Laporkan Masalah

Menelusuri Reproduksi Public Value dalam Arena Non-Negara (Studi Etnografi pada Gerakan Sekolah Pagesangan dalam Upaya Merebut Kedaulatan Pangan Lokal di Wintaos, Gunungkidul)

ASEP DIAN MARDIANSYAH LESMANA, Dr. Suripto, S.I.P., M.P.A.

2026 | Tesis | MAGISTER MANAJEMEN DAN KEBIJAKAN PUBLIK

Public value lazim dipahami sebagai sesuatu yang diproduksi melalui kebijakan dan/atau institusi negara. Padahal, dalam kehidupan masyarakat Wintaos yang khas dengan budaya tetanen dan prinsip “entek amek, kurang golek”, ada dinamika dan reproduksi nilai yang punya unsur “publik” melalui praktik-praktik di luar otoritas formal. Berangkat dari ketegangan konseptual dan empiris tersebut, penelitian ini mengkaji bagaimana nilai-nilai yang menopang penghidupan masyarakat Wintaos terbentuk, berubah, dan dipergulatkan, serta bagaimana Gerakan Sekolah Pagesangan mereproduksi nilai-nilai tersebut sebagai public value melalui pendidikan kontekstual berbasis komunitas.

Penelitian ini menggunakan pendekatan etnografi yang dilakukan di Dusun Wintaos, Gunungkidul. Data diperoleh melalui observasi partisipatif, wawancara mendalam, dokumentasi, serta keterlibatan peneliti dalam kehidupan sehari-hari komunitas selama proses penelitian. Analisis dilakukan sepulcara interpretatif untuk memahami makna yang hidup di balik praktik, relasi sosial, dan pengalaman keseharian masyarakat.

Penelitian ini menunjukkan bahwa penghidupan masyarakat Wintaos ditopang oleh nilai-nilai subsistensi, keberdayaan, dan otonomi yang terbentuk melalui interaksi panjang antara masyarakat, lanskap karst, serta pengalaman historis menghadapi krisis pangan. Modernisasi pertanian, kurikulum pendidikan formal, dan sistem pangan berbasis pasar menggeser nilai-nilai tersebut sekaligus melemahkan keterhubungan generasi muda dengan pengetahuan lokal. Dalam situasi demikian, Sekolah Pagesangan hadir bukan sebagai upaya mempertahankan tradisi secara nostalgis, melainkan sebagai ruang sosial yang mereproduksi nilai-nilai tersebut melalui pendidikan yang menghubungkan kembali proses belajar dengan kehidupan sehari-hari. Reproduksi itu berlangsung melalui praktik bertani, pengolahan pangan, pembelajaran antargenerasi, pengorganisasian komunitas, serta penguatan kapasitas kolektif dalam mengelola sistem pangan lokal.

Penelitian ini berargumen bahwa public value tidak semata-mata merupakan keluaran kebijakan atau organisasi publik, melainkan dapat diproduksi melalui praktik sosial yang menumbuhkan kembali kepentingan bersama, legitimasi kolektif, dan kapasitas komunitas untuk mengelola kehidupan mereka sendiri. Dengan demikian, penelitian ini memperluas diskursus kebijakan publik dengan menunjukkan bahwa produksi public value juga dapat berlangsung sebagai praktik publicness dalam arena non-negara, sekaligus mengusulkan community policy sebagai konsep analitis untuk memahami bagaimana komunitas membentuk arah tindakan kolektif dalam merespons persoalan publik di luar mekanisme kebijakan formal negara.

Public value is commonly understood as something produced through state policies and/or public institutions. Yet, within the agrarian community of Wintaos, where the tradition of tetanen and “entek amek, kurang golek” (subsistence-oriented farming) continues to shape everyday life, values bearing a distinctly public character are continuously negotiated and reproduced through practices beyond the reach of formal state authority. Against this conceptual and empirical tension, this study examines how the values sustaining the livelihoods of the Wintaos community have been formed, transformed, and contested over time, and how the Sekolah Pagesangan movement reproduces these values as public value through community-based contextual education.

This study employs an ethnographic approach conducted in Wintaos, Gunungkidul, Indonesia. Data were collected through participant observation, in-depth interviews, document analysis, and the researcher’s sustained engagement in the everyday life of the community. The data were interpreted to uncover the meanings embedded in social practices, relationships, and lived experiences.

The findings reveal that the livelihoods of the Wintaos community are sustained by values of subsistence, empowerment, and autonomy, which have evolved through a long interaction between the community, the karst landscape, and the collective memory of recurring food crises. However, agricultural modernization, standardized formal education, and market-oriented food systems have gradually displaced these values while weakening younger generations’ connections to local knowledge. In this context, Sekolah Pagesangan does not seek to preserve tradition nostalgically. Rather, it serves as a social arena where these values are reproduced through a contextual educational process that reconnects learning with everyday life. This reproduction takes place through farming practices, local food processing, intergenerational learning, community organizing, and the strengthening of collective capacities to manage local food systems.

This study argues that public value should not be understood solely as an outcome of government policies or public organizations. Instead, it can also be produced through social practices that regenerate shared concerns, collective legitimacy, and the community’s capacity to govern its own way of life. By demonstrating this, the study contributes to public policy scholarship by showing that the production of public value can emerge as a practice of publicness within non-state arenas, while proposing community policy as an analytical concept for understanding how communities collectively shape courses of action to address public problems beyond the formal mechanisms of state policymaking.

Kata Kunci : public value, publicness, community policy, contextual education, local food sovereignty

  1. S2-2026-546133-abstract.pdf  
  2. S2-2026-546133-bibliography.pdf  
  3. S2-2026-546133-tableofcontent.pdf  
  4. S2-2026-546133-title.pdf