Laporkan Masalah

Ritual and Social Integration: a Study of Cembengan Tradition and its Role in a Sugar Factory in Yogyakarta

Yohanes Leonardus Krismawan Anugrah Putra, Mohammad Iqbal Ahnaf, M.A., Ph. D.

2026 | Tesis | S2 Agama dan Lintas Budaya

Ritual sering kali dipandang sebagai ekspresi spiritual dari relasi manusia dengan Tuhan maupun entitas supranatural lainnya. Sementara gagasan tentang Tuhan maupun roh sendiri merupakan kunci dari ritual. Praktik tersebut membentuk etika dan kebiasaan, termasuk bagi mereka yang bekerja dalam lanskap modern maupun industri. Studi ini berfokus pada fungsi ritual Cembengan di Pabrik Gula Madukismo, Yogyakarta. Ritual tersebut telah mengakar dalam dinamika sosial maupun historis, serta memengaruhi individu dengan kepercayaan dan identitas berbeda untuk memberikan makna kepada paar pekerja pabrik gula yang telah beroperasi sejak periode kolonial Belanda. Penelitian ini disusun berdasarkan tiga pertanyaan penelitian. Yang pertama adalah etos apa yang mengonstruksi semangat awal dari ritual Cembengan, yang kedua adalah apa saja fungsi serta peranan dari ritual dalam mengembangkan integrasi sosial dalam periode modern ini, dan yang ketiga adalah bagaimana ritual Cembengan mengonstruksi makna spiritual dalam sebuah lanskap industri. Untuk menjawab ketiga pertanyaan tersebut, peneliti mengacu pada teori agama dari Émile Durkheim, teori "tradisi yang diciptakan" dari Eric Hobsbawm, dan teori ritual dari Catherine Bell. Penelitian ini mengacu pada metode kualitatif dengan beberapa teknik pengumpulan data, di antaranya observasi, wawancara, dan kajian pustaka.

Ritual has been most often seen as a spiritual expression of the relationship between humans and God or the ultimate being. While, ideas of God or the soul are key in ritual. In a communal society, the roles of ritual can be multidimensional. It shapes ethics and behaviours, including those working in modern or industrial settings. This study focuses on the function of the Cembengan ritual, which is preserved within an industrial setting of the Madukismo sugar factory in Yogyakarta. The ritual is embedded in the social and historical dynamics and influences actors with different beliefs and identities to give meaning to the workers in the sugar factory in its operation since the Dutch colonial era. This research was constructed based on three research questions. The first is what ethos constructs the initial spirit of the Cembengan ritual; the second is what the functions and roles of a ritual are in cultivating social integration in this modern period; the third is how a Cembengan ritual practice constructs a spiritual meaning within an industrial sphere. To explain the problems, this research drew on the theory of religion from Émile Durkheim, the Invented Tradition theory from Eric Hobsbawm, and the Ritual Theory from Catherine Bell. Research data were collected through the qualitative method, with observation, interviews, and literature reviews. 

Kata Kunci : Ritual Cembengan, seting industri, integrasi sosial, otorias kultural.

  1. S2-2026-545648-abstract.pdf  
  2. S2-2026-545648-bibliography.pdf  
  3. S2-2026-545648-tableofcontent.pdf  
  4. S2-2026-545648-title.pdf