Studi optimasi distribusi air pada Daerah Irigasi Van der Wijck
Donny Priatmaja, Ir. Rachmad Jayadi, M.Eng., Ph.D. ; Endita Prima Ari Pratiwi, S.T., M.Eng., Ph.D.
2026 | Tesis | S2 Teknik Sipil
Daerah Irigasi (DI) Van der Wijck memiliki luas layanan 3.823,60 ha yang terbagi menjadi empat wilayah pelayanan atau kejuron. Kejuron Van der Wijck dan Kejuron Kregan berada di hulu, sedangkan Kejuron Rewulu dan Kejuron Sedayu berada di hilir. Data operasi tahun 2025 menunjukkan perbedaan tingkat pelayanan air antarkejuron. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi kondisi distribusi air eksisting, mengidentifikasi debit surplus, serta menyusun tiga skenario redistribusi air untuk meningkatkan pemerataan tingkat pelayanan. Penelitian juga dilengkapi dengan pengukuran lapangan pada bangunan irigasi untuk memperoleh debit aliran dan koefisien debit berdasarkan kondisi saat survei.
Analisis dilakukan menggunakan neraca air dan faktor k pada MT I, MT II, dan MT III. Skenario yang dianalisis meliputi prioritas Kejuron Rewulu, pemerataan wilayah hilir dengan memanfaatkan debit surplus wilayah hulu, serta pemerataan seluruh kejuron menggunakan total debit aktual keempat kejuron. Dua skenario pemerataan diselesaikan menggunakan Solver dengan metode GRG Nonlinear. Pengukuran lapangan dilakukan pada BVW.2, BSP, BSR, dan BRW.1. Debit dihitung berdasarkan luas penampang basah dan kecepatan rata-rata, kemudian digunakan untuk menghitung koefisien debit sesuai persamaan pintu tenggelam KP-04.
Pada kondisi eksisting, nilai rata-rata faktor k Kejuron Van der Wijck sebesar 2,00, 1,49, dan 1,28, Kejuron Kregan 1,09, 1,48, dan 1,22, Kejuron Rewulu 0,26, 0,32, dan 0,26, serta Kejuron Sedayu 0,32, 0,37, dan 0,40. Skenario prioritas menghasilkan faktor k Kejuron Rewulu sebesar 0,47, 0,83, dan 0,48, sedangkan Kejuron Sedayu 0,33, 0,47, dan 0,40. Skenario pemerataan wilayah hilir menghasilkan nilai 0,39, 0,59, dan 0,44, sedangkan pemerataan seluruh kejuron menghasilkan 0,57, 0,72, dan 0,65. MT I dan MT III memerlukan rotasi kuarter, sedangkan MT II memungkinkan pemberian air kontinu. Hasil pengukuran menunjukkan debit BVW.2 sebesar 133–142 l/det dengan koefisien debit 0,12–0,25, BSP 717–1.176 l/det dengan koefisien debit 0,23–0,29, BSR 2.796–3.829 l/det dengan koefisien debit 0,28–0,40, dan BRW.1 578–993 l/det dengan koefisien debit 0,20–0,22. Nilai tersebut diperoleh berdasarkan kondisi saat survei.
The Van der Wijck Irrigation Area covers a service area of 3,823.60 ha divided into four service areas, locally referred to as kejuron. Kejuron Van der Wijck and Kejuron Kregan are located in the upstream area, while Kejuron Rewulu and Kejuron Sedayu are located downstream. Operational data from 2025 indicate differences in water service levels among the four kejuron. This study aims to evaluate the existing water distribution, identify surplus discharge, and develop three water redistribution scenarios to improve service equity. Field measurements were also conducted at selected irrigation structures to obtain discharge and discharge coefficients based on conditions observed during the survey. The analysis used water balance and k factors for Cropping Seasons I, II, and III. The scenarios consisted of prioritizing Kejuron Rewulu, equalizing the downstream area using surplus discharge from the upstream area, and equalizing all kejuron using the total actual discharge recorded in the four kejuron. The two equalization scenarios were solved using Solver with the GRG Nonlinear method. Field measurements were conducted at BVW.2, BSP, BSR, and BRW.1. Discharge was calculated from the wetted flow area and mean velocity and was then used to calculate the discharge coefficient based on the submerged-gate equation in KP-04. Under existing conditions, the average k factors were 2.00, 1.49, and 1.28 for Kejuron Van der Wijck, 1.09, 1.48, and 1.22 for Kejuron Kregan, 0.26, 0.32, and 0.26 for Kejuron Rewulu, and 0.32, 0.37, and 0.40 for Kejuron Sedayu. The priority scenario produced k factors of 0.47, 0.83, and 0.48 for Kejuron Rewulu, while Kejuron Sedayu reached 0.33, 0.47, and 0.40. The downstream equalization scenario produced values of 0.39, 0.59, and 0.44, while the all-kejuron equalization scenario produced 0.57, 0.72, and 0.65. Cropping Seasons I and III require quaternary rotation, while continuous water delivery is feasible in Cropping Season II. Field measurements showed discharges of 133–142 L/s at BVW.2 with discharge coefficients of 0.12–0.25, 717–1,176 L/s at BSP with coefficients of 0.23–0.29, 2,796–3,829 L/s at BSR with coefficients of 0.28–0.40, and 578–993 L/s at BRW.1 with coefficients of 0.20–0.22. These values represent conditions observed during the survey.
Kata Kunci : distribusi air irigasi, faktor k, optimasi, redistribusi air, koefisien debit