Analisis geometrik dan perkerasan lentur landas pacu serta dimensi landas hubung Bandar Udara Adisutjipto Yogyakarta
ANGGOROWATI, Veronica Diana Anis, Ir. H. Wardhani Sartono, M.Sc
2005 | Tesis | Magister Sistem dan Teknik TransportasiBandar Udara Adisutjipto dewasa ini dituntut lebih eksis menimbang perkembangan di segala bidang di Kota Yogyakarta yang terkenal dengan sebutan Kota Pelajar, Kota Wisata, Kota Budaya, dan sebagainya. Sehingga diharapkan Bandar Udara Adisutjipto diharapkan mampu memberikan pelayanan yang optimal di dalam penyelenggaraan transportasi udara untuk pesawat terbang tipe B 737-400 secara peoptimalan kinerja operasional dengan menganalisis bagian bandar udara seperti geometrik dan perkerasan lentur landas pacu serta dimensi landas hubung, hal ini diupayakan untuk menarik pelajar dan wisatawan asing memasuki kawasan Kota Yogyakarta. Untuk menunjang hal tersebut maka landas pacu diusahakan dianalisis tebal perkerasaanya dan diperpanjang. Untuk menambah panjang landas pacu ini memerlukan kawasan yang lebih luas pula, sehingga landas pacu juga harus dianalisis mengenai arah tata letaknya. Metode yang akan digunakan dalam penganalisisan ini adalah Metode FAA (Federal Aviation Administration) dan Metode STBA (Structure Technique des Bases Airenness). Dari hasil analisis diperoleh usability factor arah tata letak landas pacu 92.6022% untuk kecepatan angin 10 knots sesuai dengan kelas Bandar Udara Adisutjipto sekarang, hal ini berarti usability factornya <95% dan jika menggunakan pesawat terbang tipe B 737-400 maka diperoleh usability factor 99.7384% untuk kecepatan angin 20 knots dengan runway direction tetap, namun pada kecepatan angin 13 knots dengan pesawat terbang yang sama diperoleh usability factor <95% juga yaitu sebesar 92.0170%. Kemudian panjang landas pacu menjadi 3.000 m, sedangkan lebar landas pacu tetap yaitu 45 m. Ketebalan landas pacu dengan metode FAA pada setiap STA tidak memerlukan overlay. Jika menggunakan metode STBA mengalami penambahan ketebalan, pada STA 1 perlu penambahan 24,0 cm dari 74,0 cm; pada STA 2 perlu penambahan 19,5 cm dari 78,5 cm; pada STA 3 perlu penambahan 6,0 cm dari 92,5 cm. Untuk analisis dimensi taxiway, lebar taxiway eksisting 23,0 m; bila menggunakan pesawat terbang tipe B 737-400 dari metode FAA, Aiplane Characteristics Boeing, dan STBA diperoleh lebar taxiway 15,0 m. Sehingga pada dasarnya pesawat terbang tipe B 737-400 dapat optimal kinerja operasionalnya hingga 20 tahun mendatang
Available in Fulltext
Kata Kunci : Bandar Udara,Landas Pacu dan Landas Hubung,Perkerasan Lentur