Pertunjukan Sendratari Ramayana Sebagai Daya Tarik Wisata Budaya Di Yogyakarta
Nurul Avia Rohmatul Aini, Dr. rer. Pol. Dyah Widiyastuti, S.T., M.C.P.; Dr. Ir. Djoko Wijono, M. Arch.
2026 | Tesis | S2 Magister Kajian Pariwisata
Sendratari Ramayana Prambanan merupakan atraksi wisata budaya yang
merepresentasikan identitas budaya Yogyakarta melalui berbagai unsur artistik.
Namun, kajian mengenai hubungan antara proses encoding nilai
budaya oleh pelaku seni dan proses decoding oleh wisatawan
masih terbatas. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi nilai-nilai budaya
Yogyakarta yang direpresentasikan dalam pertunjukan serta menganalisis
pemaknaan wisatawan terhadap nilai-nilai tersebut. Penelitian menggunakan
pendekatan kualitatif deskriptif dengan teknik observasi, wawancara mendalam,
dan dokumentasi. Informan penelitian berjumlah 13 orang yang dipilih
secara purposive. Analisis data menggunakan model interaktif Miles,
Huberman, dan Saldaña, sedangkan analisis mengacu pada Encoding–Decoding Theory Stuart
Hall.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses encoding
merepresentasikan tujuh nilai budaya Yogyakarta, yaitu alus, tata krama dan
unggah-ungguh, harmoni dan keselarasan, pengendalian diri dan olah rasa,
hierarki sosial, simbolisme budaya, dan kosmologi Jawa, serta menghasilkan satu
temuan konseptual berupa Pelekatan Identitas Budaya Yogyakarta dalam Gaya
Prambanan. Pada proses decoding, wisatawan cenderung
menghasilkan dominant reading terhadap nilai-nilai yang
direpresentasikan melalui tindakan sosial yang konkret, sedangkan nilai-nilai
yang bersifat simbolik dan filosofis lebih banyak menghasilkan negotiated
reading. Penelitian ini menunjukkan bahwa efektivitas komunikasi budaya
tidak hanya ditentukan oleh proses encoding, tetapi juga oleh
karakter representasi budaya yang memengaruhi proses decoding wisatawan.
The Ramayana Ballet Performance is a cultural tourism attraction
that represents the cultural identity of Yogyakarta through a wide range of
artistic elements. However, studies examining the relationship between the
encoding of cultural values by performers and the decoding process undertaken
by tourists remain limited. This study aims to identify the Yogyakarta cultural
values represented in the performance and to analyze how tourists interpret
these values. A descriptive qualitative approach was employed, utilizing
observation, in-depth interviews, and documentation as data collection
techniques. The study involved 13 purposively selected informants. Data were
analyzed using the interactive model of Miles, Huberman, and Saldaña, while the
interpretation of findings was guided by Stuart Hall's Encoding–Decoding
Theory.
The findings reveal that the encoding process represents seven
Yogyakarta cultural values, namely alus (refinedness),
etiquette and unggah-ungguh (Javanese codes of conduct),
harmony and balance, self-control and olah rasa (inner
cultivation), social hierarchy, cultural symbolism, and Javanese cosmology. In
addition, the study proposes a conceptual finding referred to as the Embedding
of Yogyakarta Cultural Identity within the Prambanan Style. In the decoding
process, tourists predominantly produce dominant readings of cultural values
represented through observable social practices, whereas values that are
symbolic and philosophical tend to generate negotiated readings. These findings
demonstrate that the effectiveness of cultural communication is determined not
only by the encoding process but also by the characteristics of cultural
representation that shape tourists' decoding processes.
Kata Kunci : Sendratari Ramayana Prambanan, representasi budaya, nilai budaya Yogyakarta, resepsi wisatawan, pariwisata budaya.