Laporkan Masalah

Analisis Kebijakan Sistem Kesehatan di Pondok Pesantren: Tinjauan dan Rekomendasi Kebijakan Kesehatan untuk Pondok Pesantren melalui Pendekatan Scoping Review Analysis

ACHMAD ALI MACHFUD, Prof. DR. dr. Mubasysyir Hasanbasri, MA dan dr. Haryo Bismantara, MPH

2026 | Tesis | MAGISTER KEBIJAKAN DAN MANAJEMEN KESEHATAN

Latar Belakang: Karakteristik kehidupan komunal di pondok pesantren meningkatkan risiko berbagai masalah kesehatan, sementara implementasi sistem kesehatan pesantren, termasuk Poskestren dan Santri Husada, masih menghadapi berbagai tantangan. Hingga kini, belum tersedia pemetaan komprehensif mengenai komponen sistem kesehatan, praktik implementasi, dan kesenjangan penelitian di lingkungan pesantren.


Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk memetakan secara sistematis literatur ilmiah mengenai sistem kesehatan di sekolah berasrama dan pondok pesantren guna mengidentifikasi komponen utama, praktik implementasi, tantangan kesehatan yang dominan, serta kesenjangan penelitian yang masih ada.


Metode: Tinjauan lingkup (scoping review) dilakukan dengan mengacu pada kerangka kerja Joanna Briggs Institute (JBI) dan dilaporkan sesuai dengan pedoman PRISMA-ScR. Literatur yang diterbitkan pada periode 2018–2024 diperoleh dari basis data internasional dan nasional, kemudian dianalisis menggunakan kerangka WHO Health System Building Blocks, Logic Model, Policy Triangle dari Walt dan Gilson,


Hasil: Sebanyak tujuh penelitian memenuhi kriteria inklusi. Temuan utama menunjukkan bahwa sistem berasrama mampu meningkatkan perkembangan kognitif, namun berpotensi memberikan dampak negatif terhadap kesejahteraan emosional. Kondisi lingkungan fisik masih menghadapi berbagai permasalahan, seperti kepadatan kamar yang tinggi (75,9% kamar mengalami kelebihan kapasitas), pencahayaan yang tidak memenuhi standar (96,4%), serta pengelolaan sampah yang kurang memadai, sehingga meningkatkan risiko penularan tuberkulosis (TB) dan skabies. Di sisi lain, peraturan kelembagaan serta keberadaan Santri Husada sebagai kader kesehatan terbukti menjadi faktor protektif yang kuat dalam mendukung kesehatan warga pesantren.


Kesimpulan: Kebijakan kesehatan di pondok pesantren perlu beralih dari pendekatan yang berfokus pada edukasi individu menuju intervensi yang bersifat struktural, seperti pengurangan kepadatan hunian dan peningkatan sanitasi kamar. Selain itu, penerapan kepemimpinan terdistribusi (distributed leadership) perlu dikembangkan untuk memperkuat pemberdayaan unit kesehatan berbasis komunitas di lingkungan pesantren.

Background: The communal living characteristics in Islamic boarding schools (pesantren) increase the risk of various health issues, while the implementation of the boarding school health system, including Poskestren and Santri Husada, still faces multiple challenges. To date, a comprehensive mapping of health system components, implementation practices, and research gaps in the pesantren environment remains unavailable.


Objective: This study aims to systematically map the scientific literature on health systems in boarding schools and pesantren to identify key components, implementation practices, dominant health challenges, and existing research gaps.


Methods: A scoping review was conducted referring to the Joanna Briggs Institute (JBI) framework and reported according to the PRISMA-ScR guidelines. Literature published between 2018 and 2024 was retrieved from international and national databases, then analyzed using the WHO Health System Building Blocks, Logic Model, and Walt and Gilson's Policy Triangle frameworks.


Results: A total of seven studies met the inclusion criteria. Key findings show that the boarding system is able to enhance cognitive development but potentially poses negative effects on emotional well-being. Physical environmental conditions still face various issues, such as high room density (75.9% of rooms overcapacity), substandard lighting (96.4%), and inadequate waste management, thereby increasing the risk of tuberculosis (TB) and scabies transmission. Conversely, institutional regulations and the existence of Santri Husada as health cadres prove to be strong protective factors in supporting the health of the pesantren community.


Conclusion: Health policies in pesantren need to shift from individually-focused educational approaches toward structural interventions, such as reducing occupancy density and improving room sanitation. Furthermore, the implementation of distributed leadership should be developed to strengthen the empowerment of community-based health units in the pesantren environment.


Kata Kunci : scoping review, sistem kesehatan, pondok pesantren, kesehatan santri, kebijakan kesehatan

  1. S2-2026-538367-abstract.pdf  
  2. S2-2026-538367-bibliography.pdf  
  3. S2-2026-538367-tableofcontent.pdf  
  4. S2-2026-538367-title.pdf