Analisis Kesenjangan Kompetensi dan Strategi Pengembangan Kapasitas Kepemimpinan Digital Aparatur Sipil Negara
Oki Kurniawan, Prof. Dr. Ahmad Maryudi, S.Hut., M.For.; Dr. Ir. Arnanto Nurprabowo, MP.
2026 | Tesis | S2 Mag.Studi Kebijakan
Transformasi digital pemerintahan menuntut kapasitas kepemimpinan yang tidak hanya mencakup literasi teknologi, tetapi juga kompetensi relasional, manajerial, dan kultural yang terintegrasi. Namun demikian, terdapat indikasi kesenjangan antara tuntutan kepemimpinan digital dan kapasitas aktual Aparatur Sipil Negara (ASN) dalam merespons transformasi tersebut. Penelitian ini bertujuan memetakan kesenjangan kompetensi kepemimpinan digital pejabat ASN, menjelaskan faktor dan konteks yang melatarbelakanginya, serta merumuskan strategi pengembangan kapasitas yang relevan bagi birokrasi Indonesia.
Penelitian menggunakan pendekatan mixed methods dengan desain sekuensial eksplanatoris (QUAN?qual). Fase kuantitatif dilakukan melalui survei terhadap 119 pejabat ASN alumni pelatihan kepemimpinan yang masih aktif menjalankan fungsi manajerial. Instrumen penelitian mengukur tingkat pemahaman, praktik aktual, dan kesenjangan pengetahuan-praktik (knowing-doing gap) pada enam dimensi e-leadership. Data dianalisis menggunakan statistik deskriptif dan gap analysis. Temuan kuantitatif selanjutnya diperdalam melalui wawancara semi-terstruktur dengan sembilan informan dan studi dokumentasi.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa skor pemahaman dan praktik aktual pada seluruh dimensi e-leadership berada di bawah acuan normatif instrumen. Analisis knowing–doing gap memperlihatkan perbedaan arah antara dimensi relasional dan teknis-manajerial. Dimensi relasional menunjukkan nilai negatif, sedangkan dimensi teknis-manajerial menunjukkan nilai sedikit positif. Skor pemahaman dan praktik secara keseluruhan berada pada rentang yang relatif berdekatan. Analisis berdasarkan level manajerial juga menunjukkan pola yang menyerupai kurva-U secara deskriptif, dengan kelompok middle management dalam sampel mencatat skor praktik relatif lebih rendah dibandingkan kelompok manajerial lainnya. Temuan kualitatif menunjukkan bahwa pola kesenjangan tersebut berkaitan dengan interaksi antara faktor ideologis dan budaya, kondisi struktural dan organisasional, sistem pembelajaran, serta lingkungan kelembagaan dan wilayah.
Berdasarkan sintesis temuan kuantitatif dan kualitatif, penelitian ini mengusulkan model pengembangan kapasitas kepemimpinan digital yang inklusif, sebagai adaptasi pendekatan pengembangan kapasitas multi-level dalam konteks birokrasi Indonesia. Model pengembangan kapasitas tersebut beroperasi melalui tiga pilar utama, yaitu reformasi ekosistem pembelajaran, penguatan kapasitas middle management, dan sinergi kebijakan inklusif. Temuan ini menegaskan bahwa pengembangan kapasitas kepemimpinan digital ASN tidak cukup dilakukan melalui pelatihan individual, tetapi perlu dihubungkan dengan dukungan organisasi, koordinasi kelembagaan, dan kesiapan ekosistem digital.
Kata Kunci : kepemimpinan digital, implementation gap, knowing-doing gap, pengembangan kapasitas, middle management