Laporkan Masalah

Partisipasi Pemuda dalam Pengelolaan Hutan Rakyat di Kelompok Tani Hutan Wanapaksi Desa Jatimulyo, Kecamatan Girimulyo, Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta

Josua Irvana Habeahan, Dr. Ir. Tri Atmojo, S.Hut., M.T., IPU, Dr. Dwi Laraswati, S.Si.

2026 | Skripsi | KEHUTANAN

Keterlibatan pemuda dalam pengelolaan hutan rakyat merupakan salah satu roda penggerak yang mendukung keberlanjutan pengelolaan kelompok. KTH Wanapaksi merupakan salah satu kelompok tani hutan yang melibatkan pemuda secara aktif dalam setiap kegiatan pengelolaannya sehingga membentuk tata kelola yang khas. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi pengelolaan hutan rakyat yang dilakukan oleh KTH Wanapaksi, menganalisis partisipasi pemuda dalam pengelolaan KTH Wanapaksi, dan menganalisis kondisi-kondisi yang memengaruhi partisipasi pemuda dalam pengelolaan tersebut. 

Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif melalui metode studi kasus. Data penelitian dikumpulkan melalui wawancara, observasi, dan studi dokumentasi  terhadap Ketua KTH, pengurus KTH, pemuda yang terlibat dalam KTH, pemuda di sekitar KTH, dan perangkat desa. Data dianalisis menggunakan model analisis data Miles dan Huberman untuk menjawab tujuan penelitian.

Hasil penelitian menunjukkan pada aspek kelola kawasan, KTH Wanapaksi telah melaksanakan kegiatan penataan batas, patroli kawasan, dan rehabilitasi hutan. Pada aspek kelola kelembagaan, KTH Wanapaksi telah menyusun peraturan dan kebijakan kelompok, rencana pengelolaan, dokumen administrasi, struktur kepengurusan, dan melaksanakan berbagai kegiatan penguatan kelembagaan. Pada aspek kelola usaha, KTH Wanapaksi mengembangkan usaha pemanduan, peternakan, dan perdagangan melalui UMKM. Partisipasi pemuda berada pada tangga kemitraan. Partisipasi tersebut menunjukkan bahwa seluruh anggota termasuk pemuda memiliki kedudukan yang setara dan berbagi tanggung jawab dalam proses pengambilan keputusan maupun pelaksanaan kegiatan KTH. Kondisi yang mendorong partisipasi pemuda meliputi kepedulian terhadap lingkungan, hobi memelihara burung, manfaat positif yang diperoleh dari kegiatan KTH, kesempatan memperluas relasi, peningkatan pengetahuan, dan ajakan dari orang tua. Kondisi yang menghambat partisipasi pemuda meliputi keragu-raguan dalam diri, kesibukan di luar kegiatan KTH, dan perbedaan pandangan antargenerasi. 


Youth involvement in community forest management is one of the driving forces supporting the sustainability of forest farmer groups. The Wanapaksi Forest Farmer Group (Kelompok Tani Hutan/KTH Wanapaksi) is one of the forest farmer groups that actively engages young people in all aspects of its management, creating a distinctive governance system. This study aims to identify the community forest management practices implemented by KTH Wanapaksi, analyze youth participation in the group's management, and examine the conditions influencing youth participation in these management activities.

This study employed a qualitative approach using a case study method. Data were collected through interviews, observations, and document analysis involving the head of KTH Wanapaksi, KTH administrators, youth participating in the KTH, youth living around the KTH, and village officials. The data were analyzed using the Miles and Huberman data analysis model to address the research objectives.

The results indicate that, in terms of forest area governance, KTH Wanapaksi has carried out boundary demarcation, forest patrols, and forest rehabilitation activities. Regarding institutional governance, KTH Wanapaksi has established group regulations and policies, developed a management plan, maintained administrative documents, organized a management structure, and implemented various institutional capacity-building activities. In terms of business governance, KTH Wanapaksi has developed guiding services, livestock farming, and trading businesses through micro, small, and medium enterprises (MSMEs). Youth participation was found to be at the partnership level. This level of participation indicates that all members, including young people, hold equal positions and share responsibilities in both decision-making processes and the implementation of KTH activities. The conditions encouraging youth participation include environmental awareness, a hobby of bird keeping, the positive benefits gained from KTH activities, opportunities to expand social networks, increased knowledge, and encouragement from parents. Meanwhile, the conditions hindering youth participation include self-doubt, commitments outside KTH activities, and differences in perspectives between generations.


Kata Kunci : Hutan Rakyat, Pengelolaan, Partisipasi, Pemuda.

  1. S1-2026-496602-abstract.pdf  
  2. S1-2026-496602-bibliography.pdf  
  3. S1-2026-496602-tableofcontent.pdf  
  4. S1-2026-496602-title.pdf