Laporkan Masalah

Tradisi Labuhan Hajad Parangkusumo Keraton Yogyakarta dalam Perspektif Hermeneutika Fenomenologis Martin Heidegger

Arnell Khaerandy, Dr. Dra. Sartini, M.Hum. ; Drs. Budisutrisna, M.Hum. ; Dr. Arqom Kuswanjono, S.S., M.Hum. ; Dr. M. Rodinal Khair Khasri, S.Fil., M.Phil.

2026 | Skripsi | ILMU FILSAFAT

Tradisi Labuhan Hajad Parangkusumo merupakan salah satu warisan budaya Keraton Yogyakarta yang memuat nilai-nilai religius, sosial, dan filosofis dalam kehidupan masyarakat Jawa. Di tengah perkembangan modernisasi, tradisi ini menghadapi tantangan berupa perubahan cara pandang masyarakat yang berpotensi mengurangi pemaknaan terhadap nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap makna subjektif eksistensial Tradisi Labuhan Hajad melalui perspektif hermeneutika fenomenologis Martin Heidegger, dengan menelaah pengalaman hidup abdi dalem Keraton Yogyakarta, pemaknaan tradisi sebagai Being in the World, serta simbol dan bahasa yang merepresentasikan keberadaan (Dasein) dalam tradisi tersebut.

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode hermeneutika fenomenologis Martin Heidegger. Penelitian dilaksanakan di kawasan Keraton Yogyakarta dan Pantai Parangkusumo dengan melibatkan informan yang memahami dan terlibat dalam pelaksanaan Tradisi Labuhan Hajad. Data diperoleh melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan tahapan hermeneutika fenomenologis Heidegger melalui struktur pra-pemahaman (Vorhabe, Vorsicht, dan Vorgriff) untuk menginterpretasikan tiga aspek, yaitu: pertama, makna pengalaman subjektif eksistensial, yang kedua adalah bentuk Being in the World, dan yang ketiga adalah makna simbol dan bahasa dalam pelaksanaan tradisi.


Hasil penelitian pertama menunjukkan bahwa Tradisi Labuhan Hajad Parangkusumo tidak hanya dipahami sebagai ritual budaya, tetapi juga sebagai pengalaman eksistensial yang memperlihatkan relasi manusia dengan Tuhan, alam, sesama. Hasil penelitian kedua menunjukan bahwa narasumber yaitu abdi dalem Keraton Yogyakarta merasakan pengalaman dari Dasein yang bisa dikategorikan sebagai Being in the World. Hasil penelitian ketiga mengemukakan bahwa simbol dan bahasa yang menyertai pelaksanaan tradisi menjadi manifestasi Dasein yang mengungkap nilai syukur, penghormatan, kebersamaan, tanggung jawab, serta kesinambungan warisan budaya. Melalui hermeneutika fenomenologis Martin Heidegger, penelitian ini menunjukkan bahwa makna Tradisi Labuhan Hajad Parangkusumo terus dihayati dan diwariskan sebagai bentuk keberadaan manusia yang senantiasa berada dalam dunia historis, sosial, dan spiritualnya.

The Labuhan Hajad Parangkusumo tradition is one of the cultural heritages of the Yogyakarta Sultanate that embodies religious, social, and philosophical values in Javanese society. Amid the development of modernization, this tradition faces challenges in the form of changing perspectives among society, which may potentially diminish the understanding and significance of the values embedded within it. This study aims to explore the existential subjective meaning of the Labuhan Hajad tradition through the perspective of Martin Heidegger’s phenomenological hermeneutics by examining the lived experiences of the abdi dalem of the Yogyakarta Sultanate, the meaning of the tradition as Being-in-the-World, and the symbols and language that represent Dasein within the tradition.


This study employs a qualitative approach using Martin Heidegger’s phenomenological hermeneutics. The research was conducted in the area of the Yogyakarta Sultanate and Parangkusumo Beach, involving informants who possess knowledge of and participate in the implementation of the Labuhan Hajad tradition. Data were collected through interviews, observations, and documentation, and were subsequently analyzed using Heidegger’s phenomenological hermeneutic process through the pre-understanding structures of Vorhabe, Vorsicht, and Vorgriff to interpret three aspects: the meaning of existential subjective experience, the form of Being-in-the-World, and the meaning of symbols and language in the implementation of the tradition.


The first finding shows that the Labuhan Hajad Parangkusumo tradition is understood not merely as a cultural ritual, but also as an existential experience that reveals the relationship between human beings, God, nature, and others. The second finding indicates that the informants, particularly the abdi dalem of the Yogyakarta Sultanate, experience Dasein in a manner that can be understood as Being-in-the-World. The third finding demonstrates that the symbols and language accompanying the implementation of the tradition serve as manifestations of Dasein, expressing values of gratitude, respect, togetherness, responsibility, and the continuity of cultural heritage. Through Martin Heidegger’s phenomenological hermeneutics, this study demonstrates that the meaning of the Labuhan Hajad Parangkusumo tradition continues to be experienced and transmitted as a form of human existence that is always situated within its historical, social, and spiritual world.

Kata Kunci : Heidegger, Labuhan Hajad Parangkusumo fenomenologi, hermeneutika, Dasein, Auslegung, Vorhabe, Vorsicht, Vorgriff.

  1. S1-2026-480695-abstract.pdf  
  2. S1-2026-480695-bibliography.pdf  
  3. S1-2026-480695-tableofcontent.pdf  
  4. S1-2026-480695-title.pdf