Peran krusial ruang terbuka publik sangatlah penting sebagai penunjang kehidupan sosial masyarakat dan pemberi dampak ekologis pada kawasan kota. Namun, menghadirkan ruang tersebut di Kota Yogyakarta menjadi tantangan besar, mengingat permasalahan keterbatasan lahan dan kondisi kota yang padat, di samping adanya amanat nasional untuk menyediakan 30% ruang terbuka hijau yang belum tercapai. Kondisi ini membuat pengadaan ruang terbuka publik baru menjadi sangat kompleks, melihat adanya tantangan dari aspek teknis, pembiayaan, hingga administrasi. Oleh karena itu, penelitian ini menawarkan sebuah paradigma yang menggeser fokus dari 'menambah ruang baru' menjadi 'mengoptimalkan desain ruang yang telah ada' berdasarkan cara pengunjung memanfaatkannya sehari-hari.
Penelitian ini berfokus pada 32 ruang terbuka hijau publik (RTHP) yang tersebar di seluruh Kota Yogyakarta. Berbeda dari ruang publik skala besar, RTHP memiliki interaksi yang erat dengan lingkungan permukiman warga. Melalui pendekatan kualitatif yang terbagi dalam fase deskriptif dan rasionalistik, data dikumpulkan melalui observasi dan pemetaan perilaku (behavioral mapping) untuk memahami pola aktivitas pengunjung. Selanjutnya, temuan dari pemetaan perilaku dianalisis menggunakan metode Activity Relationship Analysis untuk mensintesis alternatif desain dan tata letak. Hasil akhir penelitian ini berupa arahan desain dan tata letak fasilitas yang dapat menjadi panduan bermanfaat bagi para perancang dalam merumuskan konsep desain ruang terbuka publik yang lebih responsif dan berbasis bukti.
The crucial role of public open spaces is essential for supporting the social life of communities and providing ecological impacts to urban areas. However, providing such spaces in Yogyakarta City presents a significant challenge, considering the problems of land scarcity and dense urban conditions, alongside an unmet national mandate to provide 30% green open space. This condition makes the procurement of new public open spaces highly complex, considering technical, financial, and administrative challenges. Therefore, this research offers a paradigm that shifts the focus from 'adding new spaces' to 'optimizing the design of existing spaces' based on how visitors use them daily.
This study focuses on 32 public green open spaces (RTHP) spread throughout Yogyakarta City. Unlike large-scale public spaces, RTHPs have a close interaction with residential neighborhood environments. Through a qualitative approach divided into descriptive and rationalistic phases, data was collected via observation and behavioral mapping to understand the patterns of visitor activities. Subsequently, the findings from the behavioral mapping are analyzed using the Activity Relationship Analysis method to synthesize alternative designs and layouts. The final result of this research is a set of facility layout design and guidelines that can serve as a beneficial guide for designers in formulating more responsive and evidence-based public open space concepts.
Kata Kunci :
ruang terbuka publik, RTHP , Yogyakarta, tata letak, aktivitas