Laporkan Masalah

PENGALAMAN PENGASUHAN ANAK BAWAAN (0-1 TAHUN) OLEH NARAPIDANA PEREMPUAN

Maria Yoanela Lia, Wahyu Kustiningsih, M. A

2026 | Skripsi | Sosiologi

Pengasuhan anak oleh narapidana perempuan merupakan pengalaman yang berlangsung dalam situasi yang kompleks karena dipengaruhi oleh keterbatasan institusional, stigma sosial, serta tuntutan untuk tetap menjalankan dua peran sekaligus sebagai ibu dan narapidana. Penelitian ini bertujuan untuk memahami pengalaman pengasuhan anak bawaan yang dilakukan oleh narapidana perempuan di Lembaga Pemasyarakatan Perempuan Kelas IIB Yogyakarta, mulai dari masa kehamilan, persalinan, pemberian ASI dan MPASI, pemenuhan kebutuhan anak, hingga dukungan sosial yang mereka terima selama menjalani masa pidana.
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode fenomenologi Husserlian. Informan penelitian terdiri atas dua narapidana perempuan yang memenuhi kriteria penelitian, yaitu memiliki pengalaman mengasuh anak bawaan di dalam Lembaga Pemasyarakatan. Jumlah informan yang terbatas mencerminkan terbatasnya data pengasuhan anak di dalam lapas pada saat penelitian dilakukan. Meskipun demikian, pengalaman narapidana merupakan isu penting untuk disuarakan dan jarang mendapatkan perhatian serius. Data diperoleh melalui wawancara mendalam, dan observasi, kemudian dianalisis menggunakan teknik analisis Clark Moustakas (1994). Penelitian ini menggunakan, teori ekologi perkembangan Bronfenbrenner dan konsep institusi total Goffman sebagai pelengkap untuk memahami pengalaman pengasuhan dalam konteks pemasyarakatan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengasuhan di dalam lapas tidak berlangsung sebagai praktik yang individual dan alami, melainkan sebagai proses negosiasi yang dipengaruhi oleh berbagai faktor personal, sosial, dan institusional. Pengalaman kedua informan memperlihatkan bahwa perbedaan status perkawinan, jumlah anak, kondisi kesehatan kehamilan, latar belakang sosial-ekonomi, dukungan keluarga, serta konteks pandemi COVID-19 turut membentuk variasi pengalaman pengasuhan yang dijalani. Meskipun berada dalam kondisi yang penuh keterbatasan, kedua informan tetap berupaya mempertahankan kedekatan emosional, memenuhi kebutuhan dasar anak, serta membangun strategi adaptif melalui dukungan keluarga, sesama narapidana, dan petugas lapas. Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa praktik pengasuhan narapidana perempuan merupakan hasil interaksi yang kompleks antara kapasitas individual ibu, jaringan dukungan sosial, dan struktur institusional yang mengatur kehidupan di dalam lembaga pemasyarakatan.

Parenting by female prisoners is an experience that takes place within a complex context, influenced by institutional constraints, social stigma and the demands of simultaneously fulfilling the dual roles of mother and prisoner. This study aims to understand the experiences of female prisoners at the Yogyakarta Class IIB Women’s Prison in raising their children whilst in prison, from pregnancy and childbirth through to breastfeeding and the introduction of complementary foods, meeting the children’s needs, and the social support they receive whilst serving their sentences.

This study employs a qualitative approach using Husserlian phenomenology. The research informants comprised two female prisoners who met the study criteria, specifically those who had experience of caring for their own children whilst in prison. The limited number of informants reflects the limitations of data on raising children while incarcerated at the time the research was conducted. Nevertheless, the experiences of female prisoners are an important issue that needs to be highlighted and rarely receives serious attention. Data were collected through in-depth interviews and observation, and were subsequently analysed using Clark and Moustakas’s (1994) analytical technique. This study utilised Bronfenbrenner’s ecological theory of development and Goffman’s concept of the total institution as complementary frameworks to understand the parenting experience within the context of the prison system.

The research findings indicate that parenting within prisons does not take place as an individual and natural practice, but rather as a process of negotiation influenced by various personal, social and institutional factors. The experiences of both informants demonstrate that differences in marital status, number of children, health conditions during pregnancy, socio-economic background, family support, and the context of the COVID-19 pandemic all contribute to the variations in their parenting experiences. Despite being in highly restricted conditions, both informants continued to strive to maintain emotional closeness, meet their children’s basic needs, and develop adaptive strategies through support from family, fellow prisoners, and prison staff. The findings of this study indicate that the parenting practices of female prisoners are the result of a complex interplay between the mothers’ individual capacities, their social support networks, and the institutional structures governing life within the prison.

Kata Kunci : Pengasuhan Anak, Narapidana Perempuan, Anak Bawaan, Lembaga Pemasyarakatan, Pengalaman Pengasuhan

  1. S1-2026-474975-abstract.pdf  
  2. S1-2026-474975-bibliography.pdf  
  3. S1-2026-474975-tableofcontent.pdf  
  4. S1-2026-474975-title.pdf