Penilaian Kondisi dan Kajian Sisa Umur Bangunan Baja Dome Penyimpanan Batu Bara Akibat Korosi (Studi Kasus: PLTU di Pesisir Selatan Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah)
PERMATA AMANDA DE NOVIN, Angga Fajar Setiawan, S.T., M.Eng., Ph.D.; Prof. Ir. Iman Satyarno, M.E., Ph.D.
2026 | Tesis | S2 Teknik Sipil
Korosi pada
struktur baja merupakan salah satu penyebab utama penurunan kapasitas dan umur
layan bangunan industri, khususnya pada bangunan dome penyimpanan batu bara
yang beroperasi di lingkungan pesisir dengan tingkat korosivitas tinggi. Degradasi akibat korosi menyebabkan
kehilangan ketebalan elemen struktur yang berpotensi menurunkan kinerja dan
keandalan bangunan. Penelitian
mengenai penilaian korosi pada struktur baja telah berkembang dengan
memanfaatkan berbagai metode, termasuk inspeksi visual, Non-Destructive
Testing (NDT), dan analisis numerik. Namun demikian, sebagian besar
penelitian masih mengevaluasi metode-metode tersebut secara terpisah, sehingga
belum memberikan gambaran yang komprehensif mengenai hubungan antara kondisi
aktual struktur, degradasi elemen, kapasitas struktur, dan sisa umur layan.
Oleh karena itu, diperlukan suatu pendekatan yang mengintegrasikan aspek-aspek
tersebut untuk mendukung pengambilan keputusan pemeliharaan secara lebih
efektif.
Penelitian ini mengkaji
kondisi eksisting struktur baja melalui inspeksi visual berdasarkan ASTM D610,
dokumentasi menggunakan drone, serta pengujian Non-Destructive Testing
menggunakan Ultrasonic Thickness Gauge dan Coating Thickness Gauge.
Analisis meliputi pemetaan Integrated Corrosion Grade (ICG), evaluasi
kehilangan ketebalan, analisis kapasitas struktur menggunakan SAP2000, serta
estimasi sisa umur berdasarkan kehilangan ketebalan, kapasitas struktur, dan
metode Remaining Useful Life (RUL) sesuai faktor modifikasi ISO 15686.
Hasil penelitian
menunjukkan bahwa sebagian besar elemen struktur berada pada kategori korosi
ringan hingga sedang, sedangkan elemen diagonal (P-3) mengalami degradasi
paling tinggi. Kehilangan ketebalan maksimum terjadi pada elemen P-3 sebesar
1,59 mm (25,77%). Estimasi sisa umur berdasarkan kehilangan ketebalan
menunjukkan sisa umur elemen berkisar 10–20 tahun, sedangkan evaluasi
menggunakan SAP2000 menunjukkan struktur mulai memasuki kondisi kritis pada
tahun ke-16 dan semua elemen mulai kritis pada tahun ke-23 akibat peningkatan PMM
ratio, jumlah elemen overstress, dan lendutan. Metode RUL berdasarkan ISO 15686 menghasilkan
estimasi sisa umur layan bangunan sekitar 8 tahun. Berdasarkan hasil tersebut,
direkomendasikan penerapan pemeliharaan berbasis kondisi (condition-based
maintenance), inspeksi berkala, dan sistem coating yang sesuai untuk
mempertahankan keandalan serta memperpanjang umur layan struktur.
Corrosion of steel structures is one of the primary
causes of reduced structural capacity and service life in industrial
facilities, particularly arched steel roof structures of coal storage buildings
operating in highly corrosive coastal environments. Corrosion-induced
degradation leads to thickness loss, which adversely affects structural
performance and reliability. Research on corrosion assessment has advanced
through various approaches, including visual inspection, Non-Destructive
Testing, and numerical analysis. However, these methods are generally applied
independently, providing limited understanding of the relationship between the
actual structural condition, thickness degradation, structural capacity, and
remaining service life. Therefore, an integrated assessment approach is
required to support more effective condition-based maintenance decision-making.
This
study employed visual inspection based on ASTM D610, drone-assisted
documentation, and Non-Destructive Testing using an Ultrasonic Thickness Gauge
and a Coating Thickness Gauge. The collected data were analyzed through Integrated
Corrosion Grade (ICG) mapping, thickness loss evaluation, structural capacity
assessment using SAP2000, and remaining service life estimation based on
thickness degradation, structural capacity, and Remaining Useful Life (RUL)
method incorporating the ISO 15686 modification factors.
The
results indicate that most structural members exhibited light to moderate
corrosion, whereas the diagonal member (P-3) experienced the most severe
degradation. The maximum thickness loss was 1.59 mm (25.77%) in member P-3.
Thickness loss analysis predicted a remaining service life of 10–20 years for
the affected members, while the SAP2000 analysis indicated that the structure
would reach its initial critical condition in year 16, with all members
becoming critical by year 23 due to increasing PMM ratios, the number of
overstressed members, and structural deflections. The ISO 15686-based RUL
assessment estimated an overall remaining service life of approximately 8
years. These findings support the implementation of condition-based
maintenance, periodic inspections, and appropriate protective coating systems
to maintain structural reliability and extend the service life of steel
structures.
Kata Kunci : korosi, kehilangan ketebalan, laju korosi, pemeriksaan non-destruktif, sisa umur pakai, struktur baja dome