Laporkan Masalah

Peran Benjamin Netanyahu dalam Proses Pengambilan Keputusan Kebijakan Luar Negeri (Studi Kasus: Kebijakan Israel dalam Konflik Israel-Palestina Tahun 2014-2024)

RASYIQ ARIF BUAMONA, Dr. Diah Kusumaningrum, M.A.

2026 | Tesis | S2 Ilmu Hubungan Internasional

Dalam studi tentang analisis kebijakan luar negeri, individu pemimpin sebagai ultimate decision-maker memainkan peran yang krusial dalam membentuk kebijakan. Lahirnya kebijakan tidak dapat dilepaskan dari sistem keyakinan (belief) pemimpin tersebut dalam memahami hakikat politik. Dengan menggunakan teori Operational Code Analysis (OCA) yang dikembangkan oleh Alexander George (1969) dan realisme neoklasik, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana belief Netanyahu memengaruhi kebijakan luar negeri Israel dalam konflik Israel-Palestina tahun 2014 hingga 2024. Data dikumpulkan dari transkrip pidato Netanyahu di forum-forum penting seperti Majelis Umum PBB, Kongres Zionis, Kongres Amerika Serikat, Pernyataan pers yang dipublikasikan kantor Perdana Menteri Israel, dan wawancaranya bersama CBS News, ABC News, dan Majalah Times, serta literatur akademik kredibel. Data tersebut lalu dianalisis melalui sepuluh indikator filosofis (P-1 hingga P-5) dan instrumental (I-1 hingga I-5). Temuan penelitian ini menunjukkan belief Netanyahu memengaruhi kebijakan melalui tiga mekanisme: keyakinan filosofis yang berfungsi sebagai filter diagnostik yang mempersepsikan semua aktor yang kontra dengan Israel sebagai ancaman eksistensial dan keyakinan instrumental, berupa penggunaan kekuatan militer sebagai sarana primer dan diplomasi selektif sebagai komplemen yang merupakan proyeksi dari diagnosis yang sudah ada, dan konsistensi keyakinan filosofis yang dipadukan dengan pergeseran keyakinan instrumental. Sepanjang periode (2014-2024), keyakinan filosofis Netanyahu menunjukkan konsistensi, sedangkan keyakinan instrumentalnya mengalami pergeseran dari penggunaan kekuatan dengan logika mowing the grass (cumulative deterrence) – melalui Operasi Protective Edge (2014) dan Operasi Guardian of the Walls (2021) – yang dikombinasikan dengan penggunaan diplomasi secara selektif dan terbatas untuk menggalang dukungan regional dan internasional terhadap tindakan pertahanan diri Israel – ditandai dengan penandatanganan Abraham Accords (2020). Operasi Taufan Al-Aqsa yang diluncurkan Hamas pada 7 Oktober menjadi red-line yang mengeksternalisasi belief Netanyahu dan melahirkan pergeseran kebijakan dari cumulative deterrence menjadi compellence yang ditandai dengan Operasi Swords of Iron. Penelitian ini menunjukkan bagaimana belief individu pemimpin memegang peranan dalam membentuk kebijakan luar negeri, sekaligus memvalidasi poin bahwa tiap Perdana Menteri dengan sistem belief yang berbeda akan melahirkan kebijakan yang berbeda pula.

In the study of foreign policy analysis, individual leaders, as ultimate decision-makers, play a crucial role in shaping policy outcomes. The emergence of policy cannot be separated from the leader’s belief system in understanding the nature of politics. Using Operational Code Analysis (OCA) theory developed by Alexander George (1969) and neoclassical realism, this study aims to examine how Netanyahu’s beliefs influence Israel’s foreign policy in the Israel–Palestine conflict from 2014 to 2024. Data are collected from transcripts of Netanyahu’s speeches in key forums such as the United Nations General Assembly, the Zionist Congress, and the United States Congress; official press statements issued by the Israeli Prime Minister’s Office; interviews with CBS News, ABC News, and Time Magazine; as well as credible academic literature. The data are then analyzed through ten indicators, consisting of five philosophical beliefs (P-1 to P-5) and five instrumental beliefs (I-1 to I-5). The findings indicate that Netanyahu’s beliefs shape policy through two mechanisms. First, philosophical beliefs function as a diagnostic filter that perceives all actors opposing Israel as existential threats. Second, instrumental beliefs—manifested in the primacy of military force and the complementary use of selective diplomacy—serve as projections of this prior diagnosis. Throughout the 2014–2024 period, Netanyahu’s philosophical beliefs remain consistent, while his instrumental beliefs evolve. This evolution is reflected in a shift from the use of force guided by the logic of “mowing the grass” (cumulative deterrence)—as seen in Operation Protective Edge (2014) and Operation Guardian of the Walls (2021)—combined with selective and limited diplomacy to mobilize regional and international support for Israel’s right to self-defense, exemplified by the signing of the Abraham Accords (2020). The Al-Aqsa Flood operation launched by Hamas on October 7 serves as a red line that externalizes Netanyahu’s beliefs and triggers a shift in policy from cumulative deterrence to compellence, marked by Operation Swords of Iron. This study demonstrates how individual leaders’ beliefs play a significant role in shaping foreign policy, while also validating the argument that different prime ministers, with different belief systems, will produce different policy outcomes.

Kata Kunci : Benjamin Netanyahu, Operational Code Analysis, Kebijakan Luar Negeri Israel, Konflik Israel-Palestina

  1. S2-2026-548213-abstract.pdf  
  2. S2-2026-548213-bibliography.pdf  
  3. S2-2026-548213-tableofcontent.pdf  
  4. S2-2026-548213-title.pdf