MEMBUKA POTENSI WISATA KESEHATAN DI INDONESIA: TANTANGAN MENUJU AGENDA SETTING KEBIJAKAN, PROVINSI DIY
Radya Adhirajasa Mulyawardhana, Dr. Erda Rindrasih, S.Si., M.U.R.P
2026 | Skripsi | ILMU ADMINISTRASI NEGARA (MANAJEMEN DAN KEBIJAKAN PUBLIK)
Meninjau geliat sektor pariwisata dan kesehatan yang semakin berkembang pesat pada Kota Yogyakarta, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta dengan pembangunan dan pengembangan fasilitas-fasilitas kesehatan dan atraksi destinasi pariwisata baru. Maka temuan awal tersebut memotivasi peneliti untuk melakukan riset yang disusun dengan kerangka penelitian metode kualitatif dengan menempatkan wawancara semi terstruktur sebagai data primer dan data sekunder berupa artikel jurnal, media berita digital, buku dan sumber literatur lain yang dapat menambah kekuatan argumen yang disusun oleh peneliti.
Ditemukan pola yang disusun dari kumpulan data primer dan sekunder yang memperkuat asumsi peneliti dalam persepsi yang belum ditemukan oleh penelitian sebelumnya yaitu ego sektoral ketika membentuk wisata kesehatan berupa health tourism, wellness tourism, dan medical tourism serta kurangnya koordinasi dalam pengambilan keputusan untuk mengesahkan kebijakan menyebabkan terjadinya missing link untuk mencapai tujuan bersama. Sehingga potensi nilai tambah yang seharusnya mudah didapatkan secara bersama menjadi tidak tercapai secara optimal. Oleh karena itu, penelitian mendasari bagaimana relasi kuasa dan kapasitas sumber daya dapat mempengaruhi narasi kebijakan publik.
Reviewing the developmental growth of the tourism and health sectors in Yogyakarta City, Special Region of Yogyakarta, with the newly built construction and development of health facilities and new tourism destination attractions. Thus, these initial findings motivated the researcher to conduct a study structured within a qualitative research framework, placing semi-structured interviews as primary data and secondary data in the form of journal articles, digital news media, books, and other literature sources that can strengthen the arguments formulated by the researcher.
One pattern was found from the collection of primary and secondary data that reinforced the researcher's assumption in a perception not previously identified by earlier studies, namely sectoral ego when forming health tourism in the form of health tourism, wellness tourism, and medical tourism, as well as the lack of coordination in decision-making to endorse policies, leading to a missing link in achieving common goals. Thus, the potential added value that should have been easily obtained together was not achieved optimally. Therefore, the research is based on how power relations and resource capacity can influence public policy narratives.
Kata Kunci : Wisata Kesehatan, Medical Tourism, Health Tourism, Policy Cycle, Kebijakan Publik, Kelembagaan Publik