plant breeding programs.
Information on genetic diversity is essential to support conservation efforts
and ornamental plant development. This study aimed to analyze the genetic
diversity and genetic relationships among 32 Hoya accessions using
Sequence-Related Amplified Polymorphism (SRAP) molecular markers. Genomic DNA
was amplified using 10 SRAP primer combinations, and the amplification products
were analyzed based on polymorphic DNA band profiles. Binary scoring data were
used to evaluate primer effectiveness, genetic diversity parameters, genetic
relationships through dendrogram and Principal Coordinate Analysis (PCoA), and
genetic variation distribution using Analysis of Molecular Variance (AMOVA).
The results showed that the SRAP primers generated 100% polymorphic loci,
indicating the effectiveness of the markers in detecting genetic variation
among Hoya accessions. The Polymorphic Information Content (PIC) values ranged
from 0.12 to 0.19, with primers Me4+Em6 and Me9+Em7 showing the highest PIC
value of 0.19. Primer Me6+Em7 exhibited the highest resolving power (Rp) value
of 12.44 and a discrimination index (D) of 0.99. Dendrogram and PCoA analyses
revealed the grouping of accessions based on their genetic relationships.
Genetic diversity parameters showed average values of observed number of
alleles (Na) of 0.297, effective number of alleles (Ne) of 1.103, Shannon’s
information index (I) of 0.082, and expected heterozygosity (He) of 0.057,
indicating relatively low genetic diversity. AMOVA analysis revealed that
genetic variation was higher within accessions (56%) than among accessions
(44%). The genetic differentiation value (PhiPT) of 0.44 indicated high genetic
differentiation, while the gene flow value (Nm) of 0.32 suggested low genetic
exchange among accessions. Overall, Hoya accessions showed high genetic
differentiation despite relatively low genetic diversity within accessions.
SRAP markers proved effective in revealing genetic variation in Hoya and the
results of this study may serve as a basis for genetic resource conservation
and future Hoya breeding programs.
Kata Kunci : Kekerabatan, konservasi, keragaman, marka molekuler, SRAP