Laporkan Masalah

ANALISIS PELUANG PENGHEMATAN DAN AUDIT ENERGI PADA GEDUNG PERKANTORAN DI PT. X (Studi Kasus di Industri Migas Sumatera Selatan)

Achmad Syaeful Amri, Ir. Muslim Mahardika S.T.. M.Eng. Ph.D., IPM., ASEAN Eng

2010 | Skripsi | S1 TEKNIK MESIN

Gedung merupakan tempat bagi karyawan dalam menjalankan tugas dan pekerjaannya serta menjadi sarana penunjang kegiatan operasional yang membutuhkan energi listrik dalam jumlah cukup besar. Secara umum, penggunaan energi listrik pada gedung dapat dibagi menjadi tiga kategori utama, yaitu untuk sistem pengkondisian udara (AC), pencahayaan, dan peralatan elektronik. Sistem pengkondisian udara seperti AC merupakan salah satu peralatan yang mengonsumsi energi listrik relatif besar, yaitu sekitar 60% dari total konsumsi energi listrik gedung. Kondisi tersebut menunjukkan adanya peluang untuk melakukan penghematan energi melalui upaya peningkatan efisiensi energi. Salah satu metode yang dapat digunakan untuk meningkatkan efisiensi penggunaan energi adalah konservasi energi. Konservasi energi merupakan upaya untuk meningkatkan efisiensi penggunaan energi atau mengurangi konsumsi energi tanpa mengurangi fungsi dan kenyamanan bangunan. Salah satu tahapan dalam konservasi energi adalah audit energi, yaitu suatu metode untuk mengetahui dan menganalisis tingkat konsumsi energi pada suatu gedung atau bangunan. Tugas akhir ini merupakan penerapan audit energi pada gedung-gedung perkantoran di salah satu perusahaan minyak yang berada di Pulau Sumatera. Dalam pelaksanaan audit energi, dilakukan perhitungan Intensitas Konsumsi Energi (IKE) pada setiap gedung. Nilai IKE tersebut kemudian dibandingkan dengan standar yang dikeluarkan oleh ASEAN-USAID, yaitu sekitar 240 kWh/m² per tahun untuk gedung perkantoran di Indonesia. Selanjutnya, dilakukan analisis untuk mengidentifikasi pola penggunaan energi serta mengetahui potensi penghematan energi pada masing-masing gedung. Berdasarkan hasil audit awal, diketahui bahwa beberapa gedung memiliki nilai IKE yang masih lebih tinggi dibandingkan dengan standar. Oleh karena itu, dilakukan audit energi secara rinci untuk mengetahui penyebab tingginya konsumsi energi. Dari hasil audit tersebut ditemukan beberapa kondisi yang berpotensi menyebabkan pemborosan energi, antara lain lampu gudang yang tetap menyala ketika tidak digunakan, gudang yang tidak menggunakan atap tembus cahaya, kondisi pipa refrigeran AC yang mengalami pengelupasan, serta penggunaan lampu dengan daya yang relatif tinggi pada lorong dan toilet. Selain temuan tersebut, peluang penghematan energi dapat dilakukan melalui perhitungan beban pendinginan pada setiap ruangan dan membandingkannya dengan kapasitas AC yang terpasang. Berdasarkan hasil perhitungan, secara keseluruhan kapasitas pendinginan AC pada setiap ruangan lebih besar dibandingkan dengan beban pendinginan yang dibutuhkan. Dengan menerapkan Peluang Hemat Energi (PHE) berdasarkan rekomendasi yang diperoleh, penghematan energi listrik diperkirakan mencapai 538,59 kWh per hari, atau sekitar 25% dari total konsumsi listrik gedung. Apabila dikonversikan ke dalam biaya, penghematan tersebut dapat mencapai sekitar Rp14.784.295,00 per bulan. Namun, berdasarkan hasil perhitungan IKE setelah penerapan PHE, masih terdapat beberapa gedung yang memiliki nilai IKE di atas standar. Oleh karena itu, upaya penghematan dan peningkatan efisiensi energi masih perlu dilakukan secara berkelanjutan.

Kata Kunci : gedung, IKE, energi, efisiensi, penghematan

  1. S1-FTK-2010-Achmad_Syaeful_Amrid-abstrak.pdf  
  2. S1-FTK-2010-Achmad_Syaeful_Amrid-bibliografi.pdf  
  3. S1-FTK-2010-Achmad_Syaeful_Amrid-tableofcontent.pdf  
  4. S1-FTK-2010-Achmad_Syaeful_Amrid-title_.pdf