Bermain dengan kematian :: Transisi pengetahuan masyarakat di Kaki Menoreh tentang penyakit dan sakit malaria
PRIYATMONO, Gutomo, Dr. Heddy Shri Ahimsa Putra, MA.,Phil
2005 | Tesis | S2 AntropologiPenelitian yang dilakukan di Desa Hargowilis dan Hargotirto di Kaki Perbukitan Menoreh Kabupaten Kulon Progo diawali dari permasalahan wabah penyakit malaria yang menyerang kedua desa tersebut. Kedua desa tersebut sejak tahun 1997 dinyatakan sebagai daerah endemis yang mencapai puncaknya pada tahun 1999 hingga 2001. Berbagai macam program kegiatan pemberantasan penyakit malaria dilakukan di sana baik yang bersifat promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif. Keempat sifat kegiatan tersebut adalah sebuah sistem dalam pembangunan kesehatan masyarakat yang mempunyai fungsi dan tugas yang berbeda tetapi dengan tujuan yang sama yaitu membangun kesehatan masyarakat. Pembangunan kesehatan masyarakat dengan keempat sifatnya tersebut belum mampu membangun taraf kesehatan masyarakat di Hargowilis dan Hargotirto. Program pemberantasan malaria sebagai bagian dari pembangunan kesehatan masyarakat belum berhasil membebaskan masyarakat di kaki Menoreh dari penyakit dan sakit malaria. Kegiatan pemberantasan malaria yang mulai intensif dilakukan di kedua desa setelah terjadi Kejadian Luar Biasa Malaria tahun 1999 yang kemudian pada tahun 2000/2001 menggalakkan program nasional pemberantasan malaria GEBRAK MALARIA. Program ini pada tahun 2002 mulai terlihat hasilnya yaitu menurunkan kasus malaria di ke dua desa, tetapi belum berhasil membebaskan masyarakat dari wabah penyakit malaria. Masyarakat di kedua desa sering sekali mengalami kambuh di mana kekambuhan malaria tersebut mereka “selesaikan†dengan menempuh jalur non medis. Hal ini merupakan akibat dari program pemberantasan malaria yang sebenarnya sejak tahun 1950-an (periode pertama) kemudian dilanjutkan tahun 1970-an (periode kedua) dan periode GEBRAK MALARIA yang hanya bertujuan menurunkan kasus semata. Program-program tersebut yang dilakukan pada jangka waktu yang relatif lama dan didasarkan atas rasionalitas tujuan yang bersifat teknis tersebut belum berhasil menumbuhkan sistem pengetahuan tentang malaria di tengah masyarakat Hargowilis dan Hargotirto. Akibat tidak dimilikinya sistem pengetahuan malaria medis-modern oleh masyarakat di sana maka malaria dipahami masyarakat dari sudut pandang pengetahuan lokal yaitu penyakit horog-horog. Hal ini memunculkan transisi pengetahuan pada masyarakat di kedua desa, transisi pengetahuan yang tidak kunjung berakhir dengan mengedepankan medis modern sebagai orientasi kognitif mereka dalam menghadapi wabah malaria inilah yang disebut dalam penelitian ini sebagai bermain dengan kematian. Bermain dengan kematian adalah segala tindakan masyarakat yang dikendalikan oleh pengetahuan mereka yang bercabang yaitu medis-modern dan lokaltradisional terhadap penyakit dan sakit yang di derita masyarakat yaitu malaria. Wujud dari permainan ini salah satunya malarinen sebagai konsep kompromis antara horoghorog dan malaria. Malarianen dianggap bukan malaria malarianen adalah gejala yang sama dengan malaria tetapi dapat disembuhkan dengan pengobatan lokal, apabila pengobatan lokal tidak berhasil malarianen tersebut adalah malaria.
The goal of this research on knowledge transition on malaria disease and illness among Menoreh-Hill community is to know how the local people understand the malaria disease and illness from their own perspectives. To know the local people perspective on malaria, this research use ethnoscience or cognitive anthropology approach. Trough this approach the local classification and categorization on malaria will be reached. This research uses qualitative method by interviewed people who have been infecting malaria and their neighborhood also Juru Malaria Desa and Health Center staffs in Puskesmas 2 Kokap. This research was conducted in two villages, Hargotirto and Hargowilis Villages in Kokap Sub district, part of Kulon Progo District. Hargotirto and Hargowilis are the endemic area of malaria, it indicated from the Annual Paracite incidence or API. In the year of 2002-2003 the API number of Hargotirto was 739,98 and Hargowilis 200,14. It meant that in the year of 2002-2003 there were 739 persons who infected in Hargotirto, and 200 persons in Hargowilis. The result of this research shows that the people of Hargotirto and Hargowilis understand malaria as modern biomedical as local-traditional disease and illness that named horog-horog. It causes of the Programs on Anti Malaria which implemented by the Indonesia Government can not touch the idea level of disease and illness among the villagers of two villages. It concluded That the people of Menoreh-Hill in those two villages understanding malaria trough their local perspective, it is what described as knowledge transition on Malaria Disease and illness, that two perspectives of disease and illness make dialog day by day without any decision. So the people of Hargotirto and Hargowilis make compromise on that uncertainly situation on their cognitive maps on disease and illness which is by owned malarianen as new terminology of disease and illness.
Kata Kunci : Pembangunan Kesehatan,Pemberantasan Malaria,Pengetahuan Masyarakat, Malaria, Knowledge transition, Disease, Illness.