Pemetaan Indeks Kerentanan Pencemaran Air Tanah Berdasarkan Faktor Tekanan Antropogenik Menggunakan Pendekatan Regresi Linear Berganda di Kota Yogyakarta
Ahmad Chivalry Khaleiva, Ir. Nurul Alvia Istiqomah, S.T., M.Sc., Ph.D.
2026 | Skripsi | S1 TEKNIK INFRASTRUKTUR LINGKUNGAN
Pencemaran air tanah di kawasan perkotaan dipengaruhi oleh aktivitas
antropogenik, terutama penggunaan lahan dan sistem sanitasi. Kota Yogyakarta,
sebagai wilayah dengan tingkat urbanisasi yang tinggi, memerlukan pendekatan
untuk mengidentifikasi sebaran kerentanan pencemaran air tanah. Kerentanan
tersebut dapat dipengaruhi oleh karakteristik penggunaan lahan, kepadatan
penduduk, dan ketersediaan infrastruktur sanitasi. Penelitian ini bertujuan
untuk mengidentifikasi kondisi kualitas air tanah berdasarkan Indeks Pencemar
(IP), menganalisis hubungan karakteristik penggunaan lahan, kepadatan penduduk,
dan jumlah IPAL komunal terhadap kualitas air tanah, serta menyusun dan
memetakan Indeks Kerentanan Pencemaran Air Tanah (IK) di Kota Yogyakarta.
Penelitian menggunakan data kualitas air tanah, penggunaan lahan,
kepadatan penduduk, dan jumlah IPAL komunal pada 45 kelurahan di Kota
Yogyakarta. Kualitas air tanah dianalisis menggunakan Indeks Pencemar (IP),
sedangkan bobot empiris variabel penyusun indeks diperoleh melalui analisis
regresi linear berganda dengan nilai IP yang ditransformasi menjadi ln(IP).
Koefisien regresi yang telah distandarisasi digunakan sebagai bobot empiris
dalam metode Weighted Linear Combination (WLC). Nilai IK kemudian
dinormalisasi menjadi IK100 dengan rentang 0-100 dan diklasifikasikan
menggunakan metode Natural Breaks (Jenks).
Hasil penelitian menunjukkan bahwa model regresi linear berganda
signifikan dengan nilai Adjusted R² sebesar 0,164 dan p = 0,026.
Penggunaan lahan domestik dan non-domestik berpengaruh positif dan signifikan
terhadap ln(IP), dengan koefisien terstandarisasi masing-masing sebesar 0,465
dan 0,412. Sementara itu, kepadatan penduduk dan jumlah IPAL komunal tidak
menunjukkan pengaruh yang signifikan, dengan bobot masing-masing sebesar 0,107
dan 0,016. Hasil WLC menghasilkan nilai IK100 pada rentang 0-100. Kelurahan
Tegalpanggung memiliki tingkat kerentanan tertinggi dengan nilai IK100 sebesar
100,00, diikuti Ngampilan sebesar 91,824 dan Kadipaten sebesar 90,847.
Sebaliknya, Bener memiliki nilai IK100 terendah sebesar 0,00, diikuti oleh
Giwangan sebesar 2,288 dan Tegalrejo sebesar 15,18. Hasil klasifikasi
menunjukkan bahwa wilayah dengan tingkat kerentanan tinggi hingga sangat tinggi
terutama terdapat pada kelurahan dengan tekanan penggunaan lahan dan aktivitas
perkotaan yang relatif besar, sedangkan wilayah dengan nilai kerentanan lebih
rendah menunjukkan tekanan antropogenik yang relatif lebih kecil. Hasil
penelitian ini dapat digunakan sebagai dasar dalam penentuan prioritas
pemantauan dan pengelolaan kualitas air tanah di Kota Yogyakarta.
Groundwater pollution in urban areas is strongly
influenced by anthropogenic activities, particularly land use and sanitation
systems. As a highly urbanized area, Yogyakarta City requires an approach to
identify the spatial distribution of groundwater pollution vulnerability. Such
vulnerability may be associated with land-use characteristics, population
density, and the availability of communal wastewater treatment infrastructure.
This study aimed to assess groundwater quality using the Pollution Index (PI),
analyze the relationship between land use, population density, and communal
wastewater treatment plants (IPAL) with groundwater quality, and develop and
map a Groundwater Pollution Vulnerability Index (VI) in Yogyakarta City.
The study used groundwater quality, land use, population
density, and communal wastewater treatment plant data from 45 urban villages
(kelurahan) in Yogyakarta City. Groundwater quality was assessed using the
Pollution Index (PI), while empirical weights for the vulnerability index were
obtained using multiple linear regression with ln(PI) as the dependent
variable. Standardized regression coefficients were subsequently used as
empirical weights in the Weighted Linear Combination (WLC) method. The
resulting vulnerability index was normalized to a 0-100 scale (IK100) and
classified using the Natural Breaks (Jenks) method.
The results showed that the multiple linear regression
model was statistically significant, with an Adjusted R² of 0.164 and p =
0.026. Domestic and non-domestic land use had positive and significant effects
on ln(PI), with standardized coefficients of 0.465 and 0.412, respectively. In
contrast, population density and the number of communal wastewater treatment
plants were not statistically significant, with empirical weights of 0.107 and
0.016, respectively. The WLC analysis produced IK100 values ranging from 0 to
100. Tegalpanggung had the highest vulnerability score, with an IK100 of
100.00, followed by Ngampilan (91.824) and Kadipaten (90.847). In contrast,
Bener had the lowest IK100 value (0.00), followed by Giwangan (2.288) and
Tegalrejo (15.18). The classification results indicate that areas with high to
very high vulnerability were mainly associated with kelurahan characterized by
greater land-use pressure and intensive urban activities, whereas areas with lower
vulnerability generally exhibited relatively lower anthropogenic pressure.
These findings can support the prioritization of groundwater quality monitoring
and management in Yogyakarta City.
Kata Kunci : pencemaran air tanah, indeks kerentanan, regresi linear berganda, penggunaan lahan, Kota Yogyakarta.