Analisis Industri Rumahtangga Pangan (IRTP) Sagu di Desa Ihamahu Kecamatan Saparua Kabupaten Maluku Tengah
TIMISELA, Natelda R, Ir. Ken SUratiyah, MS
2005 | Tesis | S2 Ekonomi PertanianSagu merupakan bahan makanan mempunyai kandungan karbohidrat cukup tinggi dan sebagai bahan baku industri rumahtangga pangan yang diolah secara tradisional. Tujuan utama dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui kelayakan dan kepekaan industri rumahtangga pangan sagu, produktivitas tenaga kerja, sumbangan industri rumahtangga pangan sagu pada pendapatan total rumahtangga, distribusi pendapatan total rumahtangga pengrajin dan mengatasi kemiskinan serta meningkatkan kesejahteraannya. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif, penelitian dilakukan di Desa Ihamahu Kecamatan Saparua Kabupaten Maluku Tengah. Pengambilan responden secara sensus terhadap semua pengrajin industri rumahtangga pangan sagu yaitu 60 pengrajin. Untuk melihat kelayakan usaha digunakan analisis kelayakan secara ekonomi dengan menentukan R-C ratio, keuntungan (Ï€) dan produktivitas modal (Ï€-C ratio). Di samping itu menganalisis kepekaan industri rumahtangga pangan sagu terhadap perubahan harga output dan harga input, menentukan produktivitas tenaga kerja (Rp/HOK), besarnya sumbangan industri rumahtangga pangan sagu pada pendapatan total rumahtangga pengrajin, distribusi pendapatan pengrajin industri rumahtangga pangan sagu dan tingkat kesejahteraan pengrajin menurut kriteria Sayogyo dan GSR (Good Service Ratio). Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) secara ekonomi industri rumahtangga pangan sagu layak dikembangkan dan menguntungkan karena nilai R-C ratio>1 yaitu 1,3174, keuntungan (Ï€)>0 yaitu Rp. 8.257.467 dan produktivitas modal (Ï€-C ratio)>suku bunga pinjaman bank (18,44%) maupun suku bunga tabungan deposito (7,69%) yaitu 31,74 persen (2) hasil analisis kepekaan berdasarkan laju inflasi (4,63%) di Maluku terhadap perubahan harga output dan harga input, menunjukkan usaha industri rumahtangga pangan sagu layak dan menguntungkan untuk diusahakan (3) produktivitas tenaga kerja>Upah Minimum Propinsi (16.000/HKO) yaitu Rp. 62.453,08/HKO (4) industri rumahtangga pangan sagu memberikan sumbangan pendapatan sebesar 69,33 persen tergolong dalam kriteria pendapatan tinggi (4) distribusi pendapatan total rumahtangga pengrajin dengan industri rumahtangga pangan sagu lebih merata dari pendapatan tanpa industri rumahtangga pangan sagu dengan indeks gini 0,39>0,47 (6) dengan industri rumahtangga pangan sagu mampu meningkatkan pendapatan rumatangga di atas garis kemiskinan, nilai GSR<1 yaitu 0,986 sehingga pengrajin industri rumahtangga pangan sagu sejahtera. Berdasarkan hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa industri rumahtangga pangan sagu di Desa Ihamahu layak untuk dikembangkan, distribusi pendapatan rumahtangga pengrajin dengan industri rumahtangga pangan sagu lebih merata dan pengrajin industri rumahtangga pangan sagu di Desa Ihamahu 78,33 persen termasuk dalam golongan tidak miskin.
Sago as a daily food consumption contains a high carbohydrate content and has widely known from long time ago as the main material for home industry with the traditional processes. The aim of this research is to see and measure the feasibility or the sensitivity level of Sago home industry, labor productivity, contribution of sago home industry income, and its distribution and improvement to family total income level.
The method utilised is descriptive method. The research is Ihamahu village and 60 sago home industry were take completely. The feasibility analysis is by : determining R-C ratio, profit (Ï€) and Capital productivity (Ï€-C ratio), analyzing sago IRTP sensitivity against the changes of input and output prices, determining labor productivity (Rp/HKO), determining contribution level of Sago IRTP's income to the total income of home industry players, income distribution of sago IRTP and also the prosperity level according to Sayogyo and GSR (Good Service Ratio) criterias.
Research result shows that economically sago home industry is feasible and can be developed and profitable as of R-C ratio >1 is 1,3174, Profit (Ï€)>0 is Rp 8.257.467 and the Capital Productivity (Ï€-C) ratio>bank interest rate (18,44%) and also deposit interest rate (7,69%) is 31,74 persen (2) the result of sensitivity analysis based on the inflation flow (4,63%) in Maluku towards the changes of output dan input prices, the industry of home industry sago and feasible and profitable for the development (3) labor productivity >Minimum wage of propince (16.000/HKO) is Rp 62.453,08/HKO (4) Sago home industry contributes 69,33% of total income in the criteria of high income (5) The distribution of total income from sago home industry is spread over is balance and equal compared to the income from non sago home industry with indeks 0,39>0,47 (6) the prosperity of the people in this industry is able to increase the family income up to the level above the minimum daily expenses, value GSR
Kata Kunci : Budidaya Sagu,Industri Rumah Tangga,IRTP, Home Industry sago, Productivity, Income, Feasibiity, Sensitivity, Contribution dan Welfareness.