Laporkan Masalah

Tantangan Diagnosis, Manifestasi Klinis, dan Luaran Alagille Syndrome pada Anak: Studi Retrospektif

Tika Vandasari Prasetyo Putri, Dr. dr. Titis Widowati, Sp.A(K); dr. Dian K. Nurputra, M.Sc, Ph.D, Sp.A(K)

2026 | Tesis-Spesialis | S2 Ilmu Kesehatan anak

Latar Belakang: Sindrom Alagille (Alagille syndrome/ALGS) merupakan kelainan multisistem yang jarang, ditandai oleh kolestasis kronis dengan keterlibatan organ ekstrahepatik yang bervariasi. Membedakan ALGS dari atresia bilier (biliary atresia/BA) masih menjadi tantangan karena adanya kemiripan gambaran klinis, laboratorium, pencitraan, dan histopatologis. Kesalahan klasifikasi dapat menyebabkan konsekuensi tata laksana yang berlawanan dan berpotensi merugikan. Data mengenai ALGS di Indonesia masih terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan tantangan diagnostik, manifestasi klinis, dan luaran pasien anak dengan ALGS di pusat rujukan tersier.

Metode: Penelitian deskriptif retrospektif dilakukan di RS Sardjito, Indonesia, pada periode 2018–2026. Diagnosis ALGS ditegakkan apabila pasien memenuhi sedikitnya tiga dari lima kriteria klinis mayor dan/atau ditemukan varian patogen JAG1 atau NOTCH2. Data demografi, klinis, laboratorium, pencitraan, histopatologi, terapi, dan luaran dianalisis secara deskriptif.

Hasil: Sebanyak 11 pasien dengan ALGS teridentifikasi, terdiri atas 8 laki-laki dan 3 perempuan. Seluruh pasien mengalami kolestasis dan dismorfisme wajah yang khas. Penyakit jantung bawaan dan butterfly vertebrae masing-masing ditemukan pada 64% pasien, sedangkan posterior embryotoxon tidak ditemukan pada seluruh pasien. Peningkatan kadar gamma-glutamyl transferase (>250 U/L) dan temuan ultrasonografi yang mengarah pada atresia bilier masing-masing ditemukan pada 45% pasien. Sebanyak 5 pasien (45%) menjalani prosedur Kasai portoenterostomi sebelum diagnosis ALGS ditegakkan. Biopsi hati dilakukan pada 10 pasien dan menunjukkan paucity duktus biliaris pada 80% kasus. Tiga pasien mengalami infeksi sitomegalovirus (CMV) secara bersamaan, dan satu pasien memiliki varian JAG1 yang terkonfirmasi secara genetik. Selama periode pemantauan, sirosis berkembang pada 45% pasien, transplantasi hati dilakukan pada 36% pasien, dan mortalitas terjadi pada 36% pasien. Transplantasi hati lebih sering ditemukan pada pasien dengan riwayat Kasai portoenterostomi dibandingkan pasien tanpa riwayat Kasai portoenterostomi (60% vs. 17%).

Kesimpulan: ALGS pada pasien anak di Indonesia menunjukkan manifestasi multisistem yang heterogen serta tumpang tindih diagnostik yang cukup besar dengan atresia bilier. Tidak ditemukannya paucity duktus biliaris maupun adanya infeksi CMV secara bersamaan tidak menyingkirkan diagnosis ALGS. Evaluasi multisistem secara komprehensif, dengan dukungan pemeriksaan genetik apabila tersedia, dapat meningkatkan pengenalan diagnosis ALGS dan mendukung tata laksana individual yang lebih dini.

Background: Alagille syndrome (ALGS) is a rare multisystem disorder characterised by chronic

cholestasis and variable extrahepatic involvement. Distinguishing ALGS from biliary atresia (BA)

remains challenging due to overlapping clinical, laboratory, imaging, and histopathological findings,

yet misclassification can lead to opposite and potentially harmful management consequences. Data

from Indonesia remains limited. This study aimed to describe the diagnostic challenges, clinical

manifestations, and outcomes of pediatric ALGS at a tertiary referral centre.


Methods: A retrospective descriptive study was conducted at Dr. Sardjito General Hospital in

Indonesia from 2018 to 2026. Diagnosis was established when at least three of five major clinical

criteria were fulfilled and/or a pathogenic JAG1 or NOTCH2 variant was identified. Demographic,

clinical, laboratory, imaging, histopathological, treatment, and outcome data were analysed

descriptively.


Results: Eleven patients with ALGS were identified (8 males, 3 females). All presented with cholestasis

and characteristic facial dysmorphism. Congenital heart disease and butterfly vertebrae were each

observed in 64% of patients, whereas no patient demonstrated posterior embryotoxon. Elevated

gamma-glutamyl transferase (>250 U/L) and ultrasonographic findings suggestive of BA were

identified in 45% of patients each. Five patients (45%) underwent Kasai portoenterostomy before

ALGS was recognised. Liver biopsy was performed in 10 patients, demonstrating bile duct paucity in

80% of cases. Three patients had concomitant cytomegalovirus (CMV) infection, and one patient had

a genetically confirmed JAG1 variant. During follow-up, cirrhosis developed in 45%, liver

transplantation was performed in 36%, and mortality occurred in 36%. Patients with previous Kasai

Kasai portoenterostomy demonstrated a higher frequency of liver transplantation than those without

prior Kasai Kasai portoenterostomy (60% vs. 17%).


Conclusion: Pediatric ALGS demonstrated heterogeneous manifestations and substantial diagnostic

overlap with BA. Absence of bile duct paucity or coexistence of CMV infection did not exclude ALGS.

Comprehensive multisystem evaluation, supported by genetic testing where accessible, may improve

diagnostic recognition and support earlier individualised management.



Kata Kunci : Alagille syndrome, cholestasis, liver disease, biliary atresia, Kasai portoenterostomy

  1. SPESIALIS-2026-508999-abstract.pdf  
  2. SPESIALIS-2026-508999-bibliography.pdf  
  3. SPESIALIS-2026-508999-tableofcontent.pdf  
  4. SPESIALIS-2026-508999-title.pdf