Laporkan Masalah

Strategi peningkatan penggunaan transportasi umum melalui sistem Congestion Charging

IRZA, T. Robby, Dr.Ir. Heru Sutomo, M.Sc(ENG)

2005 | Tesis | Magister Sistem dan Teknik Transportasi

Karakteristik lalulintas di Kota Yogyakarta bersifat lalulintas tercampur dan melebihi kapasitas pada beberapa ruas jalan, pertumbuhan rata-rata kendaraan pribadi dan transportasi umum yang terdata pada Pusat Studi Transportasi dan Logistik (Pustral UGM, 2003) sebesar 4,04 % dan 7 % pertahun, sementara terjadi penurunan jumlah penumpang yang menggunakan transportasi umum sebesar 3 % pertahun dan faktor muat rata-rata per kendaraan 41%. Fakta di lapangan mencerminkan rendahnya kualitas pelayanan dan tidak tersedianya aksesbilitas transportasi umum dari asal ke tujuan perjalanan menyebabkan daya tarik penggunaan transportasi umum yang semakin menurun, sehingga perlu adanya upaya untuk mengalihkan penggunaan kendaraan pribadi ke penggunaan transportasi umum. Pendekatan dalam meningkatkan penggunaan transportasi umum dilakukan dengan pembebanan finansial yang berupa biaya kemacetan bagi pengguna kendaraan pribadi. Data yang digunakan dalam penentuan biaya kemacetan diperoleh dari survey moving vehicle methode dan data untuk pembentukan pemodelan dalam simulasi penerapan biaya kemacetan yang meliputi asal tujuan perjalanan; volume lalulintas; peta jaringan jalan diperoleh dari laporan akhir studi pola jaringan transportasi jalan kota Yogyakarta tahun 2003 oleh Pustral UGM. Metoda pengolahan data untuk menentukan besaran biaya kemacetan dilakukan berdasarkan selisih antara biaya sebenarnya yang ditanggung oleh pengguna jalan ketika berada di dalam lalulintas yang mengalami kemacetan dan biaya perjalanan yang diperkirakan pengguna jalan pada kecepatan bebas tanpa adanya kemacetan di ruas jalan yang sama, biaya kemacetan yang dihasilkan dibedakan berdasarkan jenis kendaraan dan masing-masing ruas jalan yang dilaluinya. Pelaksanaan penarikan biaya kemacetan dilakukan di zona berbayar, penetapan zona berbayar berdasarkan pada lokasi penerapan biaya kemacetan yang menghasilkan jumlah kendaraan pribadi terbesar yang akan berpindah menggunakan transportasi umum melalui simulasi dengan perangkat lunak EMME/2. Metoda pembebanan yang digunakan dalam simulasi adalah variable demand auto assignment berdasarkan faktor pemilihan moda di dalam persamaan bimodal logit biner nisbah yang membandingkan antara biaya keseluruhan perjalanan dengan menggunakan transportasi umum terhadap kendaraan pribadi. Hasil dari simulasi menjelaskan, akibat penerapan biaya kemacetan (congestion charging) akan menghasilkan jumlah kendaraan pribadi yang berpindah ke angkutan umum (auxiliary transit) bervariasi berdasarkan lokasi penerapan biaya kemacetan. Biaya Kemacetan tebesar dibebankan kepada pengguna mobil penumpang adalah Rp.2.300,- dan pengguna sepeda motor Rp. 575,- apabila melalui ruas jalan Malioboro. Penerapan biaya kemacetan pada zona berbayar menghasilkan 30,67 % dari total kendaraan di jaringan jalan Kota Yogyakarta akan berpindah ke angkutan umum apabila penerapan pada area jaringan jalan Malioboro-Senopati-Mayor Suryotomo- Mataram.

The transport characteristic in Yogyakarta city is mixed traffic and has been overloaded on some road links. In 2003, the Pustral from University of Gadjah Mada mentioned that the average growth of private vehicle and public transport was 4,04 % and 7% per year, meanwhile there was decrease in public transport passenger which was 3% per year and the average load factor of each vehicle was 41%. This fact reflected that the service quality was still low and the lack of accessibility for public transport from origin to destination caused the attractiveness of public transport decreased. The approach in increasing the use of the transport of the public was done with the financial loading that took the form of the congestion charge for the user of the private vehicle. The data used in determining congestion charge was received from moving vehicle methode survey and the data for the model formation in the simulation of the congestion charging that covered the origin destination of the trip; volume of traffic; map of road network received from the final report on the study road transport network pattern of Yogyakarta city in 2003 by Pustral UGM. The analysis method in determining congestion zone was based on the difference between the actual cost charged to other road users during traffic jam and the perceived travel cost on free flow speed without traffic jam in the same road. The rate of congestion charge was distinguished based on vehicle type and road type. That congestion charge was disbursed by private vehicle users at entry point of charging zone based on the location of congestion charging resulting the biggest auxiliary transit or biggest number of private vehicle users which would use public transport through the simulation with software EMME/2.The loading method used in the simulation was variable demand auto assignment based on the modal choice factor in the equation of bimodal ratio logit binary that compared between the generalized cost by using public transport against the private vehicle. The result of congestion charge system simulation shown that the consequence of congestion charging would result various auxiliary transit number based on applied location scenario. The biggest congestion charge to passenger car at Malioboro was Rp.2.300,- while for motorcycle rider was Rp. 575,-. The congestion charging on the congestion zone would produce 30,67 % from the total vehicle in Yogyakarta City road that would move to the public transport if it was implemented in road network zone of Malioboro-Senopati-Mayor Suryotomo- Mataram.

Kata Kunci : Transportasi Umum,Pemilihan Moda,Congestion Charging, Public transport; congestion charging, auxiliary transit


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.