Navigating New Spaces: Exploring School Transition Experiences of Former Bullying Victims at Sekolah Murid Merdeka
Tabitha Anya Illona Cahyandaru, Edilburga Wulan Saptandari, S.Psi., M.Psi., Ph.D., Psikolog
2026 | Skripsi | PSIKOLOGI
Perundungan masih menjadi ancaman bagi kesejahteraan siswa, sementara respons sekolah yang kurang memadai dapat mendorong orang tua memindahkan anak mereka ke sekolah lain yang lebih aman. Namun, perpindahan sekolah tidak menjamin penyesuaian maupun pemulihan dari pengalaman perundungan sebelumnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi bagaimana mantan korban perundungan menavigasi transisi ke sekolah baru melalui perspektif guru wali kelas di Sekolah Murid Merdeka. Penelitian ini menggunakan desain studi kasus kualitatif dengan melibatkan empat guru wali kelas siswa sekolah dasar kelas atas yang mendampingi siswa dengan riwayat perundungan. Data dikumpulkan melalui observasi naturalistik dan wawancara semi-terstruktur, kemudian dianalisis menggunakan analisis tematik. Penelitian menghasilkan empat tema utama, yaitu Transisi dari Kesulitan Masa Lalu ke Sekolah Baru, Tantangan yang Muncul dalam Transisi Sekolah, Transisi yang Dijalani Melalui Dukungan, dan Perkembangan Penyesuaian di Lingkungan Sekolah Baru. Hasil penelitian menunjukkan bahwa transisi siswa merupakan proses bertahap yang dipengaruhi oleh pengalaman perundungan, karakteristik pribadi, hubungan yang suportif, serta lingkungan sekolah yang baru. Meskipun menghadapi berbagai tantangan, siswa secara bertahap membangun kembali kepercayaan, mengembangkan strategi koping lebih adaptif, memperkuat hubungan dengan teman sebaya, serta memperoleh kepercayaan diri dalam belajar. Secara keseluruhan, transisi sekolah merupakan proses penyesuaian yang bersifat ekologis dan nonlinier, bukan sekadar perpindahan dari satu sekolah ke sekolah lainnya.
Bullying continues to threaten students' well-being, and inadequate school responses may lead families to transfer their children to a new school in search of a safer learning environment. However, changing schools does not necessarily ensure successful adjustment or recovery from previous victimization. This study explored how former bullying victims navigated their transition to a new school through the perspectives of homeroom teachers at Sekolah Murid Merdeka. A qualitative case study design was employed involving four homeroom teachers of upper elementary students with a history of bullying victimization. Data were collected through naturalistic observation and semi- structured interviews and analyzed using thematic analysis. Four themes emerged: The Transition from Past Hardships to a New School, The Manifested Challenges of School Transition, Transition Navigated Through Support, and Progress of Adjustment in the New School Environment. The findings indicate that students' transition was a gradual process shaped by prior victimization, personal characteristics, supportive relationships, and the new school environment. Despite ongoing challenges, students gradually rebuilt trust, developed adaptive coping strategies, strengthened peer relationships, and regained confidence in learning. Overall, school transition emerged as an ecological and nonlinear process of adjustment rather than a simple change of schools.
Kata Kunci : bullying, school mobility, school transition