Evaluasi Implementasi Program Imunisasi PCV Serta Analisis Pengaruh KAP Orang Tua dan Riwayat Kesehatan Anak dengan Ketepatan dan Kelengkapan Imunisasi PCV di Kota Salatiga
ARUMSARI WULANDARI, Bayu Satria Wiratama, S.Ked, MPH, Ph.D, FRSPH; Prof. dr. Mei Neni Sitaresmi, SpA(K), Ph.D
2026 | Tesis | S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat
Latar
Belakang:
Pneumonia masih menjadi penyebab
utama kematian balita secara global dan nasional, dengan CFR infeksi akibat pneumokokus
sebesar 1-6%, serta menunjukkan tren peningkatan kasus di Kota Salatiga pada tahun
2022-2024. Imunisasi PCV merupakan strategi pencegahan utama yang direkomendasikan
WHO dan telah diimplementasikan secara nasional sejak 2022, termasuk di Kota
Salatiga. Namun, capaian imunisasi PCV di Salatiga hingga 2024 masih fluktuatif
dan belum mencapai target, mengindikasikan implementasi program belum optimal.
Tantangan yang dihadapi meliputi adaptasi program baru, keterbatasan sistem
pencatatan dan pelaporan, serta faktor individu dan sosial yang dapat mempengaruhi
ketepatan dan kelengkapan imunisasi PCV sehingga diperlukan penelitian komprehensif
yang menilai aspek program, surveilans dan faktor determinan di tingkat
masyarakat.
Metode: Penelitian ini mencakup sub studi evaluasi surveilans,
evaluasi program, serta analitik. Evaluasi program dan surveilans dilakukan
dengan pendekatan mix method concurrent, sedangkan untuk sub studi
analitik dilakukan dengan desain studi cross sectional. Subjek
penelitian untuk evaluasi program dan surveilans terdiri dari 27 pengelola
program imunisasi, sedang sub studi analitik melibatkan 368 orang tua anak usia
13-23 bulan. Pada studi evaluasi program dan surveilans, data akan dianalisis
secara deskriptif (kuantitatif) dan tematik (kualitatif). Sedangkan pada sub
studi analitik data akan di analisis baik secara deskriptif, bivariat maupun
multi variat menggunakan Generalized Linear Model (GLM) dengan
Regresi Poisson dan robust variance estimator.
Hasil: Implementasi
program imunisasi PCV di Kota Salatiga secara umum telah berjalan dengan baik,
ditandai dengan ketersediaan jadwal pelayanan, vaksin, dan sistem distribusi
logistik yang memadai. Namun, masih ditemukan beberapa kesenjangan, antara lain
keterbatasan pelatihan vaksinator, belum optimalnya monitoring dan evaluasi,
praktik pelayanan yang tidak sesuai standar, serta kelemahan dalam pemantauan
rantai dingin. Pada aspek surveilans, seluruh puskesmas telah melakukan
pelaporan melalui aplikasi ASIK, tetapi kualitas data masih belum optimal
akibat ketidaklengkapan pencatatan, ketidaksesuaian data manual dan ASIK, serta
rendahnya pemanfaatan data untuk analisis dan pengambilan keputusan. Studi
analitik menunjukkan bahwa cakupan kelengkapan imunisasi PCV relatif tinggi,
sedangkan ketepatan waktu imunisasi masih rendah. Analisis multivariat
menunjukkan bahwa perilaku orang tua berhubungan secara signifikan dengan
ketepatan, kelengkapan, dan outcome gabungan imunisasi PCV.
Kesimpulan: Implementasi
program imunisasi PCV di Kota Salatiga telah berjalan dengan baik, namun masih
memerlukan penguatan pada mutu pelayanan, kepatuhan terhadap SOP, serta
monitoring dan supervisi. Sistem surveilans telah mendukung pencatatan dan
pelaporan, tetapi pemanfaatan data untuk analisis dan pengambilan keputusan
belum optimal. Perilaku orang tua merupakan determinan utama ketepatan dan
kelengkapan imunisasi PCV. Peningkatan keberhasilan program memerlukan
penguatan tata kelola program, optimalisasi fungsi surveilans, dan intervensi
perubahan perilaku orang tua.
Background: Pneumonia remains
a leading cause of mortality among children under five globally and in
Indonesia, with CFR of 1-6% for pneumococcal infections, has shown an
increasing trend in cases in Salatiga City form 2022-2024. Although PCV
immunization has been implemented nationwide since 2022, coverage in Salatiga
City remained below target by 2024, indicating suboptimal program
implementation. Challenges related to program adaptation, recording and
reporting systems, and individual and social factors may affect the timeliness
and completeness of PCV immunization, highlighting the need to evaluate program
implementation, surveillance, and community-level determinants.
Methods: This study
comprised three sub-studies: a surveillance evaluation, a program evaluation,
and an analytical study. The program and surveillance evaluations used a concurrant
mixed-methods approach, whereas the analytical sub-study used a cross-sectional
design. The program and surveillance evaluation included27 immunization program
managers, while the analytic sub-study involved 368 parents of children aged
13–23 months. Quantitative data from the program and surveillance evaluations
were analyzed descriptively, while qualitative data were analyzed thematically.
In the analytical sub-study, data were analyzed descriptively, bivariately, and
multivariately using a Generalized Linear Model (GLM) with Poisson regression
and a robust variance estimator.
Results: Overall, the
implementation of the PCV immunization program in Salatiga City was
satisfactory, as evidenced by the availability of immunization schedules,
adequate vaccine supplies, and an established vaccine logistics distribution
system. Nevertheless, several gaps were identified, including limited
vaccinator training, suboptimal monitoring and evaluation, non-standard
immunization practices, and weaknesses in cold chain monitoring. In terms of
surveillance, all community health centers reported immunization data through
the ASIK application. However, data quality remained suboptimal due to
incomplete recording, inconsistencies between manual records and the ASIK
database, and limited use of surveillance data for analysis and decision-making.
The analytical study showed that the completeness of PCV immunization coverage was
relatively high, while the timeliness of immunization remained low.
Multivariable analysis demonstrated that parental behavior was significantly
associated with the timeliness, completeness, and combined outcome of PCV
immunization.
Conclusion: The implementation of the PCV immunization program in Salatiga City has generally been satisfactory; however, further improvements are needed to strengthen service quality, adherence to standard operating procedures (SOPs), monitoring, and supportive supervision. The surveillance system has facilitated immunization recording and reporting, although the use of surveillance data for analysis and decision-making remains suboptimal. Parental behavior was identified as the primary determinant of timely and complete PCV immunization. Improving program performance requires strengthening program governance, optimizing surveillance functions, and implementing behavioral interventions targeting parents.
Kata Kunci : Pneumococcal Conjugate Vaccine (PCV); evaluasi program imunisasi; surveilans; perilaku; ketepatan imunisasi; kelengkapan imunisasi