Laporkan Masalah

CAMPUR KODE DALAM KONTEN MEDIA SOSIAL: TUTURAN YOUTUBER INDONESIA DI LUAR NEGERI

Endang Mawarti, 1. Dr. Hayatul Cholsy, S.S., M.Hum.

2026 | Tesis | S2 Linguistik

Perpindahan penduduk antarnegara pada era globalisasi memicu lahirnya jaringan komunitas masyarakat Indonesia di berbagai belahan dunia. Perpindahan geografis ini membawa dampak pada terjadinya kontak bahasa yang berjalan secara kompleks. Kehadiran media sosial, khususnya platform YouTube, beralih fungsi menjadi ruang digital bagi Youtuber Indonesia di luar negeri untuk menavigasi identitas diri. Interaksi masyarakat multibahasa di ruang digital tersebut menimbulkan fenomena hibriditas kebahasaan yang berwujud gejala campur kode (code-mixing). Kajian sosiolinguistik memandang gejala ini sebagai dampak nyata dari adanya ketergantungan bahasa (language dependency) dan peleburan konteks (context collapse) antara ranah privat dan publik. Penelitian ini mengkaji praktik campur kode pada tuturan Youtuber Indonesia di luar negeri pada media sosial YouTube untuk menjelaskan pola adaptasi linguistik transnasional di era digital.
Penelitian ini bertujuan untuk: 1) mendeskripsikan bentuk penggunaan campur kode dalam tuturan konten media sosial Youtuber Indonesia di luar negeri; dan 2) mendeskripsikan faktor yang mempengaruhi penggunaan campur kode dalam kontesk kehidupan Youtuber Indonesia di luar negeri. Data pada penelitian ini berjumlah 135 data tutur hibrida yang dikumpulkan dari lima kanal YouTuber Indonesia di luar negeri pada rentang waktu 2024–2025. Data dikumpulkan melalui pendekatan kualitatif deskriptif dengan menerapkan metode simak dan catat menggunakan teknik purposive sampling. Analisis data dilakukan dengan menyintesis teori sosiolinguistik Suwito untuk klasifikasi bentuk campur kode dan teori Hoffman untuk identifikasi motivasi kebahasaan. Hasil analisis data disajikan menggunakan kombinasi metode formal (tabel distribusi frekuensi) dan metode informal (pemaparan deskriptif lugas).
Hasil penelitian menunjukkan bahwa bentuk penggunaan campur kode dalam tuturan media sosial Youtuber Indonesia di luar negeri didominasi oleh interaksi bahasa Indonesia–bahasa asing sejumlah 107 data, disusul bahasa Indonesia–bahasa daerah sejumlah 23 data, dan kombinasi ketiganya sejumlah 5 data. Berdasarkan jenisnya, campur kode luar (outer code-mixing) muncul secara dominan sejumlah 107 data, diikuti campur kode dalam (inner code-mixing) sejumlah 23 data, dan campur kode ganda (multiple code-mixing) sejumlah 5 data. Pada kategori lingual, penyisipan didominasi secara mutlak oleh kelas kata nomina sejumlah 82 data dan adjektiva sejumlah 33 data. Fenomena kebahasaan ini dipengaruhi oleh tujuh faktor penggerak utama, dengan persentase tertinggi dipicu oleh gaya bahasa, tren ragam konsumsi, dan media digital sejumlah 31 data, serta kebutuhan teknis dan keterbatasan kosakata sejumlah 24 data. Praktik campur kode tersebut berfungsi sebagai strategi komunikasi kreatif dan adaptif yang digunakan oleh Youtuber Indonesia di luar negeri.

Cross-border migration in the era of globalization triggers the emergence of Indonesian community networks worldwide. This geographical movement causes complex language contact. Social media, especially YouTube, now serves as a digital space for Indonesian YouTubers abroad to navigate their identity. Multilingual interaction in this digital space creates linguistic hybridity in the form of code-mixing. Sociolinguistic studies view this phenomenon as a clear impact of language dependency and context collapse between private and public areas. This study examines code-mixing practices in the utterances of Indonesian YouTubers abroad on YouTube to explain transnational linguistic adaptation patterns in the digital era.

This study aims to: 1) describe the forms of code-mixing used in social media content by Indonesian YouTubers abroad; and 2) describe the factors influencing code-mixing within the context of their lives abroad. The dataset contains 135 hybrid utterance entries collected from five Indonesian YouTuber channels abroad between 2024 and 2025. Data collection used a descriptive qualitative approach with listening and note-taking methods via purposive sampling. Data analysis synthesized Suwito's sociolinguistic theory to classify code-mixing forms and Hoffman's theory to identify linguistic motivations. The findings are presented through a combination of formal methods (frequency distribution tables) and informal methods (straightforward descriptive explanations).

The results show that code-mixing in the social media utterance of the Indonesian Youtubers abroad is dominated by Indonesian–foreign language interactions with 107 data. This is followed by Indonesian–local language interactions with 23 data, and a combination of all three with 5 data. By type, outer code-mixing dominates with 107 data, followed by inner code-mixing with 23 data, and multiple code-mixing with 5 data. At the lingual level, insertions are overwhelmingly dominated by nouns with 82 data and adjectives with 33 data. Seven main factors drive this linguistic phenomenon. The highest percentages are driven by language style, content consumption trends, and digital media with 31 data, alongside technical needs and vocabulary limitations with 24 data. These code-mixing practices function as a creative and adaptive communication strategy for Indonesian YouTubers abroad.

Kata Kunci : Sosiolinguistik, Campur Kode, Youtuber Indonesia, YouTube

  1. S2-2026-501010-abstract.pdf  
  2. S2-2026-501010-bibliography.pdf  
  3. S2-2026-501010-tableofcontent.pdf  
  4. S2-2026-501010-title.pdf