Pengolahan Limbah Cair Batik Menggunakan Fitoremediasi Sistem Batch dengan Tanaman Akar Wangi (Chrysopogon zizanioides (L.) Roberty) dan Rumput Gelagah (Phragmites karka (Retz.) Trin. ex Steud.) Pada Media Pasir Kasar dan Arang Aktif
Affie Maghfira Nuzula, Prof. Ir. Suryo Purwono, M.A.Sc., Ph.D., IPU, ASEAN Eng., ACPE. ; Prof. Dr. rer. Nat. Andhika Puspito Nugroho, S.Si., M.Si.
2026 | Tesis | S2 Ilmu Lingkungan
Limbah cair mentah dari Sentra Batik Giriloyo yang diambil pada 3 Desember 2025 pukul 18.00 WIB memiliki konsentrasi BOD, COD, TDS, dan warna yang tinggi serta melampaui baku mutu lingkungan. Penelitian ini mengevaluasi sistem Constructed Wetland (CW) dengan media berlapis secara vertikal, yang terdiri dari 3 L arang aktif dan 3 L pasir kasar, dengan empat tanaman pada setiap reaktor dan waktu tinggal selama 8 hari pada konsentrasi limbah 50?n 75%. Hasil penelitian menunjukkan adanya perbedaan fungsi antar reaktor, dengan media filtrasi berperan sebagai penghalang utama yang diperkuat oleh karakteristik perakaran tanaman. Sistem polikultur menghasilkan penyisihan tertinggi terhadap parameter warna (79%), BOD (77%), dan TSS (69%), yang diduga berkaitan dengan kombinasi karakteristik perakaran yang heterogen. Sebaliknya, monokultur Chrysopogon zizanioides menunjukkan penyisihan tertinggi terhadap amonia (51%), TDS (32%), dan fenol (29%), sedangkan monokultur Phragmites karka menunjukkan penyisihan tertinggi pada parameter COD (76%). Pertumbuhan vegetasi berlangsung lebih optimal pada konsentrasi 50% karena tingkat toksisitas yang lebih rendah. Konfigurasi penanaman tidak memberikan pengaruh yang signifikan terhadap tinggi C. zizanioides, tetapi sistem polikultur menurunkan pertumbuhan P. karka, yang diduga disebabkan oleh persaingan unsur hara. Pada monokultur P. karka dengan konsentrasi 75%, ditemukan anomali pertumbuhan tajuk, yaitu satu individu mencapai tinggi 33 cm, sedangkan tiga individu lainnya mengalami pertumbuhan terhambat dengan tinggi rata-rata 19,3 cm yang diduga disebabkan oleh dominansi rimpang dan efek naungan. Hingga penelitian hari ke-8, sistem belum mampu memenuhi keseluruhan baku mutu berdasarkan Perda DIY No. 7/2016, namun telah memenuhi baku mutu warna berdasarkan Permen LHK No. P.16/2019. Oleh karena itu, sistem CW ini direkomendasikan sebagai unit pengolahan sekunder.
Raw wastewater from Sentra Batik Giriloyo, collected on December 3, 2025, at 18:00 WIB, contained high concentrations of BOD, COD, TDS, and color exceeding environmental standards. This study evaluated a Constructed Wetland (CW) system featuring vertically stratified media (3 L activated charcoal and 3 L coarse sand) with 4 plants per reactor at an 8-day retention time under 50% and 75% concentrations. The results demonstrated distinct treatment performance among reactor configurations, with the filter media serving as the primary treatment barrier and plant roots providing additional biological support. The polyculture system achieved the highest removal of color (79%), BOD (77%), and TSS (69%), which may be associated with the complementary root characteristics of the two species. Conversely, the C. zizanioides monoculture achieved the highest removal of ammonia (51%), TDS (32%), and phenol (29%), while Phragmites karka monoculture achieved the highest COD removal (76%). Vegetation grew more optimally under 50% concentration due to lower phytotoxicity. Planting configurations showed no significant effect on C. zizanioides height, but polyculture reduced P. karka growth due to nutrient competition. Monoculture P. karka 75% showed a canopy anomaly where one individual reached 33 cm likely due to rhizome dominance, while three others were stunted at 19.3 cm from shading. The system failed full compliance with Perda DIY No. 7/2016 but met Permen LHK No. P.16/2019 for color. This CW is recommended as secondary treatment.
Kata Kunci : Constructed wetland, limbah cair batik, polikultur, Chrysopogon zizanioides, Phragmites karka.