Manajemen Risiko Usaha Kopra Di Kabupaten Buru
Hamsa Tomia, Dr. Ir. Lestari Rahayu Waluyati, MP; Ir. Any Suryantini, MM., Ph.D.
2026 | Tesis | S2 Magister Manj.Agribisnis
Produksi kopra merupakan salah
satu sumber mata pencaharian utama bagi rumah tangga pedesaan di Kabupaten
Buru, Provinsi Maluku, Indonesia. Namun, usaha ini menghadapi berbagai
ketidakpastian, termasuk fluktuasi produksi, volatilitas harga, akses pasar yang
terbatas, dan praktik pengolahan tradisional, yang dapat mengancam
keberlanjutannya. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tingkat risiko
produksi, harga, dan keuntungan dalam usaha kopra dan merumuskan strategi
manajemen risiko yang tepat. Penelitian ini dilakukan di Kabupaten Buru
berlokasi di Kecamatan Waplau dan Air Buaya menggunakan metode purposive
sampling untuk memilih 100 petani kopra. Tingkat risiko diukur menggunakan
Koefisien Variasi (CV), sedangkan metode House of Risk (HOR) digunakan
untuk mengidentifikasi, memprioritaskan, dan mengurangi sumber risiko utama.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat risiko produksi musim I (CV=0,35),
musim II (CV=0,33), musim III (CV=0,35), musim IV (CV=0,35) tergolong rendah, tingkat
risiko harga musim I (CV = 0,10), musim II (CV = 0,11), musim III (CV = 0,10), musim
IV (CV = 0,10) tergolong rendah, dan tingkat risiko keuntungan musim I
(CV=0,99), musim II (CV=0,50) tergolong tinggi, musim III (CV=0,46), musim IV (CV=0,48)
tergolong rendah. Delapan peristiwa risiko dan dua belas agen risiko
diidentifikasi, dengan enam agen risiko prioritas yang terdiri dari standar
penilaian produk yang lebih ketat, fluktuasi harga pasar, pengetahuan terbatas
tentang pengolahan kopra, kondisi iklim yang tidak dapat diprediksi, manipulasi
pasar oleh perantara, dan kekurangan tenaga kerja. Strategi mitigasi yang
paling efektif adalah pemantauan rutin intensitas pengasapan selama pengolahan,
diversifikasi produk berbasis kelapa, dan pembangunan fasilitas pengasapan
semi-permanen. Temuan ini memberikan panduan praktis bagi petani dan pembuat
kebijakan dalam memperkuat praktik manajemen risiko, meningkatkan kualitas
produk, meningkatkan nilai tambah, dan mendukung keberlanjutan dan ketahanan
jangka panjang industri kopra di Kabupaten Buru.
Copra production is a major source of livelihood for rural households in Buru Regency, Maluku Province, Indonesia. However, this business faces various uncertainties, including production fluctuations, price volatility, limited market access, and traditional processing practices, which can threaten its sustainability. This study aims to analyze the levels of production, price, and profit risks in the copra business and formulate appropriate risk management strategies. This study was conducted in Buru Regency, located in Waplau and Air Buaya Districts, using a purposive sampling method to select 100 copra farmers. The risk level was measured using the Coefficient of Variation (CV), while the House of Risk (HOR) method was used to identify, prioritize, and mitigate key risk sources. The results of the study indicate that the production risk levels of season I (CV=0.35), season II (CV=0.33), season III (CV=0.35), season IV (CV=0.35) are classified as low, the price risk levels of season I (CV = 0.10), season II (CV = 0.11), season III (CV = 0.10), season IV (CV = 0.10) are classified as low, and the profit risk levels of season I (CV=0.99), season II (CV=0.50) are classified as high, season III (CV=0.46), season IV (CV=0.48) are classified as low. Eight risk events and twelve risk agents were identified, with six priority risk agents consisting of stricter product grading standards, market price fluctuations, limited knowledge of copra processing, unpredictable climate conditions, market manipulation by intermediaries, and labor shortages. The most effective mitigation strategies are routine monitoring of smoking intensity during processing, diversification of coconut-based products, and construction of semi-permanent smoking facilities. These findings provide practical guidance for farmers and policymakers in strengthening risk management practices, improving product quality, increasing added value, and supporting the long-term sustainability and resilience of the copra industry in Buru Regency.
Kata Kunci : Kabupaten Buru; Kopra, Koefisien Variasi (CV), Manajemen Risiko, House of Risk (HOR) / Keywords: Buru Regency, Copra, Coefficient of Variation (CV), House of Risk (HOR), Risk Management