Bertetangga dengan orang asing :: Konstruksi sosial orang perumahan di Yogyakarta
WIDURI S., Dyah, Dr. P.M. Laksono, MA
2005 | Tesis | S2 AntropologiTulisan ini memfokuskan pada kehidupan sehari-hari orang perumahan yang terdiri dari beragam tempat dan latar belakang budayanya masing-masing. Melalui studi ini saya menunjukkan para penghuni perumahan mengkonstruksi dirinya sendiri untuk menciptakan sejarahnya. Penghuni perumahan tinggal di rumah-rumah yang secara teknis saling berhubungan sebagai hasil dari industri perumahan. Mereka terikat oleh place, berada dalam posisi yang sama dan netral. Pasar perumahan itu sendiri lahir atas asumsi tingginya jumlah kebutuhan rumah di Yogyakarta, akibatnya perumahan dibangun untuk memenuhi jumlah kebutuhan itu. Rumah dipandang sebagai komoditas oleh para pembangun perumahan tanpa memperhatikan persoalan sosial yang menimpa para penghuni maupun komunitas pedesaan di sekitarnya. Dalam ruang yang tersedia inilah, orang perumahan membangun komunitas dengan cara menegakkan hirarki, menetapkan batas-batas antara dirinya dan orang lain. Toleransi, pertukaran, dan kepercayaan, adalah elemen sosial ketika membicarakan keteraturan kehidupan komunal. Orang perumahan kemudian menginterpretasikan tiga elemen itu untuk melahirkan spirit dan memaknai komunitas, melalui peristiwa-peristiwa sosial tertentu yaitu kemalingan dan ritual keagamaan. Orang perumahan membangun space mengikuti logika administratif, tanpa jalinan kekerabatan yang terikat oleh tradisi. Kebersamaan dimanifestasikan secara kontekstual, ketika orang sama-sama sepakat pada satu hal dan mengikuti hasil kesepakatan itu, yang pada umumnya terjadi pada ritual keagamaan. Akan tetapi ritual keagamaan tidak mampu mengikat kebersamaan orang perumahan secara meluas dan tidak mampu memberi solusi sosial sehingga tidak bisa menyelesaikan persoalan kemalingan, kontras dengan harapan mereka agar kerasan tinggal di perumahan.
This study dealt with the everyday life of housing compound inhabitants that consists of people from different place of origin and socio-cultural background. In this work I would like to show how housing compund inhabitants constructs their own self in attempt to create their history. Inhabitants of housing compound lives in houses with similar technical background as product of housing industry in Indonesia. The houses are tied together as they are located in a same place and socially they are equal one to another. Market for housing emerges from an assumption on the high demand for housing in Yogyakarta, and houses have been built to fill the demand. House is seen as commodity by housing developers and they pays almost no attention to social problems that may occur among the housing compound inhabitants and the village communities next to them. In this social space, housing compound inhabitants contructs their community by establishing social hierarchy and boundary between themselves and other people. Through certain social events such as theft and religious rituals housing compound inhabitants utilizes social tolerance, exchange and trust to create solidarity and interpreting their common existence. The housing compound inhabitants creates their social space based on governmental logic, empty of either genealogical or tradition ties. Togetherness, just as we can see on religious rituals, is manifested contextually when people reaches agreement on a certain thing and obeys the agreement. Religious rituals, however, unable to create extensive social bonding among housing compound inhabitants and failed to offer solution for practical social problems, such as theft. Certainly this is in contrast to housing compound inhabitants’ hope to feel at home in their new social environment.
Kata Kunci : Hubungan Sosial,Masyarakat Perumahan dan Dusun, housing compound, commodity, social hierarchy, community