Companion Animal Ethics : Studi Mixed-methods pada Pemilik Hewan di Daerah Istimewa Yogyakarta
Afghan Azka Falah, Prof. drh. Sitarina Widyarini, M.P.., Ph.D.; Dr. Dra. Retna Siwi Padmawati, MA
2026 | Tesis | MAGISTER BIOETIKA
Hubungan antara manusia dan hewan
peliharaan telah berkembang menjadi hubungan pendampingan (companionship)
yang mendalam. Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dipilih sebagai lokasi studi
karena memiliki kepadatan penduduk tinggi serta dinamika sosial-budaya yang
kompleks. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi profil demografi pemilik,
mengukur tingkat kelekatan, serta menginterpretasikan etika interaksi sehari-hari
antara pemilik dan hewan. Metode yang digunakan adalah mixed methods
dengan concurrent design. Pada tahap kuantitatif, data dikumpulkan
melalui survei menggunakan adaptasi Puerto Rico Comprehensive Companion
Animal Survey dengan teknik purposive sampling dan analisis
deskriptif. Pada tahap kualitatif, wawancara mendalam dilakukan untuk
memperdalam, memperluas, dan menjelaskan hasil temuan statistik tersebut
menggunakan pendekatan analisis tematik.
Hasil penelitian menunjukkan pemilik hewan di DIY didominasi perempuan
lajang usia muda (19–30 tahun), berpendidikan tinggi (S1/mahasiswa), menetap di
Sleman dan Bantul, dengan pendapatan mayoritas < Rp5 juta per bulan. Secara kuantitatif, tingkat kelekatan (pet attachment) tergolong
sedang-tinggi yang berbasis pada keseimbangan aspek animal welfare dan general
attachment yang adaptif. Uji Spearman Rank membuktikan mayoritas
variabel sosiodemografi tidak berhubungan signifikan dengan pet attachment,
kecuali jenis kelamin (perempuan lebih tinggi) dan tipe tempat tinggal (faktor
terkuat terkait proksimitas ruang). Secara kualitatif, human-animal bond
termanifestasi melalui zooeyia, anthropomorphism, dan baby
schema yang berakar pada filosofi "Wawasan Kejogjaan" (Hamemayu
Hayuning Bawono, Manunggaling Kawula Gusti, Sangkan Paraning
Dumadi), sekaligus menjembatani mazhab etika modern (deontologi,
utilitarianisme, virtue ethics, dan ethics of care). Meski
demikian, masih terdapat ambivalensi moral di lapangan berupa bias
religiusitas, paradoks konsumsi daging anjing (carnism), dan speciesism
yang membuat implementasi kearifan lokal tersebut masih bersifat selektif dan
situasional.
The
relationship between humans and companion animals has evolved into deep
companionship. Yogyakarta Special Region (DIY) was selected as the research
location due to its high population density and complex socio-cultural
dynamics. This study aims to identify the demographic profiles of pet owners,
measure their attachment levels, and interpret the everyday ethics of human-animal
interactions. A mixed-methods approach with an concurrent design was employed. In the quantitative
phase, data were collected through a survey adapting the Puerto Rico
Comprehensive Companion Animal Survey via purposive sampling and analyzed
descriptively. In the qualitative phase, in-depth interviews were conducted to
deepen, expand, and explain the statistical findings using thematic analysis.
The findings
indicate that pet owners in DIY are predominantly single, young adult females
(19–30 years old), highly educated (undergraduates/students), residing in
Sleman and Bantul, with a majority monthly income of < IDR 5 million. Quantitatively, pet attachment
levels fall into the moderate-to-high category, driven by an adaptive balance
between animal welfare awareness and general attachment. Spearman’s rank
correlation test demonstrates that most sociodemographic variables bear no
significant relationship with pet attachment, except for gender (females
scoring higher) and housing type (the strongest factor related to spatial
proximity). Qualitatively, the human-animal bond manifests through zooeyia,
anthropomorphism, and the baby schema effect, all of which are deeply rooted in
the local philosophy of Wawasan Kejogjaan (Hamemayu Hayuning Bawono,
Manunggaling Kawula Gusti, Sangkan Paraning Dumadi). This cultural framework
harmoniously bridges modern ethical theories, including deontology,
utilitarianism, virtue ethics, and the ethics of care. Nevertheless, moral
ambivalences persist in practice—such as religiosity biases, the meat paradox
(carnism), and speciesism—rendering the implementation of local wisdom selective
and situational.
Kata Kunci : companion animal, pet ownership ethics, human-animal bond