Laporkan Masalah

Evaluasi Implementasi Deteksi Dini Kanker Serviks Metode HPV-DNA Co-testing IVA di Daerah Istimewa Yogyakarta Tahun 2025

Hendrika Yuniartin Ganis, Dr. dr. Shinta Prawitasari, M.Kes, Sp.O.G., Subsp. Obginsos

2026 | Tesis | S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat

Latar Belakang: Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) memiliki prevalensi kanker leher rahim tertinggi di Indonesia sebesar 3,6‰. Namun, cakupan skrining IVA pada tahun 2024 baru mencapai 10,82%, masih jauh dari target nasional 80%. Di sisi lain, metode IVA memiliki keterbatasan sensitivitas yang dapat memengaruhi efektivitas deteksi dini. Sejalan dengan rekomendasi WHO, pemerintah mulai menerapkan metode HPV-DNA co-testing IVA di DIY sejak tahun 2025. Hingga saat ini, belum tersedia evaluasi yang komprehensif terkait implementasi program, sistem surveilans, dan penerimaan metode tersebut di tingkat daerah.

Metode: Penelitian menggunakan pendekatan deskriptif kuantitatif dan mixed-method sequential explanatory dilaksanakan di Daerah Istimewa Yogyakarta pada Oktober 2025-Maret Oktober 2026. Evaluasi implementasi program dan surveilans dilakukan pada pemegang program deteksi dini kanker serviks di tingkat provinsi hingga puskesmas. Penerimaan metode HPV-DNA co-testing IVA dianalisis pada wanita usia subur usia 30–50 tahun melalui studi potong lintang yang dilengkapi dengan wawancara mendalam pada delapan informan terpilih.

Hasil: Evaluasi program menunjukkan bahwa implementasi deteksi dini kanker serviks metode HPV-DNA co-testing IVA di DIY secara umum telah berjalan dengan baik, terutama pada aspek proses dan capaian layanan. Namun demikian, masih terdapat keterbatasan pada aspek manajemen program, penguatan kapasitas sumber daya manusia, monitoring dan evaluasi, serta sosialisasi yang belum terstandar. Evaluasi surveilans menunjukkan bahwa sistem pencatatan dan pelaporan berbasis NAR telah diterapkan dan diterima dengan baik, namun belum optimal pada aspek akses, analisis data, serta pemanfaatan informasi untuk pengambilan keputusan. Analisis kuantitatif menunjukkan bahwa efikasi diri merupakan faktor yang secara konsisten berhubungan signifikan dengan penerimaan dan partisipasi deteksi dini kanker serviks. Selain itu, koherensi intervensi dan beban berhubungan dengan penerimaan, sedangkan sumber informasi dan sikap afektif berhubungan dengan partisipasi. Temuan kualitatif memperkuat hasil tersebut, di mana penerimaan dan partisipasi dipengaruhi oleh keyakinan dan kesadaran individu, pemahaman terhadap pemeriksaan, serta motivasi internal, meskipun masih terdapat miskonsepsi dan hambatan praktis seperti waktu dan akses layanan.

Kesimpulan: Implementasi program deteksi dini kanker serviks metode HPV-DNA co-testing IVA di DIY telah berjalan dengan baik, namun masih memerlukan penguatan pada aspek manajemen program, sistem surveilans, dan strategi komunikasi. Efikasi diri merupakan faktor kunci dalam meningkatkan penerimaan dan partisipasi wanita usia subur, sehingga intervensi yang berfokus pada penguatan aspek psikososial dan pemahaman individu menjadi penting untuk meningkatkan cakupan deteksi dini.



Background: The Special Region of Yogyakarta has the highest prevalence of cervical cancer in Indonesia (3.6%), while the coverage of VIA screening in 2024 was only 10.82%, far below the national target of 80%. In response to the limitations of VIA sensitivity and in line with WHO recommendations, the HPV-DNA co-testing with VIA method has been implemented since 2025. However, a comprehensive evaluation of program implementation, surveillance system, and acceptability at the regional level remains limited.

Methods: This study employed a descriptive quantitative and mixed-method sequential explanatory approach conducted in the Special Region of Yogyakarta from October 2025 to March 2026. Program implementation and surveillance system were evaluated among program managers at provincial, district, and primary healthcare levels. Acceptability and participation were assessed among women aged 30–50 years using a cross-sectional design, complemented by in-depth interviews with eight selected informants.

Results: The program implementation was generally well-performed, particularly in process and service coverage. However, gaps remained in program management, human resource capacity, monitoring and evaluation, and structured dissemination. The surveillance system using NAR was widely implemented and accepted, yet limitations were identified in system access, data analysis, and data utilization. Quantitative analysis showed that self-efficacy was consistently associated with both acceptability and participation. Intervention coherence and perceived burden were associated with acceptability, while information sources and affective attitude were associated with participation. Qualitative findings supported these results, highlighting that individual confidence, awareness, understanding of the intervention, and internal motivation influenced decision-making, despite existing misconceptions and practical barriers such as time and access.

Conclusion: The HPV-DNA co-testing VIA program in Yogyakarta has been implemented adequately but requires strengthening in program management, surveillance systems, and communication strategies. Self-efficacy plays a key role in improving acceptability and participation; therefore, interventions targeting psychosocial factors and individual understanding are essential to increase screening coverage.

Kata Kunci : Deteksi dini kanker serviks, HPV-DNA co-testing IVA, evaluasi program, surveilans, efikasi diri, penerimaan, partisipasi

  1. S2-2026-533283-abstract.pdf  
  2. S2-2026-533283-bibliography.pdf  
  3. S2-2026-533283-tableofcontent.pdf  
  4. S2-2026-533283-title.pdf