Laporkan Masalah

Pola pengelolaan hutan rakyat di kawasan perbukitan Menoreh Kabupaten Kulonprogo

SUPRIYANTO, Dr.Ir. Bondan Hermanislamet, M.Sc

2005 | Tesis | Magister Perencanaan Kota dan Daerah

Pengelolaan hutan rakyat yang selama ini tanpa jargon dan dukungan pemerintah, secara de facto telah terbukti mampu bertahan dan memberikan kontribusi terhadap berbagai aspek fungsi hutan yang selayaknya. Hal tersebut sangat bertolak belakang dengan kondisi hutan negara yang dikelola negara (Perhutani) dan pengusaha swasta (Pemegang Hak HTI). Kearifan dan pengetahuan tradisional masyarakat lokal, berdasarkan literatur adalah merupakan salah satu komponen penting dalam upaya pemanfaatan dan pengelolaan hutan rakyat. Penelitian ini berupaya untuk menemu-kenali dan memahami bagaimana pola pengelolaan hutan rakyat yang diusahakan oleh petani serta menjelaskan bagaimana pengaruhnya terhadap ekologi dan ekonomi masayarakat. Hal ini menjadi menarik apabila dikaitkan dengan kondisi alam setempat yang kurang subur dan termasuk kawasan lindung dan kawasan rawan bencana. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif analitik. Pengambilan sampel menggunakan metode sampel bertingkat dengan pertimbangan (stratified purposive sampling) dan strata yang digunakan adalah satuan lahan. Jumlah unit pengamatan lapangan sebanyak 71 titik dan sampel responden sebanyak 83 orang. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan dua cara, yaitu: (1) observasi dan penelitian langsung di lapangan, dan (2) wawancara dengan menggunakan pedoman wawancara dan daftar pertanyaan dengan petani pemilik hutan rakyat dan pihakpihak terkait. Analisis data menggunakan analisis tabulasi silang (cross tab) dan analisis deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara umum terdapat 2 (dua) pola pengelolaan hutan rakyat, yakni Pola Hutan Rakyat Murni dan Pola Hutan Rakyat Campuran (Agroforestry). Pola Agroforestri dapat dibedakan lagi menjadi 4 (empat) pola pengelolaan atas dasar kombinasi antara tanaman kayu-kayuan dengan tanaman pengisi yang dominan. Faktor fisik wilayah yang berpengaruh adalah ketinggian lahan dan faktor karakteristik sosial, ekonomi dan budaya adalah luas kepemilikan lahan, jumlah tanggungan keluarga dan pendapatan keluarga petani serta peranan kelompok tani hutan rakyat setempat. Penelitian ini juga menemukan bahwa pola hutan rakyat campuran (Agroforestry) selain memberikan manfaat terhadap ekologi dan ekonomi, juga dapat menimbulkan hambatan-hambatan terhadap ekologi dan ekonomi petani dalam penerapannya di lapangan.

Management of private forest through currently has neither jargon nor support from the government, de facto has proven to persist and contribute various function aspects of adequate forest function. It is contrast from the condition of state forest managed by the government and by private entrepreneurs through licences. Wisdom and traditional knowledge of local society is one of important components in the effort of using and managing the private forest. This research aim to identifications and description pattern of private forest management practiced by farmers, and also the relation between patterns of private forest with physical factors and social economic culture factors. It became interesting when it was related to the condition of local nature that was less fertile and was part of conservation area and an area that was prone to disasters. This research used descriptive analytical method by using stratified purposive sampling technique to determine field research unit and farmer respondent sample and the strata that was used was land unit There were 71 points of land units and respondent samples of 83 people. Information was collected through: (1) directly onsite observation and research, and (2) interview using interview guideline and question list to the farmers owning private forest and other involved parties. The analysis technique were a cross tab and descriptive analysis. The results show that, there were two patterns of private forest management, namely Pure Private Forest Management Pattern and Mixed Private Forest Management Pattern (Agro forestry Pattern). Agroforestry pattern could be differentiated into 4 (four) management patterns based on combination between trees and dominant fillers plantation. Physical factor which is influenced is the elevation of the land, while the social, economic, and cultural factors are the size of land property, numbers of family members, income and the role of the local private forestfarming group. The agro forestry pattern, other than beneficial ecologically and economically, might grow barriers to farmers’ ecology and economy in field.

Kata Kunci : Hutan Rakyat,Penataan Ruang,Pola Pengelolaan,attern of Private Forest Management, Agroforestry, Local Wisdom


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.