Laporkan Masalah

Efektivitas pelaksanaan kegiatan Program Pengembangan Prasarana Perdesaan (P2D) dengan Pola Kerjasama Operasional (KSO) :: Kasus Kabupaten Tabalong Kalimantan Selatan

SUBHAN, Dr. Yeremias T. Keban, MURP

2005 | Tesis | Magister Perencanaan Kota dan Daerah

Paradigma pembangunan bertumpu pada masyarakat yang dianut pemerintah saat ini merupakan upaya untuk meningkatkan partisipasi masyarakat dalam rangka pemberdayaan masyarakat. Paradigma tersebut diimplementasikan dengan mengeluarkan program-program pembangunan yang langsung menyentuh kebutuhan masyarakat, seperti dikelurkannya Program Pengembangan Prasarana Perdesaan (P2D). Program P2D yang dilaksanakan dengan menggunakan pola Kerjasama Operasional (KSO) dan Pelaksanaan Langsung (PL), merupakan upaya pemerintah untuk meningkatkan keterlibatan masyarakat dalam pengelolaan pembangunan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas pelaksanaan kegiatan dengan pola KSO pada program P2D di Kabupaten Tabalong, dan mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi efektivitas pelaksanaan kegiatan dengan pola KSO tersebut. Metode penelitian yang digunakan adalah deskritptif kualitatif dengan pendekatan deduktif rasionalistik. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa faktor komunikasi merupakan faktor yang sangat penting dalam pelaksanaan kegiatan tersebut. Efektifnya komunikasi yang dilakukan dalam tahap persiapan pelaksanaan dapat mempengaruhi efektifnya sumberdaya terutama sumberdaya manusia dan sikap pelaksana, serta efektifnya kinerja OMS dan masyarakat desa lokasi kegiatan. Hasil penelitian ini menggambarkan bahwa dilihat dari outputnya, pemakaian sumberdaya, adanya sikap yang positif dari pelaksana, dan koordinasi yang dilakukan, serta efektifnya kinerja OMS, memberikan kontribusi terhadap efektifnya pelaksanaan kegiatan pada program P2D dengan pola KSO ini. Kegagalan komunikator mengubah sikap atau pandangan masyarakat tentang pentingnya keterlibatan mereka sebagai pelaksana kegiatan, agar mereka mempunyai pengalaman dalam mengelola pembangunan, menyebabkan tidak efektifnya kinerja OMS terutama dalam pemakaian sumberdaya manusia dari OMS. Pelaksanaan kegiatan dengan pola KSO ini merupakan hal yang baru baik bagi masyarakat maupun kontraktor, maka efektivitasnya sangat dipengaruhi oleh adanya komunikasi yang efektif, sehingga orang-orang yang terlibat terutama masyarakat dapat memahami, mau serta mampu bekerjasama dan mengerjakan bagiannya, dengan demikian terjadi peningkatan pengetahuan dan pengalaman serta partisipasi mereka dalam pembangunan. Efektivitas ini juga dipengaruhi oleh adanya sikap yang positif dan koordinasi yang baik antar pelaksana, sehingga pelaksanaan berjalan lancar. Faktor lain yang juga mempengaruhi keterlibatan masyarakat sehingga pelaksanaan dengan pola KSO bisa efektif untuk mencapai hasil yang diinginkan adalah perlunya memahami pola fikir dan sosial ekonomi terutama pendapatan masyarakat sasaran. Hal ini perlu agar tidak terjadi penolakan masyarakat terhadap pelaksanaan kegiatan dengan pola ini.

The community-based development paradigm adopted by the government at present is an effort to enhance the community’s participation for the purpose of empowering community. The paradigm is implemented by establishing programs directly dealing with the community’s problems, such as the launching of Rural Infrastructure Development Program (P2D). The program implemented using Operational Cooperation (KSO) and Direct Implementation (PL) patterns was an effort of the government to improve the community’s participations in the management of development. The research was aimed at assessing the effectiveness of the implementation of the activity under KSO pattern in P2D programs in Tabalong Regency and revealing the factors which influenced the effectiveness. The research method employed was qualitative descriptive using rational deductive approach. The results of research showed that communication was a very important factor in the implementation of the project. The effectiveness of communication conducted in the preparation of the implementation might influence the effectiveness of resources, especially human resources and the implementators’ attitude as well as the effectiveness of OMS performance and rural people in the location of the project. The results revealed that, considering the output, the use of resources, the positive attitude of the implementators, the coordination performed, and the effectiveness of OMS performance made contributions to the effectiveness of the implementation of the project. The failure of communicator in changing the people’s attitude and belief about the importance of their involvement as the project’s implementators so that they have experiences in managing the development resulted in the ineffectiveness of OMS performance, especially in the employment of human resources. The implementation of project under KSO pattern was new both to people and contractors. Therefore, the effectiveness was strongly influenced by effective communication so that parties involved in the projects, especially the people would understand and would be willing to and be able to cooperate and fulfil their share. In this way, enhancement on their knowledge, experiences and participations would was made in the development. The effectiveness was also supported by the positive attitude and solid coordination among the implementators so that the implementations would run smoothly. Other factor that affected the people’s participation so that the implementation would become effective to produce desired effects was the necessity of understanding frame of thought and socio-economic conditions of people, especially the earnings of targeted community. It was urgent so as to evade the rejection of the people to the implementation of the project under the pattern.

Kata Kunci : Pembangunan,Partisipasi Masyarakat,Program P2D


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.