Laporkan Masalah

Resiliensi perempuan pesisir dalam menghadapi kerentanan studi kasus: Desa Khusus Bahuluang, Kepulauan Selayar

Arif Hermawan, Dr. S. Djuni Prihatin, M.Si.

2026 | Tesis | S2 PEMBANGUNAN SOSIAL DAN KESEJAHTERAAN

Kemiskinan kelompok perempuan berada pada tingkat yang parah dengan ratusan juta jiwa diprediksi hidup dalam kondisi kemiskinan ekstrem dibandingkan dengan laki- laki secara global. krisis iklim menjadi salah satu faktor yang memperburuk situasi kemiskinan perempuan. Fenomena ini sangat kontekstual dengan Indonesia yang menunjukkan tingkat kemiskinan kelompok perempuan secara konsisten lebih tinggi dibandingkan kelompok laki-laki. Kerentanan ini dialami secara ekstrem oleh perempuan di kawasan pesisir karena secara geografis kawasan pesisir lebih rentan. Hal ini yang mendasari dilakukan penelitian di Desa Khusus Bahuluang Kabupaten Kepulauan Selayar sebagai kawasan pesisir yang mencatatkan angka kemiskinan kabupaten/kota di atas rata-rata provinsi. Fokus penelitian diarahkan pada kelompok rentan yaitu ibu rumah tangga miskin di Desa Khusus Bahuluang, sebuah wilayah kepulauan terpencil yang unik karena berstatus sebagai desa tertinggal dengan keterbatasan akses, namun di sisi lain memiliki potensi sebagai desa wisata. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi fenomena tersebut dengan menggunakan metode kualitatif melalui pendekatan studi kasus yang mendalam dan naratiif dengan menggunakan kerangka teori penghidupan berkelanjutan (Sustainable Livelihood Framework) yang menganalisis keterkaitan antara konteks kerentanan, struktur kelembagaan, serta integrasi lima modal utama meliputi modal alam, fisik, finansial, sosial, dan manusia. Strategi penghidupan tersebut kemudian digunakan untuk mengukur tiga tingkatan resiliensi perempuan pesisir, yaitu kapasitas mengatasi (coping yang bersifat reaktif jangka pendek), kapasitas adaptif (adaptive yang bersifat proaktif jangka panjang berdasarkan pengalaman), dan kapasitas transformatif (transformative yang bersifat visioner untuk perubahan masif).

Hasil penelitian menunjukkan bahwa perempuan pesisir di Desa Khusus Bahuluang berhasil membangun sistem pertahanan kolektif dengan mengintegrasikan seluruh modal penghidupan secara paralel. Strategi bertahan hidup mereka mencakup diversifikasi mata pencaharian seperti mengolah hasil tani, memproduksi keripik ikan untuk dijual secara digital kepada wisatawan, memanfaatkan kearifan lokal, serta melakukan migrasi ekonomi ke pulau utama. Penerapan tingkatan resiliensi mewujud nyata di lapangan, di mana kapasitas coping terlihat saat merespon musim paceklik melalui pemanfaatan bantuan sosial pemerintah dan pinjaman arisan komunal. Kapasitas adaptive ditunjukkan secara proaktif melalui pengelolaan lahan tidur milik kerabat (sampu) untuk menanam komoditas pertanian berlapis. Sementara itu, kapasitas transformative tampak dari keputusan visioner membiayai anak kuliah ke kota demi memutus rantai kemiskinan antargenerasi. Kendati demikian, kapasitas perempuan pesisir di desa ini secara umum masih menunjukkan kecenderungan tertahan pada tingkat kapasitas adaptif, di mana mereka baru mampu menyesuaikan diri dengan tantangan sehari-hari, namun belum sepenuhnya mampu bertransformasi untuk hidup sejahtera dan lepas dari kemiskinan. Sebagai kesimpulan, ketahanan luar biasa yang ditunjukkan oleh perempuan pesisir di Desa Khusus Bahuluang nyatanya belum mampu membebaskan mereka dari jerat kemiskinan akibat adanya hambatan struktural yang masih mengakar kuat sehingga hal ini menjadi tanggung jawab utama bagi pemegang kebijakan untuk membuat kebijakan dan program yang mendukung keberlanjutan penghidupan perempuan di Desa Wisata.

Globally, poverty among women has reached a severe level, with hundreds of millions predicted to live in extreme poverty compared to men. The climate crisis further exacerbates this situation. This phenomenon is highly contextualized in Indonesia, where women's poverty rates are consistently higher than those of men. This vulnerability is experienced in its most extreme form by women in coastal regions, which are geographically more susceptible. This reality underpins this study, conducted in Bahuluang Special Village, Kepulauan Selayar Regency a coastal area with a poverty rate exceeding the provincial average. The research focuses on a vulnerable group, specifically poor housewives in Bahuluang Special Village, a remote island area characterized by a unique paradox: it holds the status of an underdeveloped village with severely limited access, yet possesses significant potential as a tourism village (desa wisata). This study aims to explore this phenomenon using a qualitative method with an in-depth, narrative case study approach. It utilizes the Sustainable Livelihood Framework to analyze the interconnectedness of the vulnerability context, institutional structures, and the integration of five core capitals: natural, physical, financial, social, and human capital. These livelihood strategies are subsequently employed to measure three levels of resilience among coastal women: coping capacity (short-term, reactive), adaptive capacity (long-term, proactive, and experience-based), and transformative capacity (visionary, aimed at massive change).

The results demonstrate that coastal women in Bahuluang Special Village have successfully established a collective defense system by integrating all livelihood capitals in a parallel manner. Their survival strategies encompass livelihood diversification, such as processing agricultural yields, producing fish chips marketed digitally to tourists, leveraging local wisdom, and engaging in economic migration to the main island. The operationalization of these resilience levels manifests clearly in the field; coping capacity is observed in their responses to lean seasons through the utilization of government social assistance and communal lottery-based loans (arisan). Adaptive capacity is proactively demonstrated through the management of uncultivated land belonging to relatives (sampu) to cultivate multi-layered agricultural commodities. Meanwhile, transformative capacity is evident in visionary decisions to finance their children's higher education in urban areas to break the cycle of intergenerational poverty. Nevertheless, the capacity of coastal women in this village generally tends to remain confined to the adaptive level, where they are capable of adjusting to daily challenges but are not yet fully able to transform their lives to achieve prosperity and permanently escape poverty. In conclusion, the remarkable resilience displayed by coastal women in Bahuluang Special Village has ultimately proven insufficient to liberate them from the traps of poverty due to deeply entrenched structural barriers. Consequently, it is a primary responsibility for policymakers to formulate policies and programs that actively support sustainable livelihoods for women in tourism villages.

Kata Kunci : Resiliensi, Perempuan Pesisir, Kerentanan, Desa Wisata, Krisis Iklim.

  1. S2-2026-537288-abstract.pdf  
  2. S2-2026-537288-bibliography.pdf  
  3. S2-2026-537288-tableofcontent.pdf  
  4. S2-2026-537288-title.pdf