Pola Penatalaksanaan Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) pada Balita di SMF Anak RSUP Dr. Sardjito
Yuli Sulistiyowati, dr. Roni Naning, DSA ; dr. Suwono
1997 | Skripsi | S1 KEDOKTERANInfeksi saluran pernapasan akut (ISPA) masih merupakan salah satu penyebab tingginya angka kematian dan kesakitan pada bayi dan balita di Indonesia. Penelitian ini bersifat retrospektif dengan cara cross sectional survey yang bertujuan untuk mengetahui gambaran tentang pola penatalaksanaan ISPA pada Balita di subbagian medis fungsional (SMF) Anak RSUP Dr. Sardjito. Data diambil dari kartu catatan medik penderita baik dari poliklinik maupun instalasi rawat inap II periode 1 Januari 1995-31 Maret 1995. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jumlah balita penderita ISPA ialah sebanyak 413 anak dengan penderita pneumonia sebanyak 0,5%, bukan pneumonia 99,5% dan tidak terdapat pneumonia berat. Dari jumlah tersebut 53% adalah laki-laki dan 47% anak perempuan. Terdapat 317 (76,75%) anak mendapatkan antibiotic dan 315 anak diantaranya adalah penderita ISPA bukan pneumonia yang sebagian besar tidak memerlukan antibiotic. Antibiotik yang paling sering digunakan adalah amoksisilin (66,6%). Dengan demikian penggunaan antibiotik dalam penatalaksanaan ISPA tersebut tidak rasional. Obat-obat selain antibiotic yang banyak digunakan ialah antihistamin (23,5%), analgetik antipiretik (20,1%) dan ekspektoran mukolitik (15,7%).
Kata Kunci : Infeksi saluran pernapasan akut, balita, angka kematian