Institutionalization of Tolerance Education: A Comparison of Monoreligious and Multireligious Education Policies in Indonesia and England
Jonathan Midkiff, Dr. Mohammad Iqbal Ahnaf; Dr. Michael Quinlan
2026 | Tesis | S2 Agama dan Lintas Budaya
Pendidikan agama merupakan komponen penting dalam pembentukan sikap terhadap keberagaman agama. Struktur sistematis pendidikan agama yang ditetapkan oleh pemerintah nasional menjadi kerangka penting bagi bagaimana agama diajarkan. Penelitian-penelitian sebelumnya telah mengkaji hubungan antara pendidikan agama dan toleransi, tetapi belum membandingkan kebijakan nasional yang mengatur pengintegrasiannya ke dalam sistem sekolah. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dan membandingkan kerangka kebijakan pemerintah di Indonesia dan Inggris, dengan menekankan bagaimana kedua negara mengonseptualisasikan dan mempromosikan toleransi beragama. Penelitian ini menganalisis definisi atau implikasi toleransi dalam dokumen kebijakan, pengorganisasian pendidikan agama, serta dampak faktor-faktor tersebut terhadap perwujudan toleransi di ruang kelas. Penelitian ini menggunakan analisis dokumen kualitatif terhadap peraturan perundang-undangan, kerangka kurikulum, dan publikasi pemerintah yang signifikan dari kedua negara. Penelitian ini dibingkai dan didukung oleh Teori Kontak, Teori Kompetensi Antarbudaya, dan konsep Pendidikan Agama Inklusif. Indonesia memprioritaskan pengembangan identitas keagamaan melalui pendidikan agama monoreligius, dengan sedikit kesempatan terorganisasi untuk interaksi antaragama. Inggris menggunakan pendekatan multireligius non-konfesional yang mendorong peserta didik untuk mempelajari dan memahami berbagai kepercayaan serta sudut pandang. Perbedaan-perbedaan ini menciptakan jalur yang berbeda bagi pertumbuhan toleransi beragama. Temuan penelitian ini menunjukkan bagaimana perbedaan struktur dan kebijakan memengaruhi peluang untuk mempromosikan toleransi. Penelitian ini bertujuan untuk memperkaya wacana tentang pengembangan pendidikan agama dalam masyarakat pluralistik.
Religious education (RE) is a key component in the formation of attitudes toward religious diversity. The systematic structure of religious education instituted by national governments lays an important framework for how religion is taught. Previous studies have examined the relationship between religious education and tolerance, but they do not compare national policies dictating its incorporation into the school system. This study analyzes and compares the governmental policy frameworks of Indonesia and England, emphasizing their conceptualizations and promotion of religious tolerance. This study analyzes the definitions or implications of tolerance in policy documents, the organization of religious education, and the effects of these factors on the manifestation of tolerance in the classroom. This study utilizes a qualitative document analysis of significant legislation, curriculum frameworks, and governmental publications from both nations. This research is framed and supported by the Contact Theory, Intercultural Competence Theory, and concepts of Inclusive Religious Education. Indonesia prioritizes the development of religious identity through monoreligious education, offering few organized opportunities for interreligious interaction. England takes a non-confessional, multireligious approach that encourages people to learn about and understand different beliefs and points of view. These differences create different paths for the growth of religious tolerance. The findings show how differences in structure and policy affect the chances of promoting tolerance. The research aims to enhance the discourse on the advancement of religious education in pluralistic societies.
Kata Kunci : pendidikan agama, toleransi, kebijakan pemerintah, religious education, tolerance, government policy