Tinjauan Kritis Keamanan Manusia pada Perempuan Nelayan terhadap Krisis Iklim di Pesisir Banten
Tia Mega Utami, Diah Kusumaningrum, S.I.P., M.A., Ph.D.
2026 | Tesis | S2 Ketahanan Nasional
Krisis iklim memengaruhi sumber kehidupan perempuan nelayan yang berdampak pada meningkatnya tanggung jawab dalam menjalankan peran produktif dan reproduktifnya. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis adaptasi krisis iklim yang dilakukan perempuan nelayan di pesisir Banten dalam meningkatkan keamanan manusia mereka. Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif di Kelurahan Banten, Kecamatan Kasemen, Kota Serang, Provinsi Banten. Data diperoleh berdasarkan wawancara mendalam dan dokumentasi bersama perempuan nelayan serta pemangku kepentingan. Analisis dilakukan menggunakan konsep keamanan manusia, krisis iklim, dan perdamaian positif Johan Galtung. Hasil penelitian menunjukkan bahwa adaptasi perempuan nelayan berkontribusi meningkatkan keamanan manusia. Pada freedom from fear, perempuan nelayan melakukan penyesuaian personal dan sosial dengan meninggikan rumah, memanfaatkan aksi iklim, serta penguatan solidaritas komunitas untuk mengurangi risiko dan memperkuat perlindungan kolektif. Pada freedom from want, perempuan nelayan mempertahankan sumber penghidupan melalui diversifikasi pekerjaan, pengelolaan pangan dan keuangan rumah tangga, serta negosiasi hasil tangkapan guna memenuhi kebutuhan dasar. Sementara pada freedom to live with dignity, perempuan nelayan mampu menentukan pilihannya sendiri, membagi kerja perawatan yang setara, dan terlibat dalam gerakan kolektif Bank Sampah Laut yang memperkuat identitas, partisipasi, dan pengakuan mereka di komunitas. Penelitian ini juga menyimpulkan bahwa adaptasi yang dilakukan bukan sekadar respons terhadap krisis iklim, melainkan berkembang sebagai pengetahuan lokal, modal sosial, dan aksi kolektif yang berkontribusi terhadap peningkatan keamanan manusia mereka. Namun, peningkatan tersebut belum cukup mewujudkan perdamaian positif, karena perempuan nelayan masih mengalami bentuk kekerasan langsung, struktural, dan kultural. Oleh karena itu, praktik adaptasi yang dikembangkan perlu dipandang sebagai potensi yang harus diakui, diberdayakan, dan diperkuat.
The climate crisis affects the livelihoods of women fishers and increases
their responsibilities in carrying out both productive and reproductive roles.
This study aims to analyze the climate crisis adaptation strategies of women
fishers in the coastal area of Banten and how these strategies improve their
human security. This study uses a qualitative method with a descriptive
approach. The analysis applies the concepts of human security, the climate
crisis, and Johan Galtung’s positive peace. The findings show that the
adaptation strategies of women fishers contribute to improving human security.
In terms of freedom from fear, women fishers make personal and social
adjustments by elevating their houses, applying their climate knowledge, and
strengthening community solidarity to reduce risks and enhance collective
protection. In terms of freedom from want, they maintain their livelihoods
through livelihood diversification, household food and financial management,
and negotiating the selling price of their catch to meet basic needs. In terms
of freedom to live with dignity, women fishers are able to make their own
decisions, promote a more equal distribution of care work, and participate in
the Bank Sampah Laut collective movement, which strengthens their identity,
participation, and recognition within the coastal community. The study
concludes that adaptation is not merely a response to the climate crisis but
has developed into local knowledge, social capital, and collective action that
contribute to improving the human security of women fishers. However, these
improvements are still insufficient to achieve positive peace because women
fishers continue to experience direct, structural, and cultural violence.
Therefore, the adaptation practices developed by women fishers should be
recognized, empowered, and strengthened.
Kata Kunci : perempuan nelayan, krisis iklim, keamanan manusia, perdamaian positif