Laporkan Masalah

Analisis anomali geomagnetik untuk memperkirakan posisi batuan sedimen terhadap batuan beku dan batuan metamorf di daerah Watuperahu Perbukitan Jiwo Timur Bayat Klaten

PUTRI, Desy Hanisa, Dr. Wahyudi

2005 | Tesis | S2 Ilmu Fisika

Daerah Watuperahu Perbukitan Jiwo merupakan daerah yang relatif sempit namun memiliki kondisi geologi yang kompleks. Semua jenis batuan yaitu batuan beku, batuan sedimen, dan batuan metamorf dapat dijumpai di daerah ini. Adanya kompleksitas batuan yang terdapat pada daerah penelitian mendorong dilakukannya survei geofisika menggunakan metode magnetik. Penelitian ini bertujuan menggambarkan kondisi bawah permukaan dan menentukan posisi atau kedudukan batuan sedimen terhadap batuan beku dan batuan metamorf berdasarkan kontur anomali medan magnet. Pengambilan data dilaksanakan selama 8 hari dengan luas area 0,2 km x 1,4 km dengan spasi antar titik pengukuran bervariasi antara 5 m - 50 m. Pemrosesan data dimulai dengan koreksi IGRF dan koreksi variasi harian untuk mendapatkan anomali medan magnet. Kemudian dilakukan kontinuasi ke atas sampai ketinggian 398 m. Hasilnya direduksi ke kutub dan ditransformasi pseudogravitasi serta dicari nilai mutlak dari gradien horisontal. Interpretasi kualitatif dilakukan dengan menganalisis grafik gradien vertikal dan anomali medan magnet perlintasan survei, kontur gradien vertikal medan magnet total, kontur anomali medan magnet total yang telah direduksi ke kutub dan hasil tranformasi pseudogravitasi, dan kontur harga mutlak gradien horisontal. Interpretasi kuantitatif dilakukan dengan pemodelan benda anomali menggunakan program Mag2DC for Windows. Hasil dari interpretasi kualitatif menunjukkan suatu pola yang sama yaitu adanya tiga buah batas kontak batuan yaitu batuan sedimen terhadap batuan beku diorit, batuan beku diorit terhadap batuan sedimen Watuperahu, dan batuan sedimen Watuperahu terhadap batuan metamorf. Hasil dari interpretasi kuantitatif adalah model struktur geologi berupa batas dan penyebaran batuan berdasarkan harga suseptibilitas batuan. Batuan metamorf mempunyai suseptibilitas 0,028, pelapukan batuan metamorf mempunyai suseptibilitas 0,017, sedimen Watuperahu mempunyai suseptibilitas 0,011, pelapukan batuan beku diorit mempunyai suseptibilitas 0,056, batuan beku diorit mempunyai suseptibilitas 0,084, dan batuan sedimen (lempung tufan, pasir kering dan serpih) mempunyai suseptibilitas 0,005.

Watuperahu Jiwo Hills represent area which relative narrow but have the condition of complex geology. All rock type are igneous rock, sediment rock, and metamorphic rock can be met in this area. Existence of rock complexity found on research area were the basic consideration of the geophysics survey by magnetic method. This research aim to depict the condition of under surface and determine position of sediment rock to igneous rock and metamorphic rock base on contour of field magnetic anomaly. Data acquisition has been done during 8 days with area width 0,2 km x 1,4 km and measurement space of 5 – 50 m. Data processing was started by correcting IGRF and daily variation to get anomaly of magnetic field. Then, upward continuation to 398 height has been done. The result would be reduced to pole, be transformed to pseudogravitation and would be founded the absolute value from the horizontal gradient. Qualitative interpretation has been done by graph of vertical gradient and magnetic field anomaly for every survey line, the magnetic field vertical gradient contour, contour of magnetic field anomaly that was been reduced to pole, also the result of pseudogravitation transformation and contour of absolute value from the horizontal gradient. Quantitative interpretation has been done by anomaly modeling using Mag2DC for Windows program. The result of qualitative interpretation show a same pattern that is existence of three rock contact boundary that is sediment rock to diorit igneous rock, diorit ignoeus rock to Watuperahu sediment rock, and Watuperahu sediment rock to metamorf rock. The result of quantitative interpretation is geology structure modellling in the rock contact boundary and rock spreading base on rock susceptibility. The metamorf rock has susceptibility 0,028, weathering of metamorf rock has susceptibility 0,017, Watuperahu sediment rock has susceptibility 0,011, weathering of diorit igneous rock has susceptibility 0,056, diorit igneous rock has susceptibility 0,084, and sediment rock (tufan clay, sand dry and shale) have susceptibility contrast 0,005.

Kata Kunci : Geomagnetik,Magnet Anomali,Batuan Sedimen dan Metamorf


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.